Breaking News

Audio Reader
Speed:

Dari Mustahik Menjadi Muzaki, Nuhwanto Bangun Usaha Mebel hingga Dipercaya Jadi Instruktur Baznas




BANJARNEGARA, WINews - Program pemberdayaan ekonomi tidak selalu berhenti pada pemberian bantuan. Ketika keterampilan, peralatan, pendampingan, dan kemauan untuk berkembang bertemu, bantuan tersebut dapat menjadi modal awal bagi penerima untuk membangun kemandirian ekonomi.

Kisah tersebut tercermin dari perjalanan Nuhwanto, warga Desa Kaliurip, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara. Berawal sebagai peserta pelatihan ekonomi produktif bidang pertukangan kayu yang diselenggarakan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Banjarnegara pada 2024, kini Nuhwanto mampu mengembangkan usaha mebel dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan.

Tidak hanya berhasil mengembangkan usaha, Nuhwanto kini juga dipercaya menjadi instruktur dalam pelatihan yang sebelumnya pernah ia ikuti.

Perjalanan tersebut menjadi gambaran bagaimana program peningkatan keterampilan dapat membuka peluang usaha sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Berawal dari Pelatihan Pertukangan Kayu

Perjalanan usaha Nuhwanto bermula ketika dirinya mengikuti pelatihan pertukangan kayu yang digelar BAZNAS Banjarnegara pada 2024.

Pelatihan tersebut memberinya kesempatan untuk meningkatkan keterampilan di bidang pengolahan kayu. Berbekal kemampuan yang diperoleh, ia kemudian memberanikan diri membangun usaha kerajinan kayu dengan nama “Seniki Pernik Kayu Banjarnegara.”

Usaha yang awalnya dirintis secara sederhana tersebut kemudian berkembang seiring bertambahnya pesanan.

“Dulu saya ikut pelatihan pertukangan kayu Baznas tahun 2024. Dari pelatihan itu saya bisa mengembangkan keterampilan dan memberanikan diri membuka usaha. Alhamdulillah sekarang usaha mulai berkembang,” kenang Nuhwanto saat ditemui, Senin (21/9/2026).

Produk yang dibuatnya cukup beragam. Mulai dari meja makan, kusen, pintu, talenan, tatakan masak berbahan limbah kayu hingga kandang merpati.

Saat dikunjungi, Nuhwanto bersama tiga karyawannya bahkan tengah menyelesaikan proses finishing kandang anak domba Batur yang dipesan pelanggan dari Tangerang.

Pesanan Meluas hingga Jakarta dan Tangerang

Perkembangan usaha membuat pemasaran produk Nuhwanto tidak lagi terbatas di wilayah Banjarnegara.

Ia memanfaatkan media sosial sebagai salah satu sarana promosi untuk memperkenalkan produk sekaligus menjangkau calon konsumen dari berbagai daerah.

Menurut Nuhwanto, produknya kini telah dipasarkan ke sejumlah wilayah, antara lain Sragen, Boyolali, Jakarta, Bekasi hingga Tangerang.

“Alhamdulillah produk kami diminati pasar. Pemasaran semakin luas, tak lagi terbatas di Banjarnegara, tetapi menjangkau berbagai daerah seperti Sragen, Boyolali, Jakarta, Bekasi, hingga Tangerang,” ujarnya.

Pertumbuhan permintaan tersebut turut berdampak pada kebutuhan tenaga kerja. Saat ini, Nuhwanto telah mempekerjakan tiga orang karyawan untuk membantu proses produksi.

Dengan demikian, usaha yang bermula dari keterampilan hasil pelatihan tersebut tidak hanya menjadi sumber pendapatan bagi dirinya, tetapi juga mulai menciptakan kesempatan kerja bagi orang lain.

Peralatan Bantuan Dikembangkan Menjadi Modal Usaha

Nuhwanto mengakui dukungan BAZNAS menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan awal usahanya.

Peralatan yang diperoleh melalui program tersebut kemudian dimanfaatkan dan dikembangkan kembali seiring meningkatnya jumlah pesanan.

Ia menilai, bantuan peralatan akan memberikan manfaat lebih besar apabila dibarengi dengan kemauan untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan pasar.

“Modal peralatan dari Baznas kita kembangkan lagi seiring pesanan yang meningkat,” ungkapnya.

Dari 20 peserta dalam angkatannya, Nuhwanto menjadi salah satu peserta yang mampu mengembangkan keterampilan pelatihan menjadi usaha yang terus berjalan.

Kini, posisi Nuhwanto bahkan berubah. Jika sebelumnya ia datang sebagai peserta pelatihan, saat ini ia dipercaya berbagi pengalaman sebagai instruktur bagi peserta baru.

“Saya juga berterima kasih kepada Baznas. Sekarang saya dipercaya oleh Baznas sebagai instruktur untuk berbagi pengalaman kepada peserta pelatihan. Semoga mereka juga bisa sukses dan mandiri,” harapnya.

BAZNAS: Pemberdayaan Tidak Berhenti pada Pelatihan

Wakil Ketua BAZNAS Banjarnegara Bidang Pengumpulan, Nurul Aini, SH., MM., memberikan apresiasi terhadap kegigihan Nuhwanto dalam mengembangkan usaha.

Menurutnya, perjalanan Nuhwanto menunjukkan bahwa program pemberdayaan ekonomi tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan.

Kemauan belajar, ketekunan menjalankan usaha, serta kemampuan mengembangkan keterampilan menjadi faktor yang ikut menentukan keberlanjutan usaha setelah peserta menyelesaikan pelatihan.

“Pak Nuhwanto bisa menjadi inspirasi. Beliau bisa membuka lapangan kerja, jadi selaras dengan misi Baznas yang semula mustahik menjadi muzaki,” kata Nurul Aini.

Konsep tersebut menempatkan pemberdayaan ekonomi sebagai salah satu upaya untuk mendorong penerima manfaat agar secara bertahap mampu membangun kemandirian ekonomi.

Kisah Nuhwanto juga memperlihatkan adanya kesinambungan manfaat program. Keterampilan yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk membangun usaha pribadi, tetapi kemudian dibagikan kembali kepada masyarakat melalui perannya sebagai instruktur.

BAZNAS Banjarnegara Kembali Gelar Pelatihan Ekonomi Produktif

Program pemberdayaan ekonomi BAZNAS Banjarnegara juga terus berlanjut pada 2026.

Nurul Aini menyampaikan, BAZNAS Banjarnegara kembali membuka Pelatihan Usaha Ekonomi Produktif dengan empat bidang keahlian.

Keempat bidang tersebut meliputi:

- Pembuatan dawet ayu

- Fried chicken

- Roti kering

- Barista kopi

Masing-masing bidang diikuti 15 peserta, sehingga total terdapat 60 peserta dalam program pelatihan tersebut.

Selain pelatihan keterampilan dan bantuan peralatan, BAZNAS Banjarnegara juga menyalurkan program bantuan ternak kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sebanyak 20 mustahik menerima bantuan ternak kambing. Setiap penerima memperoleh sepasang kambing yang terdiri dari satu ekor jantan dan satu ekor betina.

Program tersebut menjadi bagian dari pendekatan pemberdayaan yang mengarahkan bantuan agar dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan bagi penerima manfaat.

Ketika Bantuan Berkembang Menjadi Kemandirian

Perjalanan Nuhwanto dari peserta pelatihan menjadi pelaku usaha dan kemudian dipercaya sebagai instruktur memberikan satu pesan penting: keberhasilan program pemberdayaan ekonomi tidak hanya dapat dilihat dari bantuan yang diberikan, tetapi juga dari bagaimana penerima memanfaatkan bantuan tersebut secara berkelanjutan.

Dari keterampilan pertukangan kayu, Nuhwanto membangun Seniki Pernik Kayu Banjarnegara. Dari usaha tersebut, ia mampu mempekerjakan tiga karyawan dan memperluas pasar hingga sejumlah kota di Jawa.

Kini, pengalaman tersebut kembali dibagikan kepada peserta pelatihan baru.

Bagi Nuhwanto, perjalanan tersebut bukan sekadar cerita tentang membangun usaha, tetapi juga tentang kesempatan untuk meningkatkan keterampilan, keberanian memulai, serta kemauan mengembangkan bantuan menjadi sesuatu yang produktif.

Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat membutuhkan proses yang berkelanjutan—mulai dari pelatihan, dukungan peralatan, pengembangan keterampilan, pemasaran hingga pendampingan dan berbagi pengalaman.

Dari mustahik menuju kemandirian ekonomi, perjalanan Nuhwanto menjadi salah satu cerita pemberdayaan masyarakat dari Banjarnegara yang menunjukkan bagaimana sebuah keterampilan dapat berkembang menjadi usaha dan membuka peluang kerja.

Pewarta: Daryoko

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close