
BANJARNEGARA, WINews - Ratusan pemuda Karang Taruna dari berbagai wilayah di Kabupaten Banjarnegara berkumpul di Lapangan Desa Berta, Kecamatan Susukan, dalam Jambore Karang Taruna bertajuk “Immersive Survival Camp 2026”
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Minggu, 18–20 September 2026, tersebut diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Karang Taruna Kabupaten Banjarnegara bersama Karang Taruna Opera Desa Berta.
Berbeda dari kegiatan perkemahan yang hanya berorientasi pada aktivitas rekreasi, jambore ini dikemas sebagai experiential camp, yaitu pembelajaran berbasis pengalaman yang menggabungkan kegiatan lapangan, simulasi, diskusi, keterampilan praktis, serta aktivitas sosial.
Konsep tersebut diarahkan untuk memberikan bekal kepada generasi muda agar memiliki kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan, memahami kesiapsiagaan bencana, mengembangkan kecakapan digital, sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Survival dan Kesiapsiagaan Bencana Jadi Bagian Utama
Salah satu fokus dalam Immersive Survival Camp 2026 adalah keterampilan bertahan hidup atau survival skill.
Keterampilan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi kondisi alam, tetapi juga melatih peserta untuk berpikir cepat, bekerja sama, mengambil keputusan, mengelola sumber daya, serta tetap tenang ketika menghadapi situasi yang membutuhkan respons darurat.
Materi kesiapsiagaan bencana juga menjadi bagian penting karena masyarakat di sejumlah wilayah menghadapi berbagai potensi risiko lingkungan.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Banjarnegara, Riatmojo Ponco Nugroho, S.E., M.E., saat menjadi inspektur upacara pembukaan menilai kegiatan tersebut memberikan keterampilan yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Menurut Ponco, pembekalan kemampuan bertahan hidup dapat menjadi pengetahuan praktis bagi generasi muda, termasuk ketika menghadapi persoalan seperti kekeringan.
“Jambore ini kegiatan yang sangat positif. Di sini peserta dilatih bertahan hidup, sangat relevan dengan kondisi saat ini ketika banyak desa menghadapi kekeringan. Di sisi lain, ada kecakapan digital yang juga sangat sesuai dengan kondisi kekinian,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kepemudaan dapat diarahkan tidak hanya pada pengembangan organisasi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan.

Literasi Digital Menjadi Keterampilan Penting Pemuda
Selain keterampilan lapangan, literasi digital menjadi salah satu materi yang mendapatkan perhatian dalam jambore.
Perkembangan teknologi membuat aktivitas generasi muda semakin dekat dengan ruang digital. Kondisi tersebut membuka peluang untuk pendidikan, ekonomi kreatif, kewirausahaan, komunikasi, dan pengembangan komunitas.
Namun, kemampuan digital juga membutuhkan kecakapan dalam memahami informasi, berkomunikasi secara bertanggung jawab, serta menggunakan teknologi secara produktif.
Ponco mengatakan generasi muda merupakan bagian dari masyarakat digital sehingga perlu memiliki kemampuan yang sesuai dengan perkembangan teknologi.
“Anak muda itu kaum digital, sehingga harus cakap digital. Saya berharap kegiatan ini terus berkembang dan pesertanya meningkat. Jambore berikutnya harus ada perwakilan dari seluruh kecamatan,” harapnya.
Melalui materi kecakapan digital, peserta diharapkan dapat memanfaatkan teknologi bukan hanya untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga mendukung kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat di lingkungan masing-masing.
Materi Jambore Dirancang Berbasis Pengalaman
Konsep experiential camp membuat peserta memperoleh pengalaman langsung melalui berbagai aktivitas.
Sejumlah agenda yang disiapkan dalam jambore antara lain seminar adaptasi masa depan, simulasi tanggap darurat bencana, survival mission, lomba ketangkasan baris-berbaris, kecakapan digital, serta Community Mission.
Setiap kegiatan memiliki pendekatan berbeda.
Simulasi tanggap darurat memberikan ruang bagi peserta untuk memahami respons ketika menghadapi situasi bencana. Sementara survival mission menguji kemampuan bekerja sama dan menyelesaikan tantangan.
Kegiatan baris-berbaris melatih kedisiplinan dan kekompakan, sedangkan materi digital memberikan pemahaman mengenai kecakapan yang dibutuhkan generasi muda di tengah perkembangan teknologi.
Adapun Community Mission memberikan pengalaman kepada peserta untuk terlibat dalam aktivitas yang berorientasi pada kepedulian sosial.

Memperkuat Jejaring Karang Taruna Antarwilayah
Jambore juga menjadi ruang pertemuan bagi pemuda dari berbagai wilayah di Kabupaten Banjarnegara.
Sejumlah Karang Taruna yang berpartisipasi antara lain Karang Taruna Krida Muda Utama Desa Srikandi, Bhakti Muda Taruna Desa Kaliwungu, Opera Desa Berta, Urang Jaya Merden, Tunas Muda Derik, Bangun Setiaji Binorong Kecamatan Bawang, Siro Reka Desa Purwareja, Unggul Jaya Abadi Mandiraja Kulon, Tunas Bangsa Desa Piasa Wetan, serta organisasi Karang Taruna lainnya.
Pertemuan lintas wilayah tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk bertukar pengalaman mengenai berbagai kegiatan kepemudaan.
Mulai dari kegiatan sosial, pemberdayaan masyarakat, kreativitas, lingkungan, hingga pengembangan organisasi dapat menjadi bahan pembelajaran bersama.
Jejaring seperti ini juga dapat membuka peluang kolaborasi antar-Karang Taruna sehingga program yang berhasil dilakukan di satu wilayah dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lainnya.
Panji: Jambore Berikan Pengalaman Baru
Salah seorang peserta, Panji, mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti jambore.
Menurutnya, kegiatan survival, kebencanaan, dan materi digital menjadi bagian yang memberikan pengalaman berbeda dibandingkan aktivitas kepemudaan pada umumnya.
“Saya senang bisa mengikuti jambore. Banyak pengalaman baru yang kudapat, terutama dari kegiatan survival, kebencanaan, dan materi digital. Saya juga bisa bertukar pengalaman dengan teman-teman baru,” ujar Panji.
Bagi peserta, kesempatan bertemu pemuda dari berbagai wilayah juga menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.
Interaksi selama jambore memungkinkan peserta mengetahui karakter dan pengalaman organisasi pemuda di daerah lain.

Budaya dan Konservasi Hadir dalam Jambore
Selain keterampilan teknis dan kebencanaan, unsur budaya turut ditampilkan dalam rangkaian kegiatan.
Pembukaan jambore dihadiri Camat Susukan beserta jajaran Forkopimca, pengurus Karang Taruna Kabupaten Banjarnegara, serta warga sekitar.
Pemuda Karang Taruna juga menampilkan tari kreasi yang mengangkat tema konservasi dan budaya.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari pesan bahwa pengembangan kapasitas generasi muda tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan keterampilan praktis, tetapi juga perlu berjalan beriringan dengan pelestarian budaya serta kepedulian terhadap lingkungan.
Pemuda Didorong Menjadi Bagian dari Kesiapsiagaan Masyarakat
Sementara itu, Sigit Dwi Antoro dari Karang Taruna Kabupaten Banjarnegara berharap pengetahuan yang diperoleh peserta selama jambore tidak berhenti ketika kegiatan berakhir.
Ia berharap peserta mampu membawa pulang pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana dan membagikannya kepada masyarakat di wilayah masing-masing.

Selain kebencanaan, peserta juga diharapkan mampu mengembangkan kecakapan digital, kreativitas, kepedulian lingkungan, dan kegiatan sosial.
Dengan demikian, pemuda Karang Taruna dapat berperan sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki kemampuan untuk merespons tantangan di lingkungannya.
Jambore sebagai Investasi Kapasitas Generasi Muda
Immersive Survival Camp 2026 memperlihatkan pendekatan berbeda dalam kegiatan kepemudaan. Survival, kesiapsiagaan bencana, literasi digital, budaya, kreativitas, kepemimpinan, dan aksi sosial ditempatkan dalam satu rangkaian pembelajaran.
Model kegiatan berbasis pengalaman tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk belajar melalui praktik, interaksi, dan penyelesaian tantangan secara langsung.
Ke depan, penguatan kapasitas pemuda menjadi penting karena Karang Taruna berada dekat dengan kehidupan masyarakat di tingkat desa dan kelurahan.
Pengetahuan yang diperoleh melalui jambore dapat dikembangkan menjadi program nyata, mulai dari edukasi kebencanaan, kegiatan lingkungan, pemanfaatan teknologi digital, hingga aksi sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, keberlanjutan kegiatan dan perluasan partisipasi dari berbagai wilayah menjadi salah satu aspek penting agar manfaat jambore dapat dirasakan lebih luas.
Pewarta: Jatmiko SH
0 Komentar