Prof Sutan Nasomal Soroti Dinamika Geopolitik Global
JAKARTA, WINews - Situasi geopolitik internasional dalam beberapa bulan terakhir terus menjadi perhatian berbagai kalangan. Ketegangan di sejumlah kawasan strategis dunia, persaingan ekonomi antarnegara besar, hingga perebutan pengaruh terhadap sumber daya alam global dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan politik internasional.
Menanggapi perkembangan tersebut, Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, menyampaikan pandangannya mengenai dinamika hubungan internasional yang menurutnya semakin kompleks di tengah munculnya berbagai blok ekonomi dan kekuatan baru dunia.
Menurut Prof. Sutan Nasomal, persaingan global saat ini tidak hanya terjadi dalam bidang militer, tetapi juga meluas ke sektor ekonomi, perdagangan, teknologi, energi, dan penguasaan sumber daya alam strategis. Ia menilai munculnya kelompok negara-negara BRICS menjadi salah satu faktor yang mengubah peta kekuatan ekonomi dunia.
BRICS Dinilai Mengubah Peta Ekonomi Global
BRICS yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, serta sejumlah negara baru yang bergabung dalam beberapa tahun terakhir, dinilai telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi alternatif yang mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap sistem perdagangan internasional.
Menurut Prof. Sutan, perkembangan pesat China dalam bidang teknologi, manufaktur, dan perdagangan global telah menciptakan persaingan yang semakin ketat dengan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.
"Persaingan ekonomi global saat ini semakin tajam. Negara-negara besar berlomba memperkuat pengaruhnya melalui teknologi, perdagangan, investasi, hingga penguasaan energi. Situasi ini perlu dicermati secara objektif karena dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh negara, termasuk Indonesia," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi China dalam berbagai sektor, mulai dari elektronik, kendaraan listrik, telekomunikasi hingga industri digital, telah memperkuat posisi negara tersebut dalam pasar global.
Perebutan Energi dan Sumber Daya Alam Jadi Sorotan
Prof. Sutan juga menyoroti konflik yang terjadi di sejumlah kawasan Timur Tengah dan wilayah lain yang kaya akan sumber daya energi. Menurutnya, minyak dan gas bumi masih menjadi komoditas strategis yang memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian dunia.
Ia menilai berbagai konflik geopolitik yang terjadi saat ini tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ekonomi global, termasuk akses terhadap sumber daya alam dan jalur perdagangan internasional.
"Ketika energi menjadi kebutuhan utama dunia, maka wilayah-wilayah yang memiliki cadangan minyak dan gas besar akan selalu menjadi perhatian berbagai kekuatan internasional," jelasnya.
Menurutnya, stabilitas kawasan Timur Tengah, Asia, Afrika, hingga Eropa Timur memiliki dampak langsung terhadap harga energi global, inflasi, serta ketahanan ekonomi berbagai negara.
Indonesia Diminta Menjaga Posisi Strategis
Dalam pandangannya, Indonesia perlu mempertahankan politik luar negeri yang bebas dan aktif sebagaimana amanat konstitusi. Ia mengingatkan agar pemerintah tetap mengedepankan kepentingan nasional di tengah meningkatnya rivalitas global.
Prof. Sutan menilai bahwa Indonesia memiliki kekuatan besar berupa sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk yang besar, serta posisi geografis yang strategis di kawasan Indo-Pasifik.
"Indonesia harus fokus memperkuat ketahanan pangan, energi, ekonomi, dan industri nasional. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kepentingan rakyat harus menjadi prioritas utama," tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara melalui tata kelola pemerintahan yang baik, transparan, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat.
Kemandirian Ekonomi Menjadi Kunci
Lebih lanjut, Prof. Sutan menekankan bahwa kemandirian ekonomi nasional merupakan faktor penting untuk menghadapi ketidakpastian global. Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam yang optimal dan berkeadilan dapat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan jangka panjang Indonesia.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk meningkatkan persatuan dan menghindari polarisasi yang dapat melemahkan daya tahan nasional di tengah tantangan global yang terus berkembang.
"Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu mengelola kekayaan alamnya untuk kemakmuran rakyat serta menjaga persatuan dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal," katanya.
Momentum Memperkuat Ketahanan Nasional
Pengamat menilai bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik dunia menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pembangunan sektor strategis, memperkuat investasi produktif, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperkokoh kedaulatan ekonomi nasional.
Dengan berbagai tantangan yang muncul di tingkat global, Indonesia diharapkan mampu mengambil peran sebagai negara yang menjaga stabilitas kawasan sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH – Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, serta Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS.
Pewarta: Rodi Ajat Subekti

0 Komentar