Oleh: Redaksi WINews

Tasikmalaya, WINews -- Di kaki perbukitan hijau wilayah Salopa, berdirilah sebuah desa yang namanya sederhana namun sarat makna: Mulyasari. Bagi sebagian orang, nama itu mungkin hanya rangkaian kata. Namun bagi warga, Mulyasari adalah kisah - tentang harapan, perjuangan, dan doa yang menembus kabut pagi.

Secara tutur turun-temurun, nama Mulyasari berasal dari dua kata: mulya yang berarti kemuliaan atau kesejahteraan, dan sari yang bermakna inti atau bunga kehidupan. 

Mitos yang berkembang di tengah masyarakat menyebutkan bahwa kawasan ini dahulu hanyalah hutan lebat yang jarang tersentuh manusia. Hutan itu dipercaya memiliki “penjaga gaib” yang tidak kasat mata.

Konon, pada masa silam, datanglah seorang tokoh sepuh yang dikenal sebagai Abah Jaga Rasa - seorang pengembara yang mencari tanah untuk membangun pemukiman baru. 

Ia tiba di wilayah yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Tasikmalaya dengan tekad membuka lahan demi kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya.

Warga meyakini, sebelum membuka hutan, Abah Jaga Rasa melakukan tapa dan doa selama empat puluh hari empat puluh malam. Pada malam terakhir, ia bermimpi melihat cahaya putih turun ke sebuah mata air yang jernih. 

Dari sanalah ia mendapat petunjuk bahwa tanah tersebut kelak akan menjadi tempat yang “mulya” dan mengeluarkan “sari” kehidupan bagi banyak orang.

Keesokan harinya, ia menemukan mata air yang sama seperti dalam mimpinya. Mata air itu hingga kini diyakini sebagai sumber keberkahan desa. 

Dari titik itulah pembukaan lahan dimulai. Anehnya, menurut cerita orang tua dahulu, tidak ada gangguan berarti selama proses pembukaan hutan - seolah alam telah merestui.

Mitos lain menyebutkan bahwa nama Mulyasari juga berkaitan dengan peristiwa gagal panen di kampung tetangga pada suatu masa. 

Saat desa-desa sekitar dilanda kekeringan, lahan di wilayah ini justru tetap subur. Padi menguning, sayuran tumbuh segar. Warga pun percaya, tanah ini memiliki “sari kemuliaan” yang dijaga oleh doa para leluhur.

Tentu, sebagai opini, kisah ini tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Namun dalam kacamata budaya, mitos bukan sekadar dongeng. 

Ia adalah identitas kolektif. Ia menjadi pengikat moral agar warga menjaga alam, menghormati mata air, dan hidup rukun satu sama lain.

Di tengah arus modernisasi, cerita tentang Abah Jaga Rasa dan cahaya putih mungkin terdengar kuno. Namun justru di situlah letak kekuatannya. 

Mitos mengajarkan bahwa kemuliaan tidak datang begitu saja --ia lahir dari laku, doa, dan kerja keras.

Mulyasari hari ini mungkin telah berubah. Jalan-jalan mulai diaspal, anak-anak menempuh pendidikan lebih tinggi, dan teknologi masuk hingga pelosok. 

Tetapi selama cerita asal-usul itu masih dituturkan dari serambi ke serambi, dari kakek ke cucu, desa ini akan selalu memiliki akar.

Karena sejatinya, sebuah desa bukan hanya soal batas wilayah administratif. Ia adalah kumpulan ingatan, keyakinan, dan harapan yang diwariskan. 

Dan dalam mitos Mulyasari, warga menemukan alasan untuk tetap menjaga kemuliaan dan sari kehidupan yang telah dititipkan para leluhur.

Pewarta: Red