Breaking News

Audio Reader
Speed:

Tradisi Mengasah Cangkul di Area Makam Tetap Dilestarikan, Warga Dusun Domas Panjatkan Doa untuk Keselamatan dan Hasil Panen Melimpah



Foto : Tradisi mengasah cangkul di Kuburan oleh Warga Dusun Domas Klompok Tani Wana Jaya

BANJARNEGARA, WINews - Di tengah pesatnya perkembangan zaman, masyarakat Dusun Domas, Kabupaten Banjarnegara, masih mempertahankan sebuah tradisi turun-temurun yang sarat nilai budaya, spiritual, dan kebersamaan. Menjelang berakhirnya bulan Muharram, para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Wana Jaya kembali melaksanakan tradisi mengasah cangkul di area pemakaman desa, sebuah kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur.

Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan sekadar kegiatan mengasah alat pertanian. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi momentum untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT, mengenang jasa para leluhur, mempererat tali persaudaraan, serta menumbuhkan semangat gotong royong di kalangan warga.

Diawali Doa Bersama dan Ziarah Kubur

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama di area pemakaman yang dipimpin oleh sesepuh desa sekaligus kayim, Ustaz Muhammad Adnan. Dalam doa tersebut, warga memohon ampunan bagi para leluhur dan seluruh ahli kubur serta memanjatkan harapan agar musim tanam yang akan datang membawa keberkahan, keselamatan, dan hasil panen yang melimpah.

Usai doa bersama, warga secara bergotong royong membersihkan lingkungan makam. Suasana kebersamaan terlihat begitu kuat ketika masyarakat dari berbagai usia bahu-membahu merapikan area pemakaman sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.

Simbol Semangat Baru Menyambut Musim Bertani

Setelah kegiatan bersih-bersih makam selesai, para petani berkumpul untuk mengasah cangkul secara bersama-sama. Prosesi tersebut dipimpin oleh Ketua Kelompok Tani Wana Jaya, M. Ridwan.

Bagi masyarakat Dusun Domas, cangkul bukan sekadar alat kerja, tetapi simbol perjuangan petani dalam mengolah lahan dan mencari nafkah. Mengasah cangkul menjadi lambang kesiapan menyambut musim tanam dengan semangat baru serta ikhtiar untuk memperoleh hasil pertanian yang lebih baik.

Tradisi Warisan Leluhur yang Sarat Makna

Ustaz Muhammad Adnan menjelaskan bahwa tradisi mengasah cangkul di area makam telah berlangsung secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang dan terus dipertahankan hingga sekarang.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan bagian dari ritual yang bertentangan dengan ajaran agama, melainkan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kehidupan, kesehatan, dan rezeki yang diberikan kepada para petani.

"Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang terus kami lestarikan. Kami memulai dengan berdoa kepada Allah SWT dan mendoakan para pendahulu. Harapan kami, para petani selalu diberikan kesehatan, keselamatan, serta hasil panen yang melimpah," ungkapnya.

Harapan bagi Masa Depan Petani

Selain menjaga tradisi, masyarakat juga berharap perhatian terhadap sektor pertanian terus ditingkatkan. Menurut warga, tantangan yang dihadapi petani saat ini semakin besar, mulai dari perubahan iklim, biaya produksi yang meningkat, hingga fluktuasi harga hasil panen.

Masyarakat berharap pemerintah dan dinas terkait dapat menghadirkan berbagai program yang mendukung peningkatan kesejahteraan petani, seperti pembangunan infrastruktur pertanian, perbaikan irigasi, penyediaan pupuk yang memadai, hingga pendampingan teknologi pertanian modern.

Tradisi mengasah cangkul di Dusun Domas menjadi bukti bahwa nilai-nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, dan semangat bertani masih hidup di tengah masyarakat. Kearifan lokal seperti ini tidak hanya memperkuat identitas budaya desa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pertanian tetap menjadi salah satu penopang penting ketahanan pangan dan perekonomian daerah.

Pewarta: Nursoleh

Editor: WINews

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close