
Foto: Gedung Pascasarjana Untad
Palu, WINews - Program Pascasarjana Universitas Tadulako untuk pertama kalinya menerapkan sistem Computer-Based Test (CBT) dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru jenjang magister (S2) dan doktoral (S3) tahun 2026. Kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan efisiensi bagi calon mahasiswa.
Ketua Pelaksana, Prof. Dr. Ir. I Wayan Sudarsana, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa penerapan CBT dilatarbelakangi oleh tingginya jumlah pendaftar dari luar daerah. Peserta tercatat berasal dari berbagai wilayah seperti Luwuk, Morowali, Gorontalo, hingga luar pulau seperti Bogor dan Kalimantan.
“Karena mayoritas peserta berasal dari luar daerah, kami memutuskan menggunakan sistem tes online agar lebih efisien dan tidak membebani peserta dengan biaya perjalanan,” ujarnya.
Melalui sistem ini, peserta tidak perlu datang langsung ke kampus setelah melakukan pembayaran pendaftaran. Ujian berbasis online dijadwalkan berlangsung pada 2–3 Mei 2026, sehingga peserta dapat menghemat biaya transportasi dan akomodasi.
Pada tahap seleksi tahun ini, tercatat 1.136 pendaftar, dengan 723 peserta telah menyelesaikan pembayaran dan mengikuti proses seleksi. Tingginya antusiasme terlihat dari sejumlah program studi yang telah mencapai kapasitas maksimal. Program doktor (S3) Pendidikan, misalnya, menerima lebih dari 30 peminat dari kuota 12 orang.
Lonjakan peminat juga terjadi pada Program Studi Kesehatan Masyarakat yang mencatat 86 pendaftar dari kuota 60. Sementara itu, Program Magister Kimia menunjukkan peningkatan signifikan, dari satu pendaftar pada tahun sebelumnya menjadi delapan orang pada tahun ini.
“Ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. CBT membuka peluang lebih luas bagi calon mahasiswa,” tambahnya.
Proses seleksi dilakukan secara komprehensif melalui kombinasi beberapa instrumen penilaian, meliputi Tes Potensi Akademik (TPA), kemampuan Bahasa Inggris (TOEFL/TOEP), wawancara, serta penilaian portofolio. Wawancara menjadi salah satu aspek penting untuk menggali komitmen dan kesiapan peserta dalam menempuh studi.
Untuk menjaga integritas ujian, panitia menerapkan sistem pengawasan ganda. Peserta diwajibkan menggunakan dua perangkat: satu perangkat utama untuk mengakses sistem CBT, serta perangkat tambahan melalui Zoom untuk memantau lingkungan sekitar.
Sebelum ujian dimulai, peserta diminta memastikan ruangan dalam kondisi steril tanpa kehadiran orang lain. Sistem ini juga dilengkapi pemantauan real-time serta aturan ketat, seperti kewajiban mengaktifkan kamera selama ujian berlangsung.
“Dengan dua sistem pengawasan ini, potensi kecurangan dapat diminimalkan secara signifikan,” jelasnya.
Panitia juga telah melakukan berbagai persiapan teknis, termasuk pelatihan penggunaan sistem CBT sejak 26 April serta pendampingan melalui grup WhatsApp guna membantu peserta mengatasi kendala teknis.
Secara umum, pelaksanaan simulasi berjalan lancar tanpa kendala berarti. Panitia menilai kesiapan sistem sudah optimal, sementara tantangan utama terletak pada adaptasi peserta terhadap teknologi.
Ujian dijadwalkan pada akhir pekan sebagai bentuk pertimbangan terhadap kondisi peserta yang sebagian besar merupakan pekerja, baik ASN maupun karyawan swasta. Selain itu, peserta dari daerah dengan keterbatasan jaringan juga memiliki peluang lebih baik mengakses internet stabil pada hari libur.
Ke depan, Universitas Tadulako berkomitmen untuk terus menggunakan sistem CBT dalam proses seleksi pascasarjana.
“Meski ini merupakan pelaksanaan pertama dan masih dalam tahap penyesuaian, kami optimistis sistem ini akan semakin baik dan stabil ke depan,” tutup Ketua Pelaksana.
Pewarta: Junaidi
0 Komentar