Breaking News

Audio Reader
Speed:

BUM Desa Margo Rahayu Bertahan di Tengah Tekanan Harga Telur dan Kenaikan Pakan

BUM Desa MR Sambong Ketapang 2025 - 2026

WINews | 
Banjarnegara -- Di tengah fluktuasi harga komoditas peternakan yang semakin menantang, Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Margo Rahayu, Desa Sambong, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara, terus berupaya mempertahankan usaha peternakan ayam ras petelur yang menjadi salah satu sumber ekonomi desa.

Saat ini, unit usaha peternakan tersebut mengelola sekitar 1.500 ekor ayam ras petelur yang telah memasuki usia produktif sekitar 25 minggu. Dengan tingkat produksi mencapai 85 persen, peternakan mampu menghasilkan telur berkualitas super yang dipasarkan kepada pengecer maupun konsumen secara langsung.

Namun di balik capaian produksi tersebut, pengurus dan pekerja BUM Desa menghadapi tantangan yang tidak ringan. Harga telur ayam yang terus mengalami penurunan hingga menyentuh kisaran Rp20.000 per kilogram berbanding terbalik dengan harga bahan baku pakan, khususnya jagung, yang justru kembali naik hingga Rp6.800 per kilogram.

Produktivitas Tinggi Belum Menjamin Keuntungan

Kondisi ini menjadi ironi bagi para peternak. Saat ayam berada pada masa produksi optimal, harga jual telur justru melemah. Situasi tersebut diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya pasokan telur di sejumlah daerah menjelang bulan Suro, sementara daya serap pasar belum mengalami peningkatan signifikan.

BUM Desa Margo Rahayu Bertahan di Tengah Tekanan Harga Telur dan Kenaikan Pakan 2

Produksi telur yang mencapai 85 persen sebenarnya menunjukkan performa yang cukup baik. Dengan populasi 1.500 ekor ayam, peternakan berpotensi menghasilkan lebih dari 1.200 butir telur setiap hari. Namun, tingginya produktivitas tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan ketika harga pasar berada di bawah tekanan.

"Kami harus bekerja lebih keras agar usaha tetap berjalan. Harga telur turun, tetapi biaya pakan terus naik," ungkap salah satu pengurus BUM Desa Margo Rahayu.

Strategi Efisiensi untuk Menekan Biaya Produksi

Menghadapi kondisi tersebut, pengurus dan pekerja menerapkan berbagai langkah efisiensi. Aktivitas pemanenan, penimbangan, hingga pembersihan telur dilakukan secara intensif bahkan hingga lembur agar kualitas produk tetap terjaga.

BUM Desa Margo Rahayu Bertahan di Tengah Tekanan Harga Telur dan Kenaikan Pakan 1

Tidak hanya itu, pada siang hari para pengelola juga turun langsung mencari pasokan jagung dari petani setempat. Strategi pembelian langsung dari petani dilakukan untuk memperoleh harga yang lebih kompetitif sekaligus memperpendek rantai distribusi bahan baku pakan.

Di sisi pemasaran, BUM Desa juga memilih menjual telur secara langsung kepada pengecer maupun konsumen akhir. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan margin keuntungan dibandingkan menjual melalui perantara.

Pendekatan tersebut menjadi bentuk adaptasi yang penting di tengah margin usaha yang semakin tipis akibat ketidakseimbangan antara harga jual telur dan biaya produksi.

Menjadi Pilar Ekonomi Desa

Keberadaan unit peternakan ayam petelur ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan usaha semata. Lebih dari itu, usaha yang dikelola BUM Desa berfungsi sebagai penggerak ekonomi lokal dengan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar serta menciptakan perputaran ekonomi di tingkat desa.

BUM Desa berfungsi sebagai penggerak ekonomi lokal

Selain menyerap tenaga kerja, keberadaan peternakan juga memberikan manfaat bagi petani jagung lokal karena menjadi salah satu pasar potensial bagi hasil panen mereka.

Model usaha seperti ini menunjukkan bagaimana BUM Desa dapat berperan sebagai instrumen pembangunan ekonomi desa yang terintegrasi, mulai dari sektor pertanian hingga peternakan.

Analisis Usaha: Tantangan dan Peluang

Dari sisi bisnis, kondisi saat ini menggambarkan tekanan yang sedang dialami banyak peternak ayam petelur di Indonesia. Komponen pakan umumnya menyumbang sekitar 70 persen biaya produksi, sehingga kenaikan harga jagung sangat berpengaruh terhadap keuntungan usaha.

Dengan produksi mencapai 85 persen, secara teknis performa peternakan BUM Desa Margo Rahayu tergolong baik. Tantangan utama bukan terletak pada produktivitas ayam, melainkan pada faktor eksternal berupa harga pasar dan biaya pakan.

Beberapa peluang yang dapat dipertimbangkan ke depan antara lain:

  1. Penguatan pemasaran langsung melalui jaringan konsumen tetap, warung, toko kelontong, hingga pasar tradisional.
  2. Diversifikasi produk, seperti telur kemasan premium, telur omega, atau telur curah dengan merek desa.
  3. Kemitraan dengan UMKM pangan yang membutuhkan pasokan telur secara rutin.
  4. Pengembangan pakan alternatif lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap jagung komersial.
  5. Pemanfaatan media digital untuk pemasaran telur langsung kepada konsumen rumah tangga.

Apabila harga telur kembali membaik dalam beberapa bulan mendatang, posisi BUM Desa Margo Rahayu berpotensi cukup kuat karena ayam saat ini berada pada fase produksi tinggi. Dengan manajemen biaya yang disiplin dan strategi pemasaran yang tepat, usaha peternakan ini masih memiliki prospek yang menjanjikan sebagai salah satu sumber pendapatan desa.

BUM Desa Margo Rahayu berpotensi cukup kuat

Di tengah tekanan harga dan naiknya biaya pakan, semangat pengurus serta pekerja BUM Desa Margo Rahayu menjadi bukti bahwa ketahanan ekonomi desa tidak hanya dibangun oleh modal, tetapi juga oleh kerja keras, inovasi, dan gotong royong masyarakat.

Pewarta: Nursoleh - Sumber: Budhy

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close