
BANDUNG, WINews - Program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, mendapat perhatian Ketua Presidium Forum Pers Independent Indonesia (FPII), Dra. Kasihhati, bersama Dewan Pakar FPII, Adv. Lilik Adi Gunawan, S.H.
Kunjungan yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026) tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung pelaksanaan program pembinaan keterampilan dan kegiatan kerja produktif warga binaan melalui Workshop Kegiatan Kerja (Giatja) bengkel pembuatan kapal bermerek dagang Sukaboat.
Rombongan Ketua Presidium FPII diterima oleh Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Kelas I Sukamiskin, Zaki, yang mewakili Kepala Lapas Kelas I Sukamiskin, Dr. Tr. Nanank Syamsudin, A.Md.IP., S.Sos., M.H.
Dalam kunjungan tersebut, Kasihhati mengapresiasi langkah Lapas Sukamiskin yang memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan keterampilan melalui kegiatan produksi kapal. Menurutnya, program semacam ini memiliki nilai strategis karena tidak hanya mengisi waktu selama menjalani masa pidana, tetapi juga membangun kompetensi yang dapat menjadi modal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
"Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas I Sukamiskin mendapatkan pembinaan dan bimbingan kerja di Workshop Giatja bengkel Sukaboat. Pastinya mereka bangga sudah bisa membuat kapal. Keterampilan ini dapat menjadi bekal ketika mereka selesai menjalani hukuman," tegas Kasihhati.
Sukaboat, Program Pembinaan yang Menggabungkan Keterampilan dan Produktivitas
Salah satu hal menarik dari program pembinaan di Lapas Sukamiskin adalah pengembangan Sukaboat atau Suka Kapal, sebuah kegiatan produksi kapal yang melibatkan warga binaan dengan latar belakang dan kemampuan berbeda.
Program ini memperlihatkan bahwa pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan dapat diarahkan pada aktivitas produktif yang memiliki nilai keterampilan, ekonomi, dan peluang pengembangan usaha.
Zaki menjelaskan bahwa pengembangan Sukaboat melibatkan sejumlah pihak yang memiliki pengalaman di bidang manajemen, transportasi, perkapalan, dan desain.
Menurut penjelasannya, pengembangan program tersebut disupervisi oleh ES, seorang profesional berlatar belakang ekonomi yang pernah memimpin Garuda Indonesia. Selain itu, sejumlah warga binaan yang mempunyai pengalaman atau keahlian di bidang transportasi, perkapalan, serta desain turut dilibatkan dalam proses pengembangan produk.
Untuk memperkuat kemampuan teknis warga binaan lainnya, pihak lapas juga menggandeng vendor bahan dan teknologi kapal berbahan fiberglass.
"Kami di manajerial, jadi bagaimana kami bisa menyupervisi bagian teknis, kami juga harus belajar teknis. Untuk belajar fiberglass, kami diajari oleh vendor-vendor bahan kapal," terang Zaki.
Bahan baku yang digunakan dalam pengembangan produk Sukaboat cukup beragam, mulai dari fiberglass, aluminium, kayu, hingga High Density Polyethylene (HDPE). Namun, berdasarkan penjelasan yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, pelatihan produksi saat ini masih difokuskan pada kapal berbahan fiberglass.
Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk mengenal proses produksi kapal, mulai dari pemahaman material, pembentukan badan kapal, desain, hingga komponen pendukung lainnya.
Enam Jenis Kapal Sukaboat yang Dikembangkan Warga Binaan
Pengembangan Sukaboat tidak hanya berorientasi pada satu jenis produk. Sejumlah tipe kapal telah dirancang untuk memenuhi kebutuhan berbeda, mulai dari kapal kecil, kapal nelayan, hingga speedboat dengan fungsi khusus.
Berikut enam jenis kapal yang menjadi bagian dari pengembangan Sukaboat:
1. Dinghy 4 Meter: Produk Awal yang Membuka Peluang Produksi
Dinghy berukuran empat meter menjadi salah satu produk awal yang dikembangkan melalui bengkel Sukaboat.
Pada 2024, sebanyak 20 unit kapal dinghy diproduksi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) PLN. Selain itu, terdapat enam unit lainnya yang diproduksi untuk pembeli perorangan.
Dalam kegiatan produksi tersebut, sekitar 15 warga binaan Lapas Kelas I Sukamiskin terlibat mengisi waktu produktif mereka setiap hari di hanggar Sukaboat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran langsung mengenai produksi kapal sekaligus pengenalan terhadap standar pekerjaan yang dibutuhkan dalam industri perkapalan.
2. Duchy Boat 8 Meter: Pengembangan Kapal Pendukung Konektivitas Internet
Setelah pengembangan dinghy, Sukaboat melanjutkan inovasi melalui Duchy Boat dengan panjang sekitar delapan meter atau 27 feet.
Kapal ini pada awalnya dirancang untuk mendukung kebutuhan kapal BTS di wilayah kepulauan, khususnya daerah yang membutuhkan dukungan konektivitas komunikasi dan internet.
Sebanyak dua unit telah dibuat dan dibeli pihak swasta. Pada 2026, pengembangannya kembali masuk agenda melalui proyek bernama Duchy Reborn.
"Ini kapal 27 feet atau delapan meter. Kami sudah membuat dua unit, tetapi masih dilakukan revisi dan belum selesai," demikian penjelasan ES sebagaimana disampaikan dalam pemaparan pengembangan produk.
Dalam pengembangan terbaru, konsep Duchy diarahkan menjadi lebih modern melalui pembaruan desain dan repowering menggunakan mesin konvensional.
Meski mengalami penyempurnaan, fungsi utamanya tetap diarahkan untuk mendukung kebutuhan konektivitas internet di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
3. Kapal Nelayan SBF-10: Modernisasi Tanpa Menghilangkan Karakter Tradisional
Sukaboat juga mengembangkan kapal nelayan dengan kode SBF-10. Produk ini dirancang sebagai alternatif modernisasi kapal nelayan tradisional.
Menariknya, pembaruan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan karakter kapal yang selama ini digunakan masyarakat pesisir. Bentuk dan tampilan tradisional tetap dipertahankan, sementara sejumlah komponen teknis ditingkatkan.
Salah satu sasaran pengembangan adalah kapal nelayan rajungan di wilayah Cirebon.
"Kami mulai dari wilayah yang tidak jauh dari Sukamiskin, yaitu nelayan rajungan di Cirebon. Kami mengambil satu contoh kapal nelayan dari kayu, kemudian akan kami konversi menjadi fiberglass, tetapi dengan desain dan tampilan yang tetap tradisional," terang Zaki.
Empat aspek utama yang menjadi perhatian dalam modernisasi tersebut meliputi material, bentuk lambung kapal, mesin, dan propeller.
Penggunaan fiberglass diharapkan dapat menghasilkan badan kapal yang lebih ringan, tahan lama, serta relatif lebih mudah dalam perawatan.
Dengan penyempurnaan desain dan sistem penggerak, kapal juga ditargetkan memiliki performa yang lebih baik dan konsumsi bahan bakar yang lebih efisien.
Pengembangan ini berpotensi memberikan manfaat bagi nelayan, terutama apabila teknologi tersebut dapat diterapkan sesuai kebutuhan operasional dan kemampuan ekonomi masyarakat pesisir.
4. Speedboat SB-6: Alternatif Kapal Personal Multifungsi
Tipe berikutnya adalah speedboat SB-6 dengan panjang sekitar enam meter.
Kapal ini dikembangkan untuk segmen kapal personal sebagai alternatif kendaraan air berukuran kecil. Kapasitasnya dirancang untuk lima orang, terdiri atas satu nakhoda dan empat penumpang.
Tidak hanya untuk penggunaan pribadi, SB-6 juga dirancang memiliki berbagai kemungkinan pemanfaatan.
Beberapa fungsi yang dapat dikembangkan antara lain kapal wisata, patroli, memancing, kegiatan diving, hingga pencarian dan pertolongan atau Search and Rescue (SAR).
Fleksibilitas tersebut menjadi salah satu keunggulan konsep SB-6 karena dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor, sepanjang spesifikasi dan perlengkapan keselamatannya disesuaikan dengan fungsi operasional.
5. Speedboat SB-8: Meningkatkan Kompetensi Teknis Warga Binaan
Sukaboat juga mengembangkan speedboat SB-8 dengan panjang sekitar delapan meter.
Kapal ini memiliki tingkat kompleksitas pengerjaan lebih tinggi karena memungkinkan penggunaan kabin tertutup.
Konsekuensinya, warga binaan yang mengikuti pembinaan produksi harus mempelajari lebih banyak keterampilan teknis.
Materi pembelajaran mencakup pemasangan kaca, pengerjaan interior lantai, dinding dan plafon, pemasangan kursi, perlengkapan keselamatan, railing, tangki bahan bakar dan air, mesin, sistem kemudi, sistem tambat, instalasi kelistrikan, hingga perpipaan.
Beragam pekerjaan tersebut memberikan pengalaman praktik yang lebih luas kepada warga binaan.
Selain memahami proses pembentukan badan kapal, mereka juga diperkenalkan pada sistem pendukung yang menjadi bagian penting dalam pembuatan kapal modern.
6. Speedboat SB-10: Rancangan Kapal dengan Target Kecepatan Tinggi
Tipe terbaru yang masuk dalam rancangan pengembangan Sukaboat adalah SB-10 dengan panjang sekitar sepuluh meter.
Kapal ini dirancang untuk mengejar target kecepatan hingga 50 knot. Pengembangannya diarahkan untuk mendukung kebutuhan patroli, pengamanan, serta respons cepat dalam situasi darurat.
Dalam konsep materialnya, pengembang mempertimbangkan penggunaan Kevlar dan aramid sebagai bagian dari pengembangan perlindungan kapal.
Namun, penerapan material tersebut tetap membutuhkan pengujian teknis, penilaian keselamatan, serta pembuktian kemampuan sesuai standar penggunaan yang ditetapkan.
SB-10 memperlihatkan bahwa pengembangan Sukaboat tidak berhenti pada kapal berukuran kecil, tetapi juga mulai menjajaki desain kapal dengan kebutuhan teknis yang lebih kompleks.
Lebih dari 25 Unit Kapal, Bukti Pembinaan Berorientasi Keterampilan
Dalam wawancara dengan awak media, Kasihhati menyampaikan apresiasi atas upaya Lapas Kelas I Sukamiskin yang telah memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk terlibat dalam kegiatan produksi kapal.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan contoh positif bagaimana lembaga pemasyarakatan dapat menghadirkan program pembinaan yang berorientasi pada keterampilan dan produktivitas.
"Kami mengapresiasi Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung, yang memberdayakan Warga Binaan Pemasyarakatan dalam memproduksi berbagai jenis kapal, mulai dari kapal nelayan, dinghy hingga duchy. Kapal tersebut diberi merek dagang Sukaboat dan sudah menembus pasar lebih dari 25 unit dengan berbagai jenis," kata Kasihhati.
Capaian produksi dan pemasaran tersebut menjadi salah satu indikator bahwa program pembinaan keterampilan dapat dikembangkan secara lebih luas apabila didukung pendampingan, sarana kerja, akses pasar, serta pengawasan kualitas produk.
Namun, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari jumlah kapal yang diproduksi. Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana warga binaan benar-benar memperoleh kompetensi yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.
Keterampilan dalam bidang fiberglass, desain kapal, perakitan, instalasi mesin, kelistrikan, dan perawatan kapal berpotensi menjadi modal untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha mandiri.
Sinergi Pers dan Lembaga Pemasyarakatan untuk Menghadirkan Informasi Berimbang
Kasihhati yang dikenal sebagai Bunda Kasihhati, Srikandi Pers Indonesia, juga menyoroti pentingnya hubungan kemitraan antara insan pers dan lembaga pemasyarakatan.
Menurutnya, pemberitaan mengenai kegiatan pembinaan warga binaan perlu mendapat ruang di tengah masyarakat agar publik memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai fungsi lembaga pemasyarakatan.
Lapas bukan hanya tempat menjalani masa pidana, melainkan juga institusi yang memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan pembinaan dan mempersiapkan warga binaan untuk kembali menjalani kehidupan sosial.
"Sinergitas Forum Pers Independent Indonesia (FPII) dengan Lapas Kelas I Sukamiskin diharapkan dapat memberitakan kegiatan positif Warga Binaan Pemasyarakatan, sehingga penjara tidak sekadar mendapatkan stigma negatif di masyarakat," tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pers memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang objektif, berimbang, dan berdasarkan fakta.
Pemberitaan mengenai program pembinaan seperti Sukaboat dapat menjadi sarana edukasi publik tentang pentingnya kesempatan kedua, pengembangan keterampilan, dan proses reintegrasi sosial bagi warga binaan.
Di sisi lain, keterbukaan informasi dari lembaga pemasyarakatan juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program pembinaan.
Lapas Sukamiskin Harapkan Kemitraan dengan Pers Terus Terjalin
Sementara itu, Zaki menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan Ketua Presidium FPII bersama Dewan Pakar FPII ke Lapas Kelas I Sukamiskin.
Ia berharap hubungan baik antara insan pers dan jajaran pemasyarakatan dapat terus diperkuat, terutama dalam menyampaikan informasi mengenai berbagai kegiatan pembinaan yang dilaksanakan di lingkungan lapas.
"Kami mewakili Kalapas Kelas I Sukamiskin mengucapkan terima kasih atas kunjungan Ketua Presidium FPII dan Dewan Pakar FPII. Semoga sinergitas pers dan Lapas Kelas I Sukamiskin selalu terjalin dengan baik, sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya dalam hal pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan," pungkas Zaki.
Pembinaan Produktif Menjadi Investasi untuk Masa Depan Warga Binaan
Kunjungan FPII ke Lapas Kelas I Sukamiskin memberikan gambaran bahwa pembinaan warga binaan dapat dikembangkan melalui pendekatan yang produktif, terukur, dan memiliki keterkaitan dengan kebutuhan dunia kerja.
Program Sukaboat menjadi contoh bagaimana keterampilan teknis dapat diperkenalkan melalui praktik langsung, pendampingan tenaga berpengalaman, serta pengembangan produk yang memiliki potensi pasar.
Ke depan, kesinambungan program seperti ini memerlukan peningkatan kompetensi, standar keselamatan kerja, kualitas produksi, sertifikasi keterampilan apabila relevan, serta akses pemasaran yang berkelanjutan.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan kapal, melainkan membangun manusia yang memiliki kemampuan, kepercayaan diri, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.
Sebab, keberhasilan pembinaan pemasyarakatan tidak hanya terlihat dari aktivitas di dalam lapas, tetapi juga dari kesiapan warga binaan untuk kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat.
Pewarta: Nurzaman
Redaksi: Warta Indonesia News (WINews)
0 Komentar