
Palu, WINews – Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) terus mendorong keterlibatan dunia pendidikan dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan lahan suboptimal di Indonesia. Melalui berbagai program pelatihan yang dikembangkan, lembaga pendidikan regional di bidang biologi tropika itu menempatkan guru sebagai agen transformasi yang diharapkan mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan praktik di masyarakat.
Deputi Direktur Bidang Program SEAMEO BIOTROP, Dr. rer. nat. Doni Yusri, S.P., M.M., mengatakan strategi tersebut merupakan bagian dari roadmap program unggulan pengelolaan lahan suboptimal yang tengah dijalankan lembaganya.
Menurut Doni, Indonesia memiliki jutaan hektare lahan suboptimal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, dengan pendekatan dan pengelolaan yang tepat, lahan tersebut dapat menjadi sumber produktivitas baru sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
“Kalau dikelola dengan baik, lahan suboptimal bisa menjadi lahan yang produktif. Namun jika dibiarkan tanpa pengelolaan yang tepat, lahan tersebut juga berpotensi menimbulkan berbagai persoalan lingkungan bahkan risiko bencana,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah sebelumnya fokus menyusun model pelatihan dan pengembangan materi, SEAMEO BIOTROP kini memasuki tahap transfer pengetahuan kepada para pendidik. Guru dipilih karena dinilai memiliki peran penting dalam menyebarluaskan pengetahuan yang aplikatif kepada siswa maupun masyarakat sekitar.
“Guru bukan hanya agent of change, tetapi juga agen transformasi dan transfer pengetahuan. Karena itu kami melihat guru memiliki posisi strategis untuk menjembatani ilmu pengetahuan dengan praktik yang bisa diterapkan secara langsung,” katanya.
Salah satu implementasi program tersebut baru saja dilaksanakan melalui Pelatihan Nasional Pengelolaan dan Pemanfaatan Lahan Suboptimal yang digelar bersama Universitas Tadulako (Untad) di Palu, Sulawesi Tengah, pada 1–3 September 2026.
Kegiatan yang diikuti 30 peserta dari kalangan guru SMK, dosen, dan perwakilan instansi pemerintah itu menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman mengenai pengelolaan lahan suboptimal di berbagai daerah.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai konservasi lahan, teknik pembuatan biopori, identifikasi air dan tanah tercemar, pemanfaatan gulma sebagai bioindikator lingkungan, teknik berkebun adaptif, hingga pembuatan kompos dan pupuk hayati.
Doni menuturkan, materi yang diberikan tidak disusun secara umum, melainkan mempertimbangkan karakteristik lahan di berbagai daerah. Karena itu, pembahasan mencakup pengelolaan lahan basah, lahan kering, lahan gambut, lahan lereng, hingga pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai ruang pembelajaran pengelolaan lingkungan.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar peserta dapat menyesuaikan penerapan ilmu dengan kondisi wilayah masing-masing.
Lebih jauh, SEAMEO BIOTROP juga menyiapkan tahapan lanjutan setelah pelatihan selesai. Sekolah yang berhasil menerapkan hasil pelatihan akan dipantau dan dievaluasi untuk melihat dampak penerapan program di lapangan.
Sekolah-sekolah tersebut nantinya berpeluang menjadi lokasi percontohan pemberdayaan lingkungan yang melibatkan masyarakat sekitar, termasuk petani dan pekebun. Program ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara dunia pendidikan, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan pengelolaan sumber daya alam.
“Harapannya sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan lingkungan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitarnya,” jelas Doni.
Melalui pendekatan tersebut, SEAMEO BIOTROP berharap praktik pengelolaan lahan suboptimal dapat semakin luas diterapkan di berbagai daerah sekaligus mendorong lahirnya model-model pembelajaran lingkungan yang berkelanjutan berbasis sekolah.
Pewarta: Junaidi
0 Komentar