Breaking News

Audio Reader
Speed:

Maulid Nabi 1448 H di Kayusemut: Menjadikan Rasulullah Teladan Literasi Sepanjang Hayat


BANJARNEGARA, WINews Gema sholawat mengalun dari Grup Hadroh An Nusyaiba di kawasan Cagar Literasi, Dusun Kayusemut, Desa Petuguran, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara, Minggu (20/9/2026).

Ratusan warga berkumpul dalam suasana khidmat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Namun, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda keagamaan tahunan. Peringatan Maulid dikemas dengan pesan pendidikan dan literasi melalui tema “Meneladani Rasulullah sebagai Sumber Literasi Sepanjang Hayat.

Tema tersebut menjadi relevan karena literasi pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga dapat dimaknai sebagai kemampuan memahami informasi, mengambil hikmah dari pengalaman, membangun karakter, serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Di Kayusemut, semangat tersebut dipadukan dengan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW.

Maulid Nabi Dipadukan dengan Gerakan Literasi

Rangkaian kegiatan berlangsung dengan melibatkan anak-anak, pemuda, tokoh masyarakat, kelompok perempuan, hingga pengelola pendidikan keagamaan.

Acara dipandu oleh Ananda Fanisa dan Ade Wulan Sari, kemudian diawali pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Ananda Nino Yokani Al Barak dan saritilawah oleh Anggia Putri Wardani.

Kehadiran generasi muda dalam rangkaian acara menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai peserta, tetapi juga diberi ruang untuk tampil dan mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dibangun melalui pengalaman langsung. Anak-anak belajar berbicara di depan masyarakat, membaca Al-Qur'an, bekerja sama, menghargai orang lain, sekaligus mengenal nilai-nilai kehidupan Rasulullah SAW.

Gotong Royong Lintas Generasi

Kesuksesan kegiatan di Cagar Literasi Kayusemut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai unsur masyarakat.

Kegiatan tersebut melibatkan Tim Cagar Literasi bersama Takmir Masjid dan TPQ Al Hidayah, Grup Hadroh An Nusyaiba, Pemuda Kayoga, serta Kelompok Wanita Tani (KWT) Zakha Bawika.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan sosial dan keagamaan dapat menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat.

Masing-masing unsur memiliki peran dan kontribusi. Ada yang bergerak dalam bidang pendidikan, keagamaan, seni, kepemudaan, maupun pemberdayaan masyarakat.

Ketua Cagar Literasi, Farida, menyampaikan kebanggaannya terhadap keterlibatan berbagai elemen masyarakat tersebut.

Menurutnya, kerja bersama lintas generasi menjadi kekuatan penting dalam membangun kegiatan yang memberikan manfaat bagi lingkungan.

Sementara itu, Pengasuh TPQ Al Hidayah sekaligus panitia kegiatan, Sahrul Budiono, menekankan pentingnya membangun kecintaan anak-anak terhadap ilmu agama sejak dini.

“Anak-anak harus rajin mengaji. Semoga kegiatan seperti ini bisa menambah semangat kita untuk belajar agama dan mencintai Al-Qur'an,” ujar Sahrul dalam sambutannya.

Pesan tersebut sekaligus menempatkan pendidikan keagamaan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter generasi muda.

Ustadz Edi Mufidun Sampaikan Tausiyah Secara Komunikatif

Puncak kegiatan diisi tausiyah oleh Ustadz Edi Mufidun, S.Pd.I.

Dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan diselingi humor, Ustadz Edi mengajak masyarakat memahami perjalanan kehidupan Rasulullah SAW serta berbagai sifat mulia yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan.

Cara penyampaian yang ringan membuat suasana pengajian terasa dekat dengan masyarakat. Pesan keagamaan tidak hanya disampaikan dalam bentuk nasihat, tetapi dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Ustadz Edi menekankan bahwa memperingati Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Keteladanan Rasulullah SAW dapat dipelajari melalui berbagai aspek kehidupan, mulai dari kejujuran, kesabaran, kepedulian terhadap sesama, tanggung jawab, hingga cara membangun hubungan sosial yang baik.

Rasulullah sebagai “Perpustakaan Kehidupan”

Salah satu pesan yang menarik dalam tausiyah tersebut adalah penggambaran kehidupan Rasulullah SAW sebagai sumber pembelajaran yang terus dapat dikaji.

Maknanya, umat tidak cukup hanya mengetahui sejarah kelahiran Rasulullah SAW. Lebih jauh, masyarakat diajak membaca perjalanan kehidupan beliau, memahami nilai yang terkandung di dalamnya, kemudian menerapkannya dalam kehidupan.

Kejujuran, misalnya, bukan hanya untuk diketahui sebagai sebuah konsep, tetapi perlu dipraktikkan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, perdagangan, pendidikan, maupun hubungan sosial.

Begitu pula kesabaran dan kepedulian terhadap sesama. Nilai tersebut akan memiliki makna ketika diterapkan dalam kehidupan nyata.

Dalam konteks itulah tema literasi menjadi semakin luas.

Literasi Bukan Hanya Membaca Buku

Kegiatan Maulid Nabi di Cagar Literasi Kayusemut juga menghadirkan perspektif bahwa budaya literasi tidak semata-mata identik dengan buku.

Membaca memang menjadi fondasi penting dalam memperoleh pengetahuan. Namun, manusia juga perlu belajar “membaca” kehidupan.

Membaca keadaan masyarakat, memahami lingkungan, mengambil pelajaran dari sejarah, menyaring informasi, menghargai pengalaman orang lain, serta membangun kebiasaan berpikir sebelum bertindak merupakan bagian dari proses pembelajaran sepanjang hayat.

Nilai tersebut semakin penting di tengah perkembangan teknologi informasi yang membuat masyarakat menerima informasi dalam jumlah sangat besar setiap hari.

Kemampuan membaca informasi tanpa kemampuan memahami dan menyaringnya dapat menimbulkan persoalan baru. Karena itu, literasi juga membutuhkan karakter, tanggung jawab, dan kebijaksanaan.

Cagar Literasi Menjadi Ruang Pembelajaran Masyarakat

Kegiatan di Kayusemut memperlihatkan bagaimana ruang komunitas dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk membaca, tetapi juga sebagai tempat bertemu, berdiskusi, belajar agama, mengembangkan kreativitas, dan memperkuat hubungan sosial.

Ketika masyarakat memiliki ruang untuk bertemu dan bertukar pengetahuan, proses pendidikan tidak lagi hanya berlangsung di sekolah.

Rumah, masjid, TPQ, komunitas, kelompok tani, organisasi kepemudaan, hingga lingkungan keluarga dapat menjadi ruang pendidikan yang saling melengkapi.

Pendekatan semacam ini juga membuka peluang bagi generasi muda untuk melihat bahwa belajar bukan kegiatan yang berhenti setelah menyelesaikan pendidikan formal.

Belajar merupakan proses yang berlangsung sepanjang kehidupan.

Maulid sebagai Momentum Memperkuat Karakter Generasi Muda

Peringatan Maulid Nabi 1448 H di Kayusemut pada akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan.

Ada pesan tentang pentingnya pendidikan, literasi, kolaborasi masyarakat, regenerasi, dan pembentukan karakter.

Keterlibatan anak-anak dan pemuda menunjukkan bahwa generasi muda memiliki ruang untuk belajar sekaligus mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.

Sementara keterlibatan kelompok perempuan, tokoh agama, pemuda, dan pengelola Cagar Literasi memperlihatkan bahwa pembangunan masyarakat membutuhkan kerja bersama.

Semangat tersebut menjadi semakin bermakna ketika keteladanan Rasulullah SAW diterjemahkan dalam tindakan nyata: jujur dalam bekerja, santun dalam berbicara, peduli terhadap sesama, tekun mencari ilmu, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial.

Dari Kayusemut untuk Semangat Belajar Sepanjang Hayat

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah warga dalam suasana penuh keakraban.

Dari sebuah peringatan Maulid Nabi, masyarakat Kayusemut menghadirkan pesan yang lebih luas: bahwa agama, pendidikan, literasi, dan kehidupan sosial dapat berjalan beriringan.

Keteladanan Rasulullah SAW tidak hanya dikenang dalam peringatan Maulid, tetapi dapat terus dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, literasi sejati bukan sekadar mengetahui sesuatu, melainkan memahami, mengambil hikmah, dan mengubah pengetahuan menjadi perilaku yang membawa manfaat.

Dari Cagar Literasi Kayusemut, semangat itu kembali ditegaskan: belajar tidak memiliki batas usia, ilmu tidak mengenal akhir, dan keteladanan yang baik dapat menjadi warisan bagi generasi berikutnya.

Pewarta: Nursoleh

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close