Silaturahmi dan Belajar Bertani, Bapak Abu Jadi Lentera bagi Generasi Muda
CILACAP, WINews - Silaturahmi tidak selalu harus berlangsung dalam ruang resmi. Di tengah kesederhanaan rumah warga, percakapan tentang kehidupan, pertanian, pengalaman, dan masa depan generasi muda justru dapat melahirkan pelajaran yang begitu berharga.
Suasana itulah yang terasa ketika awak media WINews bersama rekan-rekan bersilaturahmi dengan Bapak Abu, Ketua Kelompok Tani “Maju Makmur”, di Dusun Sindeh, Desa Wringinharjo, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Minggu (20/9/2026).
Rombongan yang terdiri dari Marjuki Wiyono, Darto, dan Heri disambut hangat oleh Bapak Abu. Senyum, sapaan ramah, serta suasana kekeluargaan membuat pertemuan tersebut terasa lebih dari sekadar kunjungan. Ada ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus belajar mengenai kehidupan petani yang selama ini menjadi salah satu penopang ketahanan pangan masyarakat.
Kesederhanaan yang Mengajarkan Nilai Kehidupan
Bapak Abu menerima para tamu dengan penuh keramahan. Tanpa suasana formal dan tanpa jarak, para tamu dipersilakan duduk dan berbincang layaknya keluarga sendiri.
Secangkir teh manis, camilan sederhana, serta rebusan ubi menjadi hidangan dalam pertemuan tersebut. Bagi Bapak Abu, makanan sederhana bukan sekadar sajian untuk tamu, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat desa yang sarat dengan nilai kebersamaan.
Menurutnya, kesederhanaan tidak semestinya menjadi penghalang untuk saling menghormati dan berbagi.
Dari hidangan sederhana itu, percakapan kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai pertanian, pengalaman hidup, serta pentingnya menjaga hubungan antarmanusia.
Dari Tanah, Petani Belajar tentang Kesabaran
Sebagai Ketua Kelompok Tani Maju Makmur, Bapak Abu berbagi pengalaman mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan aktivitas pertanian.
Pembahasan antara lain menyentuh cara mengenali kondisi tanah, menentukan waktu tanam, memilih kebutuhan pemupukan, hingga pentingnya menjaga kesuburan lahan agar produktivitas pertanian dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Menurut pengalaman yang dibagikannya, bertani tidak hanya membutuhkan tenaga, tetapi juga ketelitian dan kesabaran. Petani perlu memahami kondisi lahan dan tanaman sebelum menentukan tindakan.
Penggunaan pupuk, baik pupuk buatan maupun bahan organik, juga perlu dilakukan secara tepat sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi tanah. Prinsipnya bukan sekadar mengejar hasil dalam satu musim, tetapi menjaga agar tanah tetap produktif untuk musim-musim berikutnya.
Pandangan tersebut menjadi penting di tengah tantangan pertanian modern yang tidak hanya berkaitan dengan produktivitas, tetapi juga efisiensi biaya, kesehatan tanah, keberlanjutan lingkungan, dan regenerasi petani.
Belajar dari Pengalaman, Bukan Sekadar Teori
Dalam suasana santai, para tamu melontarkan berbagai pertanyaan seputar pertanian.
Bagaimana mengetahui tanah yang siap ditanami? Bagaimana menentukan kebutuhan pupuk? Apa yang perlu diperhatikan agar lahan tetap subur? Dari mana generasi muda harus memulai jika ingin belajar bertani?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab Bapak Abu berdasarkan pengalaman yang telah dijalaninya.
Penjelasan disampaikan secara sederhana sehingga mudah dipahami. Bagi para tamu, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bahwa pengetahuan pertanian tidak hanya diperoleh melalui buku atau pendidikan formal.
Pengalaman langsung di lapangan juga merupakan sumber pengetahuan yang sangat penting.
Seorang petani belajar membaca perubahan kondisi tanah, cuaca, pertumbuhan tanaman, kebutuhan air, hingga berbagai persoalan yang muncul selama proses produksi. Pengetahuan semacam itu terbentuk melalui proses panjang, pengamatan, kesabaran, serta pengalaman menghadapi berbagai kondisi.
Regenerasi Petani Menjadi Tantangan Bersama
Pertemuan tersebut juga membuka pembicaraan mengenai pentingnya regenerasi petani.
Pertanian membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mau mengenal dasar-dasar pengelolaan tanah dan proses produksi pangan.
Perkembangan teknologi pertanian dapat menjadi sarana untuk meningkatkan efisiensi. Namun, teknologi tetap perlu berjalan bersama pengetahuan dasar mengenai lahan, tanaman, lingkungan, dan kondisi sosial masyarakat.
Dalam konteks inilah sosok petani berpengalaman seperti Bapak Abu memiliki peran penting sebagai sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.
Transfer pengetahuan dari petani senior kepada generasi muda dapat membantu menjaga keberlanjutan pengetahuan lokal sekaligus membuka peluang pengembangan pertanian yang lebih modern dan efisien.
Bapak Abu dan Makna Seorang Teladan
Bagi Marjuki Wiyono, Darto, dan Heri, kunjungan tersebut memberikan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan ilmu pertanian.
Ada pelajaran mengenai kerendahan hati, keterbukaan, kerja keras, kejujuran, dan pentingnya berbagi ilmu tanpa memandang latar belakang orang yang datang untuk belajar.
Bapak Abu menunjukkan bahwa seorang petani bukan hanya bekerja untuk menghasilkan pangan. Dalam banyak situasi, petani juga menyimpan pengetahuan dan pengalaman yang dapat menjadi bekal bagi masyarakat.
Ilmu yang dibagikan kepada orang lain dapat menjadi bentuk warisan yang tidak selalu berbentuk materi.
Ketika pengalaman tersebut diteruskan kepada generasi muda, manfaatnya dapat berkembang jauh lebih luas.
Pertanian dan Harapan untuk Masa Depan
Silaturahmi di Dusun Sindeh tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan pertanian tidak hanya bergantung pada program pemerintah, teknologi, maupun modal.
Ada faktor manusia yang tidak kalah penting: kemauan untuk belajar, kesediaan berbagi pengalaman, serta keberanian generasi muda untuk mengenal dunia pertanian.
Dari sebuah pertemuan sederhana, muncul pesan yang cukup kuat bahwa membangun pertanian berarti juga membangun manusia yang menghargai tanah, alam, kerja keras, dan proses.
Bapak Abu mungkin tidak berdiri di ruang kelas dengan papan tulis. Namun, melalui pengalaman dan ketulusan berbagi ilmu, ia telah menjadi semacam “lentera” bagi mereka yang ingin belajar.
Sebab, ilmu yang dibagikan dengan tulus tidak berhenti pada satu orang. Ia dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadi bekal untuk menjaga lahan, meningkatkan produktivitas, dan mempertahankan semangat gotong royong masyarakat pedesaan.
Silaturahmi tersebut akhirnya bukan hanya tentang bertemu dan berbincang, tetapi tentang belajar menghargai pengalaman, merawat pengetahuan, dan menyiapkan generasi penerus pertanian Indonesia.
Pewarta: Marjuki Wiyono, Darto, Heri
WINews

0 Komentar