
BREBES, wartaindonesianews.co.id - Ada pemandangan berbeda di sela-sela proyek TMMD Reguler ke-127 Kodim 0713/Brebes. Di saat alat berat mulai menyerah pada medan Desa Cikuya yang berubah menjadi kubangan lumpur, muncul "pasukan khusus" yang tak kenal lelah: Pasukan Angkong.
Bukan mesin canggih, melainkan kekuatan otot dan keseimbangan para prajurit TNI bersama warga yang menjadi penggerak utama. Dengan gerobak dorong sederhana, mereka meliuk-liuk di atas jalanan licin, memastikan setiap liter material cor sampai ke titik tujuan.
"Ini bukan soal alatnya, tapi soal semangatnya. Kalau mobil tidak bisa masuk, ya kita angkut manual. Jalan ini harapan warga, kami tak boleh berhenti hanya karena lumpur," ungkap Kapten Inf Suwarno dengan seragam yang mulai kecokelatan akibat percikan tanah.Momen ini menjadi bukti nyata bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat bukan sekadar slogan. Di Cikuya, ia mewujud dalam keringat yang jatuh bersamaan dengan deru roda angkong yang terus berputar demi masa depan desa yang lebih aksesibel.

BANJARHARJO-Memasuki minggu krusial, Satgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 0713/Brebes menghadapi tantangan alam berupa cuaca ekstrem. Hujan yang mengguyur wilayah Kecamatan Banjarharjo membuat akses distribusi material terkunci oleh lumpur tebal.
Namun, kendala teknis tersebut berhasil diatasi dengan penggunaan alat angkut manual atau angkong. Strategi ini diambil karena:
Fleksibilitas: Mampu melewati jalan setapak yang sempit.
Aksesibilitas: Menjangkau titik pengecoran yang tidak bisa dilalui truk material.
Efisiensi Waktu: Memastikan progres harian tetap mencapai target meski cuaca buruk.

Danki SSK, Kapten Inf Suwarno, menjelaskan bahwa penggunaan "Pasukan Angkong" adalah kunci agar kualitas jalan tetap terjaga sesuai spesifikasi tanpa ada waktu yang terbuang sia-sia. Hal ini membuktikan kesiapan Satgas dalam menghadapi segala kondisi di lapangan demi kesejahteraan warga Desa Cikuya.
BREBES-Warga Desa Cikuya kini boleh tersenyum melihat perjuangan tak kenal lelah personel Kodim 0713/Brebes. Meski medan di lokasi TMMD ke-127 tergolong "ekstrem" akibat musim penghujan, pembangunan jalan cor terus dikebut.
Senjata rahasianya? Sinergi dan sebuah angkong besi. Bagi para prajurit, mendorong angkong penuh material di atas jalan licin adalah bentuk ibadah dan pengabdian. Bagi warga, setiap putaran roda angkong itu adalah langkah menuju ekonomi yang lebih baik.
Harapan di Balik Beton:
Transportasi Lancar: Warga tak lagi terisolasi saat musim hujan.Ekonomi Meningkat: Hasil tani lebih mudah didistribusikan ke pasar.
Akses Pendidikan: Anak-anak sekolah tidak perlu lagi bergelut dengan lumpur setiap pagi.
Kapten Inf Suwarno menegaskan, hujan hanyalah tantangan kecil dibanding impian besar warga yang ingin memiliki jalan layak. Semangat ini memastikan bahwa TMMD bukan sekadar proyek fisik, melainkan jembatan hati antara TNI dan masyarakat.
Pewarta (Nur S)
0 Komentar