Foto: Rektor UNTAD, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng.,
Palu, WINews – Universitas Tadulako (UNTAD) terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) akademik melalui berbagai kebijakan strategis, salah satunya dengan meningkatkan insentif publikasi ilmiah internasional guna mempercepat lahirnya guru besar.
Komitmen tersebut disampaikan Rektor UNTAD, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., saat memberikan sambutan pada pelantikan Pengganti Antar Waktu (PAW) Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum Fakultas Teknik UNTAD di Ruang Rektor Universitas Tadulako, Selasa (9/6/2026).
Dalam arahannya, Rektor menegaskan bahwa percepatan kenaikan jabatan akademik dosen harus menjadi perhatian seluruh sivitas akademika. Menurutnya, pengembangan karier dosen perlu berjalan secara terukur dan berkelanjutan agar target peningkatan kualitas SDM perguruan tinggi dapat tercapai.
Ia menjelaskan terdapat konsep pengembangan karier akademik yang mendorong dosen untuk naik jabatan sesuai rentang waktu tertentu. Melalui skema tersebut, dosen diharapkan dapat mencapai jenjang guru besar dalam waktu yang lebih terencana.
"Asisten ahli harus menjadi perhatian bersama. Ada konsep rekomendasi A6, A8, dan A10. Artinya, enam tahun di asisten ahli sudah harus naik ke lektor, delapan tahun menjadi lektor kepala, dan sepuluh tahun sudah harus mencapai guru besar," ujar Amar.
Rektor juga menyoroti masih terbatasnya jumlah guru besar di lingkungan Perguruan Tinggi Negeri Baru (PTNB). Berdasarkan pembahasan bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia, jumlah profesor di PTNB dinilai masih jauh dari ideal.
Menurutnya, dari sekitar 36 perguruan tinggi negeri baru yang ada saat ini, jumlah guru besar secara keseluruhan baru berkisar 67 orang. Kondisi tersebut membuat rata-rata setiap perguruan tinggi hanya memiliki sekitar dua guru besar.
"Ini menjadi perhatian bersama karena guru besar memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi, pengembangan riset, dan akreditasi perguruan tinggi," katanya.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap percepatan lahirnya guru besar, UNTAD menyiapkan kebijakan baru berupa peningkatan insentif publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi.
Rektor mengungkapkan bahwa insentif untuk publikasi pada jurnal internasional bereputasi kategori Q1 dinaikkan secara signifikan dari Rp10 juta menjadi Rp30 juta. Sementara itu, publikasi pada jurnal Q2 akan memperoleh insentif Rp20 juta, jurnal Q3 sebesar Rp10 juta, dan jurnal Q4 sebesar Rp5 juta.
"Tadi baru kita siapkan kebijakannya. Untuk penulisan artikel ilmiah kita naikkan bantuan insentifnya. Yang menulis pada jurnal Q1, yang sebelumnya Rp10 juta, kita naikkan menjadi Rp30 juta," ungkapnya.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi dosen yang sedang mengejar jabatan guru besar, tetapi juga bagi para profesor yang telah menyandang gelar tersebut agar tetap produktif menghasilkan karya ilmiah.
"Ini bukan hanya untuk yang menuju guru besar, tetapi guru besar yang sudah ada juga harus tetap mempertahankan produktivitas publikasinya," tegasnya.
Melalui peningkatan insentif publikasi internasional dan penguatan pengembangan karier akademik dosen, UNTAD berharap jumlah guru besar terus bertambah sehingga mampu mendukung peningkatan kualitas pendidikan, akreditasi institusi, serta daya saing universitas di tingkat nasional maupun internasional.
Pewarta: Junaidi
Audio Reader
Speed:

0 Komentar