• Jelajahi

    Copyright © WARTA INDONESIA NEWS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    AI System Offline WINews

    Dari Tuan Kentang, Tenun Tuan Lestarikan Budaya Lewat Kain Tradisional

    Warta Indonesia News
    5 Feb 2026, 04:42 WIB

     


    PALEMBANG, wartaindonesianews.co.id. -Berita Faktanews — Di kawasan Tuan Kentang, Palembang, bunyi hentakan alat tenun manual berpadu dengan benang-benang berwarna yang dirangkai penuh ketelatenan. Di tempat inilah Tenun Tuan tumbuh, bukan sekadar sebagai usaha, tetapi juga sebagai perpanjangan napas budaya yang diwariskan lintas generasi.


    Pemilik Tenun Tuan, Sarifudin, mengungkapkan bahwa usaha tersebut tidak dibangun dari nol. Jauh sebelum Tenun Tuan dikenal, orang tuanya telah lebih dahulu menjalankan usaha kain tenun sejak era 1970-an.


    “Pada waktu itu orang tua saya hanya mengerjakan kain berdasarkan pesanan, sehingga produksinya masih sangat terbatas,” ujar Sarifudin, Selasa (3/2/2026).


    Perubahan signifikan terjadi sekitar tahun 2010, saat Sarifudin memutuskan terjun langsung mengelola usaha keluarga tersebut. 


    Ia melihat potensi besar yang selama ini belum tergarap secara maksimal, mulai dari keterampilan menenun, keunikan motif, hingga nilai budaya yang melekat pada setiap helai kain.


    Usaha tersebut sempat dikenal dengan nama Rumah Tanjung Antik, sebagai fase awal pengembangan sebelum resmi berganti nama menjadi Tenun Tuan. Ketiadaan izin usaha saat itu membuat pengembangan dilakukan secara bertahap sambil membenahi sistem kerja dan pemasaran.


    “Setelah izin usaha terbit, nama usaha saya ubah menjadi Tenun Tuan. Karena produk yang dijual adalah kain tenun dan lokasinya berada di Tuan Kentang, maka lahirlah nama Tenun Tuan,” jelasnya.


    Sarifudin menuturkan, pemasaran produknya sempat menjangkau luar daerah, bahkan hingga Bali melalui penjualan daring. Namun, pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan permintaan secara drastis.


    “Periode 2018 hingga 2022 menjadi masa paling menantang karena penurunan penjualan sangat signifikan. Dari situ kami belajar membaca daya beli pasar dan beradaptasi,” katanya.


    Strategi baru kemudian diterapkan, termasuk melakukan rebranding serta memperkuat kerja sama dengan galeri, salah satunya Raja Tenun, yang kini menjadi kanal utama penjualan produk Tenun Tuan. Pada 2024, perubahan tersebut berdampak pada peningkatan omzet usaha.


    “Setelah berubah nama menjadi Tenun Tuan pada 2024, omzet kami mencapai sekitar Rp500 juta,” ungkapnya.


    Keunikan Tenun Tuan terletak pada proses produksi yang dilakukan secara mandiri, mulai dari perancangan motif, pemilihan bahan baku, hingga pewarnaan. Seluruh proses dikerjakan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).


    “Sebagian merek lain masih mengupah pihak luar untuk membuat motif. Kalau kami, semua diproduksi sendiri dari nol,” imbuhnya.


    Ia menjelaskan, pembuatan satu helai kain tenun memerlukan proses panjang. Benang dibagi menjadi dua jenis, yakni benang dasar kain dan benang motif. Proses finishing kain melalui lima tahapan, sedangkan pembuatan motif membutuhkan tujuh hingga delapan tahapan.


    “Proses finishing memakan waktu sekitar tiga minggu, ditambah dua hari untuk penyelesaian akhir. Secara keseluruhan, satu helai kain membutuhkan waktu hampir satu bulan hingga siap digunakan,” tuturnya.


    Dalam menjalankan usaha, Sarifudin melibatkan sekitar 30 orang tenaga kerja yang sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar Tuan Kentang. Sebanyak 20 orang merupakan penenun tetap, sementara lainnya bertugas menggulung benang, memintal, dan membuat motif.


    “Yang bukan penenun hampir semuanya warga lokal. Dari benang sampai motif, semua melibatkan masyarakat sekitar,” ujarnya.


    Model kerja tersebut tidak hanya menggerakkan perekonomian warga, tetapi juga menjaga keberlanjutan pengetahuan menenun agar tetap diwariskan.


    Dukungan juga datang dari PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melalui pembinaan dan pemasaran produk hingga ke luar daerah seperti Jakarta dan Mandalika, bahkan ke pameran internasional Tong-Tong Fair di Belanda.


    Selain pemasaran, PTBA turut memberikan pendampingan melalui Rumah BUMN Banyuasin, mulai dari pelatihan, penamaan usaha, hingga perbaikan desain kemasan agar lebih modern dan kompetitif.


    “Saya sangat berterima kasih karena PTBA memberi banyak ilmu, termasuk memahami karakteristik pasar dan produk yang saya jual,” kata Sarifudin.


    Bagi Sarifudin, Tenun Tuan bukan semata-mata bisnis, tetapi juga bagian dari upaya pelestarian budaya Palembang. Ke depan, ia bercita-cita membuka lokasi produksi baru yang dapat menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar, khususnya mereka yang belum memiliki pekerjaan.


    “Tidak semua pelaku usaha menguasai seluruh teknik pembuatannya. Saya ingin mengembangkan usaha ini agar ilmu yang saya miliki bisa dibagikan kepada yang lain,” pungkasnya.

    Pewarta: Red

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Budayakan komentar yang baik dan sopan. Dilarang spams