Breaking News

Audio Reader
Speed:

Tradisi Nyadran Suran 10 Muharam di Situs Cagar Budaya Adisara Banjarnegara, Warga Gelar Doa Bersama untuk Leluhur dan Negeri

 fotoJejak Dakwah Islam, Cerita Tutur Sunan Kalijaga, serta Semangat Guyub Rukun Masyarakat Glempang

BANJARNEGARA, WINews – Ratusan warga memadati Komplek Situs Cagar Budaya Adisara di Desa Glempang, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, pada Kamis (25/6/2026) bertepatan dengan 10 Muharam 1448 Hijriah. Mereka mengikuti tradisi Nyadran Suran dan Mbabar Riwayatan (Wilujengan) yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, refleksi spiritual, serta penguatan persaudaraan antarwarga.

Sejak pagi hari, kawasan situs yang berada di tengah lingkungan pedesaan tersebut dipenuhi masyarakat yang datang membawa berkat dan aneka hidangan kenduri. Estimasi peserta yang hadir mencapai sekitar 100 hingga- 200 warga, terdiri atas tokoh agama, sesepuh desa, kaum ibu, pemuda, dan masyarakat umum dari lingkungan sekitar.

Suasana penuh kekeluargaan terlihat ketika warga duduk lesehan di bawah rindangnya pepohonan, mengikuti rangkaian tahlil, doa bersama, pembacaan riwayat sejarah Islam, hingga kenduri yang menjadi bagian penting dari tradisi Nyadran Suran.

Nyadran Suran, Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Bagi masyarakat Desa Glempang, Nyadran Suran bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Tradisi ini menjadi sarana menjaga hubungan antara generasi sekarang dengan para pendahulu yang telah berjasa membangun kehidupan masyarakat.

Selain menjadi momentum silaturahmi, kegiatan tersebut juga menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda agar mengenal sejarah, menghormati leluhur, serta memahami nilai-nilai keislaman yang berkembang selaras dengan budaya Jawa.

Tradisi yang dilaksanakan setiap bulan Sura tersebut hingga kini tetap bertahan di tengah perubahan zaman, menjadi simbol kuat bahwa nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sejarah masih hidup di tengah masyarakat pedesaan.

Situs Ngadisara dan Cerita Tutur Dakwah Sunan Kalijaga

Komplek Situs Cagar Budaya Ngadisara memiliki posisi penting dalam memori kolektif masyarakat setempat. Selain dikenal sebagai kawasan yang menyimpan jejak sejarah lokal, situs ini juga dilingkupi berbagai cerita tutur yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, kawasan Adisara diyakini pernah menjadi salah satu tempat persinggahan atau petilasan yang berkaitan dengan perjalanan dakwah Kanjeng Sunan Kalijaga ketika menyebarkan agama Islam di wilayah pedalaman Jawa.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh penyebar Islam yang menggunakan pendekatan budaya, kesenian, dan tradisi lokal sehingga dakwah Islam dapat diterima masyarakat secara damai tanpa menghilangkan identitas budaya yang telah hidup sebelumnya.

Selain itu, sejumlah cerita lisan masyarakat juga mengaitkan kawasan Adisara dengan tokoh-tokoh yang dikenal dalam sejarah dan babad tanah Jawa seperti Retno Dumilah maupun Nawangsasi. Meski demikian, kisah-kisah tersebut lebih dikenal sebagai tradisi tutur dan warisan folklore yang hidup di tengah masyarakat serta terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Mengenang Hari Asyura dan Keteladanan Para Syuhada

Dalam rangkaian Mbabar Riwayatan, masyarakat diajak merenungkan berbagai peristiwa besar yang diyakini terjadi pada Hari Asyura atau 10 Muharam.

Di antaranya adalah diselamatkannya Nabi Musa AS beserta Bani Israil dari kejaran Firaun, berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS setelah banjir besar, serta keselamatan Nabi Yunus AS atas pertolongan Allah SWT.

Selain berbagai peristiwa tersebut, Hari Asyura juga menjadi pengingat atas Tragedi Karbala yang menimpa Sayyidina Husain bin Ali RA, cucu Rasulullah SAW, yang gugur sebagai syuhada dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Nilai-nilai pengorbanan, keteguhan iman, dan keberanian mempertahankan prinsip inilah yang menjadi refleksi spiritual masyarakat dalam menyambut bulan Sura.

Doa untuk Leluhur, Ahli Kubur, dan Keselamatan Bersama

Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan tahlil dan doa bersama yang dipimpin para tokoh agama setempat. Dalam suasana khusyuk, warga memanjatkan doa untuk para leluhur, ahli kubur, ulama, aulia, serta para syuhada yang telah mendahului.

Juru kunci Situs Ngadisara, Bapak Suwaryo, yang dikenal masyarakat sebagai salah satu keturunan garis keluarga yang selama ini merawat dan menjaga keberlangsungan situs tersebut, mengatakan bahwa tradisi Nyadran Suran merupakan warisan leluhur yang sarat nilai kebersamaan dan spiritualitas.

"Kegiatan ini bukan hanya untuk mengenang para leluhur, tetapi juga sebagai sarana bersyukur kepada Allah SWT, mempererat silaturahmi warga, serta mendoakan keselamatan masyarakat dan bangsa Indonesia," ujarnya.

Menurut Suwaryo, keberadaan Situs Ngadisara selama ini tidak hanya menjadi tempat bersejarah, tetapi juga menjadi ruang pemersatu masyarakat yang datang dengan semangat kebersamaan tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi.

Guyub Rukun dalam Balutan Sedekah Bumi

Semangat gotong royong tampak begitu kuat sepanjang kegiatan berlangsung. Kaum ibu menyiapkan hidangan kenduri dalam besek bambu beralas daun pisang, sementara para bapak dan sesepuh desa mempersiapkan rangkaian doa bersama.

Tradisi tersebut menjadi gambaran nyata nilai luhur masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi kebersamaan, musyawarah, dan saling berbagi.

Bagi warga Glempang, Nyadran Suran bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi sarana memperkuat hubungan sosial dan membangun harmoni kehidupan bermasyarakat.

Munajat untuk Banjarnegara, Jawa Tengah, dan Indonesia

Dalam penghujung acara, doa bersama dipanjatkan untuk keselamatan masyarakat Desa Glempang, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, hingga seluruh bangsa Indonesia.

Warga memohon agar negeri ini senantiasa dijauhkan dari bencana, perpecahan, konflik sosial, serta berbagai kesulitan yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat. Doa juga dipanjatkan untuk para pemimpin bangsa agar diberikan kesehatan, kebijaksanaan, kejujuran, dan kemampuan menjalankan amanah rakyat dengan sebaik-baiknya.

Harapan yang mengalir dari kawasan Situs Cagar Budaya Ngadisara pada 10 Muharam ini sederhana namun penuh makna: terwujudnya Indonesia sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, negeri yang damai, adil, makmur, serta senantiasa berada dalam limpahan rahmat dan ampunan Allah SWT.

Ketika doa usai dipanjatkan, berkat kemudian dibagikan kepada seluruh warga yang hadir. Senyum, rasa syukur, dan kehangatan persaudaraan menyertai langkah mereka meninggalkan kawasan situs.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Tradisi Nyadran Suran di Situs Cagar Budaya Ngadisara tetap menjadi penanda bahwa sejarah, budaya, dan spiritualitas masih hidup dan berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Banjarnegara. Sebuah warisan yang tidak hanya menjaga hubungan manusia dengan masa lalunya, tetapi juga menjadi penuntun menuju masa depan yang lebih baik.

"Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara." Menjaga keindahan dunia dan menyingkirkan segala sifat angkara murka.

Oleh: Budy

Pewarta:  WINews

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close