Breaking News

AI READY

Bangkit di Idulfitri, Terapi Sel Tubuh Sendiri Jadi Harapan Baru Medis Indonesia


Oleh : dr. H Agus Ujianto, M.Si, Med.,Sp.B., FISQUa. Direktur RSI Sultan Agung Semarang

Semarang WINews - Momentum Hari Raya Idulfitri tidak hanya dimaknai sebagai kembalinya manusia pada kesucian secara spiritual, tetapi juga menjadi refleksi kebangkitan kesehatan dari sisi biologis.

Halini disampaikan oleh dr. H. Agus Ujianto. M.Si . Med.,Sp.B., FISQUa. dalam gagasannya tentang perkembangan terapi bedah biologis autologus di Indonesia.

Dalam dunia medis modern, pendekatan pengobatan kini mulai bergeser dari metode bedah konvensional menuju terapi berbasis sel tubuh sendiri atau autologus.

Konsep ini sejatinya bukan hal baru, karena telah diperkenalkan sejak era keemasan kedokteran Islam oleh tokoh besar seperti Ibnu Sina dan Ar-Razi, yang menekankan pentingnya kemampuan alami tubuh dalam proses penyembuhan.

Menurut dr. Agus, puasa selama Ramadan memiliki dampak ilmiah berupa proses autofagi, yaitu mekanisme alami tubuh dalam membersihkan sel rusak dan memperbaiki sistem metabolisme.

Kondisi ini dinilai sangat ideal untuk mendukung terapi regeneratif modern seperti penggunaan sel punca (stem cell) dari tubuh pasien sendiri.
“Idulfitri bukan hanya kembali suci secara spiritual, tetapi juga secara biologis tubuh berada dalam kondisi optimal untuk pemulihan,” ujarnya.
Dalam praktiknya, terapi ini memanfaatkan sel punca autologus yang diambil langsung dari tubuh pasien, seperti melalui sumsum tulang, kemudian digunakan kembali tanpa proses laboratorium yang kompleks. Metode ini dinilai lebih aman karena mempertahankan sifat alami sel.

Sejumlah penelitian internasional telah membuktikan efektivitas terapi ini. Uji klinis seperti The BALI Trial menunjukkan keberhasilan dalam menangani penyakit pembuluh darah kritis, sementara publikasi di Endocrine Journal mengungkap manfaatnya dalam pengobatan diabetes dan autoimun.

Selain itu, terapi ini juga terbukti mampu membantu pemulihan pasien stroke serta gangguan saraf, hingga perbaikan sendi pada kasus osteoarthritis melalui teknik injeksi langsung.

Namun demikian, perkembangan pesat di tingkat global belum sepenuhnya diikuti di dalam negeri. Banyak pasien Indonesia justru memilih berobat ke luar negeri, seperti ke Malaysia, yang telah lebih dulu mengembangkan pusat terapi sel punca.

Padahal, secara regulasi, Indonesia telah memiliki dasar hukum melalui Undang-Undang Kesehatan terbaru. Hanya saja, aturan teknis dinilai masih belum adaptif terhadap perkembangan teknologi medis terkini.

Dr. Agus menekankan pentingnya langkah pemerintah untuk segera menghadirkan regulasi khusus terkait terapi sel autologus dengan manipulasi minimal.

Hal ini dinilai krusial agar tenaga medis dalam negeri dapat mengembangkan inovasi tanpa hambatan, sekaligus menekan arus pasien ke luar negeri.
“Ini bukan sekadar isu medis, tetapi juga kemandirian bangsa dalam pelayanan kesehatan,” tegasnya.
Dengan semangat Idulfitri sebagai titik kebangkitan, terapi berbasis sel tubuh sendiri diharapkan menjadi masa depan dunia medis Indonesia menggabungkan kearifan kedokteran Islam dengan teknologi modern demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pewarta: Nur S

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close