Oleh: DR. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med.,S.pB., FISQUa. Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang
WINews - Perkembangan kedokteran regeneratif dalam dua dekade terakhir membawa jaringan lemak manusia ke dalam perhatian serius dunia medis. Jaringan yang selama bertahun-tahun lebih dikenal sebagai tempat penyimpanan energi ternyata mengandung populasi sel dan komponen stromal yang memiliki potensi untuk diteliti dalam proses perbaikan jaringan.
Salah satu istilah yang banyak muncul dalam penelitian tersebut adalah Adipose-Derived Stromal/Stem Cells (ASCs) serta Stromal Vascular Fraction (SVF).
Namun, di balik potensi ilmiahnya, terdapat persoalan yang tidak kalah penting: bagaimana sel atau jaringan tersebut diproses, untuk tujuan apa digunakan, bagaimana standar keselamatannya, dan apakah tindakan tersebut telah memenuhi ketentuan regulasi kesehatan yang berlaku.
Karena itu, pembahasan terapi berbasis jaringan adiposa tidak cukup hanya melihat aspek manfaat medis. Status regulasi, kualifikasi fasilitas kesehatan, kompetensi tenaga medis, proses pengolahan, sterilisasi, pengawasan mutu, persetujuan pasien, serta dasar ilmiah terapi juga harus menjadi perhatian utama.
Dari Cangkok Lemak ke Kedokteran Regeneratif
Pemanfaatan jaringan lemak untuk kepentingan rekonstruksi sebenarnya bukan fenomena baru. Autologous fat grafting, atau pemindahan lemak dari tubuh pasien sendiri ke bagian tubuh lain, telah berkembang dalam praktik bedah rekonstruksi dan estetika sejak lebih dari satu abad lalu.
Pada periode awal, perhatian utama dokter adalah bagaimana mempertahankan jaringan lemak yang dipindahkan agar dapat bertahan hidup dan memperoleh suplai darah yang memadai.
Perkembangan ilmu biologi sel kemudian mengubah cara ilmuwan memandang jaringan adiposa.
Pada 2001, penelitian yang dipimpin Zuk dan kolega menjadi salah satu tonggak penting karena berhasil mengidentifikasi populasi sel multipoten dari aspirat jaringan lemak. Temuan tersebut kemudian mendorong berkembangnya penelitian mengenai sel stromal yang berasal dari jaringan adiposa.
Artinya, jaringan lemak tidak lagi dipandang hanya sebagai jaringan penyimpan energi. Di dalamnya terdapat berbagai jenis sel, termasuk sel stromal, sel endotel, perisit, fibroblas, sel imun, serta populasi sel progenitor.
Perkembangan ini kemudian melahirkan istilah Stromal Vascular Fraction atau SVF, yakni populasi sel heterogen yang diperoleh dari jaringan adiposa setelah melalui proses pemisahan tertentu.
Menurut pernyataan bersama International Federation for Adipose Therapeutics and Science (IFATS) dan International Society for Cellular Therapy (ISCT), SVF merupakan populasi yang kompleks dan bukan merupakan satu jenis sel tunggal.
ASCs dan SVF Bukan Istilah yang Sepenuhnya Sama
Salah satu hal yang penting bagi masyarakat adalah membedakan SVF dengan ASCs.
SVF merupakan kumpulan sel yang heterogen. Di dalamnya dapat ditemukan berbagai populasi sel, termasuk sel stromal, sel endotel, perisit, sel hematopoietik, fibroblas, makrofag, dan komponen lainnya.
Sementara itu, istilah ASCs umumnya merujuk pada populasi sel stromal yang berasal dari jaringan adiposa dan telah dikarakterisasi melalui pendekatan tertentu.
Perbedaan tersebut penting karena penggunaan istilah "stem cell" dalam promosi layanan kesehatan terkadang dapat memberikan kesan bahwa seluruh jaringan atau fraksi sel memiliki karakteristik dan efektivitas yang sama.
Padahal, secara ilmiah, identitas sel, metode isolasi, tingkat pemrosesan, viabilitas, komposisi populasi sel, dosis, rute pemberian, dan tujuan terapi merupakan faktor yang harus dinilai secara terpisah.
Apa yang Dimaksud dengan Minimal Manipulasi?
Istilah minimal manipulation atau minimal manipulasi merupakan konsep penting dalam regulasi produk berbasis sel dan jaringan.
Secara sederhana, minimal manipulasi berkaitan dengan apakah suatu proses pengolahan mempertahankan karakteristik relevan dari jaringan sebagaimana fungsi aslinya.
Namun, masyarakat perlu berhati-hati terhadap anggapan bahwa setiap tindakan seperti pencucian, penyaringan, sentrifugasi atau pemrosesan mekanis otomatis dapat disebut sebagai minimal manipulasi.
Tidak sesederhana itu.
Dalam kerangka FDA di Amerika Serikat, penilaian minimal manipulasi dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik jaringan yang relevan terhadap fungsi strukturalnya. FDA juga menggunakan konsep homologous use, yaitu penggunaan jaringan untuk fungsi dasar yang pada prinsipnya sama dengan fungsi jaringan tersebut pada donor.
Karena itu, status regulasi tidak semata-mata ditentukan oleh apakah sel berasal dari tubuh pasien sendiri.
Autologus Tidak Berarti Otomatis Bebas Regulasi
Istilah autologus berarti bahan biologis berasal dari pasien dan digunakan kembali pada pasien yang sama.
Konsep ini memang penting dalam terapi sel. Tetapi autologus bukan berarti setiap produk atau prosedur otomatis terbebas dari persyaratan regulasi.
Contoh penting dapat dilihat dari kebijakan FDA terhadap produk berbasis jaringan adiposa.
FDA pernah menyatakan dalam sejumlah tindakan penegakan hukum bahwa pemrosesan jaringan adiposa untuk menghasilkan SVF dapat dikategorikan sebagai lebih dari minimal manipulation apabila proses tersebut mengubah karakteristik relevan jaringan adiposa, meskipun produk akhirnya dimaksudkan untuk digunakan pada pasien yang sama.
Dengan demikian, istilah "dari pasien sendiri", "langsung digunakan", atau "same-day procedure" tidak boleh dipakai sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa suatu layanan telah memenuhi seluruh persyaratan hukum.
Mengapa Metode Pengolahan Menjadi Sangat Penting?
Jaringan adiposa dapat diproses menggunakan berbagai pendekatan.
Dalam penelitian, dikenal metode yang melibatkan pemrosesan mekanis maupun metode menggunakan enzim untuk memisahkan komponen seluler.
Literatur ilmiah menunjukkan bahwa isolasi SVF secara tradisional dapat melibatkan proses pencernaan enzimatik, termasuk penggunaan kolagenase, kemudian dilakukan pemisahan komponen melalui sentrifugasi. Pada saat yang sama, metode mekanis non-enzimatik juga terus dikembangkan dan diteliti.
Di sinilah istilah minimal manipulation harus digunakan secara hati-hati.
Sebuah prosedur tidak otomatis menjadi minimal manipulasi hanya karena menggunakan alat mekanis. Yang harus dinilai adalah apa yang dilakukan terhadap jaringan, karakteristik apa yang berubah, tujuan penggunaan produk, serta kerangka regulasi yang berlaku di negara tempat prosedur dilakukan.
Bagaimana dengan Regulasi di Indonesia?
Di Indonesia, terapi berbasis sel dan/atau sel punca merupakan bagian dari penyelenggaraan upaya kesehatan yang berada dalam kerangka regulasi kesehatan nasional.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa pengaturan mengenai terapi berbasis sel dan/atau sel punca termasuk dalam ruang lingkup pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024.
Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa terapi sel punca memiliki potensi risiko, antara lain terkait kondisi pasien, kualitas produk sel, metode, dosis dan rute pemberian. Karena itu, terapi harus dilakukan oleh dokter sesuai kompetensinya dan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang mendapatkan izin.
Kementerian Kesehatan juga menyebut bahwa sel punca yang digunakan di Indonesia harus memenuhi ketentuan mengenai sumber dan fasilitas pengolahannya, termasuk persyaratan perizinan fasilitas laboratorium pengolahan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa aspek legalitas tidak berhenti pada hubungan dokter dan pasien. Rantai pengolahan dan mutu produk sel juga menjadi bagian penting dari keselamatan pasien.
Penelitian Berbasis Layanan Harus Memiliki Koridor yang Jelas
Pengembangan terapi sel merupakan bidang yang terus berkembang. Karena itu, sebagian pendekatan masih berada dalam ranah penelitian translasi atau penelitian berbasis layanan.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa penelitian berbasis layanan merupakan penelitian translasi yang menerapkan terapi sel punca dan/atau sel terhadap pasien sebagai subjek penelitian dengan protokol tertentu untuk memastikan aspek keselamatan, efektivitas, dan standar etik sebelum ditawarkan sebagai pilihan pengobatan.
Dalam konteks tersebut, informed consent bukan sekadar tanda tangan formulir.
Pasien harus memperoleh informasi yang memadai mengenai tujuan tindakan, status terapi, potensi manfaat, risiko, alternatif terapi, kemungkinan keterbatasan bukti ilmiah, serta konsekuensi apabila prosedur tersebut masih berada dalam tahap penelitian.
Tantangan Keselamatan Pasien
Terapi berbasis sel memiliki prospek besar, tetapi bukan berarti bebas risiko.
Kementerian Kesehatan mencatat bahwa terapi sel dapat memiliki risiko seperti respons imun yang tidak diinginkan, toksisitas, hipersensitivitas, hingga potensi risiko tumor pada kondisi tertentu.
Risiko juga dapat muncul dari proses pengambilan jaringan, pengolahan, penyimpanan, transportasi, kontaminasi mikrobiologis, maupun pemberian kembali produk kepada pasien.
Karena itu, penerapan sistem tertutup, kontrol sterilitas, dokumentasi proses, penelusuran bahan, pengawasan mutu dan prosedur kedaruratan menjadi bagian penting dari tata kelola klinis.
Jangan Terjebak Klaim "Stem Cell" sebagai Jaminan Kesembuhan
Perkembangan teknologi regeneratif membuka peluang penelitian untuk berbagai kondisi medis. Namun, keberadaan sel stromal atau sel punca dalam suatu produk tidak otomatis membuktikan bahwa produk tersebut efektif untuk semua penyakit.
FDA sendiri mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap berbagai produk yang dipasarkan sebagai terapi regeneratif, termasuk produk yang berasal dari jaringan adiposa atau SVF.
Karena itu, pasien sebaiknya tidak hanya bertanya:
"Apakah ini stem cell?"
Tetapi juga:
- Apa sebenarnya produk atau bahan yang diberikan?
- Bagaimana proses pengolahannya?
- Apakah fasilitas pengolahannya memiliki izin?
- Siapa dokter yang melakukan tindakan?
- Apa indikasi medisnya?
- Apa bukti ilmiah untuk penyakit yang sedang ditangani?
- Apakah tindakan tersebut merupakan terapi standar atau bagian dari penelitian?
- Bagaimana prosedur pengendalian infeksi dan mutu dilakukan?
- Apa risiko dan alternatif terapinya?
- Bagaimana mekanisme pemantauan pasien setelah tindakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting dibanding sekadar label "stem cell".
Masa Depan Kedokteran Regeneratif
Terapi berbasis jaringan adiposa tetap menjadi salah satu bidang menarik dalam penelitian kedokteran regeneratif.
Penelitian mengenai SVF dan sel stromal adiposa terus berkembang, termasuk kajian mengenai kemampuan sel untuk berinteraksi dengan lingkungan jaringan dan menghasilkan berbagai faktor parakrin yang berpotensi berperan dalam proses perbaikan jaringan.
Namun, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan bukti ilmiah, keselamatan pasien, kompetensi tenaga medis, tata kelola fasilitas kesehatan dan kepatuhan terhadap regulasi.
Justru di sinilah konsep minimal manipulasi menjadi penting.
Minimal manipulasi bukan sekadar istilah teknis untuk mempercepat prosedur atau membenarkan penggunaan suatu produk. Ia merupakan bagian dari pertanyaan yang lebih besar mengenai seberapa jauh jaringan manusia telah diubah sebelum diberikan kembali kepada pasien dan bagaimana perubahan tersebut diperlakukan oleh kerangka hukum yang berlaku.
Kesimpulan
Sejarah terapi berbasis jaringan adiposa menunjukkan perjalanan panjang dari teknik cangkok lemak konvensional menuju penelitian kedokteran seluler dan regeneratif.
Penemuan populasi sel stromal dari jaringan adiposa pada awal 2000-an memperluas pemahaman ilmiah mengenai potensi jaringan lemak. Namun, perkembangan tersebut sekaligus melahirkan tantangan baru mengenai definisi produk, metode pengolahan, keselamatan, efektivitas, dan legalitas.
Yang perlu digarisbawahi adalah ASCs, SVF, jaringan adiposa yang diproses secara mekanis, dan produk sel yang telah melalui ekspansi kultur tidak dapat diperlakukan sebagai sesuatu yang sama secara ilmiah maupun regulasi.
Demikian pula, penggunaan secara autologus tidak otomatis berarti bebas dari persyaratan regulasi.
Bagi fasilitas pelayanan kesehatan, pendekatan paling aman adalah memastikan bahwa setiap tindakan memiliki dasar ilmiah yang memadai, dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten, menggunakan fasilitas dan proses pengolahan yang memenuhi ketentuan, memiliki dokumentasi serta SOP yang jelas, dan memberikan informasi yang transparan kepada pasien.
Pada akhirnya, kemajuan kedokteran regeneratif bukan hanya tentang seberapa canggih sebuah teknologi, tetapi juga seberapa aman, terbukti, transparan dan bertanggung jawab teknologi tersebut ketika diterapkan kepada manusia.
Pewarta: Nursoleh

0 Komentar