Tasikmalaya, wartaindonesianewd.co.id. -- Pemuda PUI Kota Tasikmalaya yang di motori oleh sodara FD menjadi salah satu inisiator dan orator penting dalam aksi bela guru honorer dibawah Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya dan Departemen Agama Kota Tasikmalaya. Aksi yang berlangsung pada tanggal 26 Januari 2026 dimulai dari pukul 12.30 WIB didepan Bale Kota Tasikmalaya itu berlangsung damai dan tentram.
Ribuan massa Guru honorer memadati jalanan depan Bale Kota Tasikmalaya mengkritisi kebijakan pemerintah yang sangat tidak bijak tentang sebuah fenomena kesenjangan sosial antara guru honorer dan karyawan MBG. Kejadian ini bukan hanya di Kota Tasikmalaya, tapi juga terjadi diseluruh Kawasan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Guru sekarang sudah dianggap tidak penting, padahal ilmu tanpa seorang perantara yaitu guru akan menjadi sebuah hal yang sia-sia.
Pada orasinya, sang orator Ketua Pemuda PUI Kota Tasikmalaya meminta pemerintah khususnya tidak tinggal diam dalam menghadapi sebuah redaksi kebijakan yang sangat tidak bijak ini. Ia juga berpesan agar para pemangku jabatan agar menggunakan hati dan pikirannya sesuai fungsinya yang Tuhan Berikan. Dipercaya menduduki jabatan bukan untuk dzolim tapi agar mampu menjadi sebuah jembatan atau fasilitator rakyat dan pejabat pembuat aturan. Menjadi wakil rakyat tidak hanya mewakili fasilitas kemewahannya tanpa menjadi wakil keresahan masyarakatnya.
Guru merupakan transporter ilmu yang seharusnya diberikan sebuah kenyamanan dan keamanan, agar dalam mengajar dan mendidik tidak terganggu dengan masalah dapur yang harus terus ngebul. Tapi, ini sangat ironis, sudah upahnya jauh dari standar UMR. Guru – guru honorer dibebani kewajiban yang sangat menumpuk, sama dengan guru – guru ASN bahkan dalam hal pekerjaan tidak sedikit yang melebihi pekerjaan guru – guru ASN. Tuntutan extra yang dibebankan pun sangat tidak manusiawi, bahkan bak seperti dijadikan sapi perah dunia Pendidikan.
Hal yang sangat lucu terjadi pada saat ini Adalah Ketika guru – guru honorer yang sudah bertahun – tahun lamanya mengabdi untuk mengamalkan ilmu yang hanya diberi upah jauh dibawah upah minimum regional (UMR) yaitu antara Rp. 150.000,-, Rp. 300.000,-, hingga Rp. 500.000,-. Miris bukan?
Kemirisan tersebut ternyata ditambah dengan sebuah redaksi yang sangat – sangat tidak berprikemanusiaan yaitu Ketika karyawan SPPG yang belum genap satu tahun sudah mendapatkan reward yang indah dari pemerintah yang katanya menjunjung tinggi Pancasila tapi pada kenyataannya jauh dari sebuah simbol yang hanya menjadi pajangan dan mungkin hanya akan berakhir menjadi sebuah hiasan dinding antara foto presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Tanpa sebuah pengamalan dan faktanya sekarang guru – guru honorer yang menjadi sebuah objek penderita atas kebijakan yang sangat tidak bijak ini.
Beban guru yang tidaklah ringan seharusnya diapresiasi dengan baik. Pada aksi tersebut FD juga menyuarakan betapa pentingnya peran guru dalam proses mentransfer dan mendidik murid disekolah. Peran guru honorer sekarang sudah dianggap tidak penting oleh pemerintah Indonesia pada umumnya, khususnya juga oleh pemimpin Kota Tasikmalaya.
Buktinya aksi massa yang seharusnya didengar langsung, diterima oleh waliKota Tasikmalaya, sodara Viman Alfarizi hanyalah diterima oleh seorang wakil waliKota Tasikmalaya. Sodara Rd. Dicky Chandranegara, seorang wakil walikota yang gentle berani menerima dan menghadapi langsung para peserta aksi. Bukti nyata guru – guru honorer sudah tidak penting lagi bagi seorang walikota Tasikmalaya.
Terlepas memiliki kepentingan diluar atau tugas seorang walikota, seharusnya ia dengan hati yang terbuka merasakan keprihatinan dengan mampu menemui dan menghadapi para massa yang terdiri dari guru – guru honorer tersebut. Tapi, berpositive thinking saja. Mungkin ia saudah tidak perduli dengan peran serta guru yang notabene hanya berstatus honorer.
Para orator juga menyampaikan pesan agar pemerintah mampu mendukung para guru honorer dengan memperhatikan kesejahteraannya baik yang dibawah Dinas Pendidikan maupun dibawah Departemen Agama yaitu guru – guru Madrasah. Pandanglah dan perlakukanlah mereka layaknya sebagai manusia, Jika benar pri kemanusiaan masih ada dinegara tercinta ini. Terkecuali pri kemanusiaan sudah pupus.
Pewarta: Amoy Purwanto

0 Komentar