
Oleh: dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FIAQUA
Semarang, wartaindonesianews.co.id - Nyeri tajam dari punggung bawah yang menjalar hingga ke kaki kerap membuat penderitanya sulit duduk, berdiri, bahkan tidur nyenyak. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai ischialgia atau linu panggul, yang umumnya dipicu oleh Hernia Nukleus Pulposus (HNP) istilah yang lebih populer disebut “saraf terjepit”.
Selama bertahun-tahun, pilihan terapi bagi pasien HNP cenderung terbatas: konsumsi obat pereda nyeri jangka panjang, fisioterapi rutin, atau menjalani operasi besar tulang belakang. Obat hanya meredakan gejala tanpa memperbaiki bantalan tulang yang rusak, sementara tindakan operasi membawa risiko komplikasi serta masa pemulihan yang tidak singkat.
Kini, pendekatan kedokteran regeneratif menghadirkan harapan baru melalui terapi sel punca mesenkimal dari sumsum tulang sendiri atau Autologous Bone Marrow Mesenchymal Stem Cell Therapy (BM-MSCs).
Bekerja dari Akar Masalah
Berbeda dengan obat anti-nyeri yang hanya “mematikan alarm”, terapi sel punca dirancang untuk memperbaiki sumber kerusakan.
1. Memperbaiki Bantalan Tulang (Kondrogenesis)
Bantalan tulang belakang memiliki aliran darah yang minim sehingga sulit sembuh sendiri. Sel punca berperan merangsang pembentukan kolagen dan jaringan tulang rawan baru, membantu mengembalikan elastisitas bantalan yang robek.
2. Menekan Peradangan (Anti-inflamasi Alami)
Saraf terjepit bukan hanya soal tekanan fisik, tetapi juga reaksi radang. Sel punca melepaskan protein anti-inflamasi yang membantu meredakan “badai radang” di sekitar saraf.
3. Mendukung Pemulihan Saraf (Neuroproteksi)
Sel punca juga menghasilkan faktor pertumbuhan yang membantu memperbaiki lapisan pelindung saraf yang rusak akibat tekanan berkepanjangan.
Tanpa Operasi Besar
Prosedur ini tidak memerlukan pembedahan terbuka. Dengan bantuan panduan radiologi (C-Arm), dokter menyuntikkan sel punca secara presisi ke:
Intradiskal – langsung ke bantalan tulang belakang yang rusak.
Epidural – ke area sekitar saraf untuk meredakan nyeri menjalar.
Jumlah sel yang diberikan terukur, umumnya 10–50 juta sel hidup per titik kerusakan. Dalam banyak kasus, tindakan cukup dilakukan satu kali.
Tren Global, Peluang di Indonesia
Terapi sel punca untuk HNP berkembang pesat di berbagai negara seperti Korea Selatan dan India, dengan laporan penurunan angka operasi tulang belakang. Di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa, pengawasan regulasinya ketat, namun studi klinis menunjukkan tingkat keamanan tinggi karena menggunakan sel dari tubuh pasien sendiri (autologous).
Di Indonesia, terapi ini mulai tersedia di pusat-pusat layanan intervensi tulang belakang. Biaya satu kali tindakan berkisar Rp90 juta hingga Rp200 juta, tergantung jumlah sel dan kompleksitas kasus. Meski tergolong investasi besar, banyak pasien mempertimbangkannya sebagai alternatif dibanding operasi fusi tulang belakang yang lebih invasif dan memerlukan pemulihan panjang.
Harapan Baru bagi Penderita HNP
Terapi sel punca bukan lagi wacana futuristik. Ia menjadi salah satu opsi nyata dalam pendekatan regeneratif modern.
Bagi penderita saraf terjepit yang ingin menghindari operasi besar, berkonsultasi dengan dokter spesialis mengenai terapi ini dapat menjadi langkah strategis untuk kembali bergerak tanpa dihantui nyeri berkepanjangan.
Pewarta : Nur S
0 Komentar