Foto :Penceramah kondang, Edi Mufidun, Acara Halal Bihalal Korwilcam Dindikpora
Banjarnegara, WINews - Suasana Halal Bihalal 1447 H yang digelar keluarga besar Korwilcam Dikpora Kecamatan Pagentan berubah menjadi penuh makna sekaligus menggetarkan hati. Kehadiran penceramah kondang, Edi Mufidun, sukses “mengguncang” suasana dengan tausiyah yang menyentuh, menghibur, dan membuka kesadaran spiritual para hadirin.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (26/03/2026) di Rumah Makan Omah Dawet Ayu, Petambakan, Madukara, Banjarnegara ini dihadiri sekitar 300 peserta.
Hadir pula perwakilan Dindikpora, unsur Kecamatan Pagentan, TNI, Polri, serta para guru dari jenjang SD, TK, PAUD, hingga Kelompok Bermain, lintas agama.
Acara diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan-sambutan, hingga ikrar Halal Bihalal yang dipimpin Budi Wahyu Dianto dan diterima oleh Doko Harwanto.
Memasuki sesi inti, tausiyah Edi Mufidun langsung memikat perhatian. Dengan gaya khasnya yang komunikatif dan humoris, ia mampu mencairkan suasana sekaligus menghadirkan kekhidmatan yang mendalam.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (26/03/2026) di Rumah Makan Omah Dawet Ayu, Petambakan, Madukara, Banjarnegara ini dihadiri sekitar 300 peserta.
Hadir pula perwakilan Dindikpora, unsur Kecamatan Pagentan, TNI, Polri, serta para guru dari jenjang SD, TK, PAUD, hingga Kelompok Bermain, lintas agama.
Acara diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan-sambutan, hingga ikrar Halal Bihalal yang dipimpin Budi Wahyu Dianto dan diterima oleh Doko Harwanto.
Memasuki sesi inti, tausiyah Edi Mufidun langsung memikat perhatian. Dengan gaya khasnya yang komunikatif dan humoris, ia mampu mencairkan suasana sekaligus menghadirkan kekhidmatan yang mendalam.

Dalam ceramahnya, ia menekankan konsep kecerdasan sejati menurut ajaran Nabi Muhammad SAW. Ia mengingatkan bahwa manusia yang cerdas adalah mereka yang selalu mengingat kematian.
“Kematian itu pasti. Bukan soal kapan, tapi apa yang sudah kita siapkan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan reflektif yang membuat hadirin terdiam sejenak,
“Semua yang bernyawa pasti akan mati, bisa jadi bapak ibu duluan, atau saya belakangan. Saya ngalah tidak masalah,” tuturnya disambut senyum dan haru jamaah.
Tak hanya itu, ia mengulas pentingnya menjaga ukhuwah dalam berbagai dimensi, mulai dari ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, hingga ukhuwah insaniyah.
Ia juga mengutip nilai-nilai dalam Al-Qur’an tentang ciri orang bertakwa, yakni gemar bersedekah, mampu menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik kepada sesama.
Menurutnya, kehidupan dunia hanyalah sementara dan segala yang dicintai pasti akan berpisah. Oleh karena itu, setiap amal perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

“Kematian itu pasti. Bukan soal kapan, tapi apa yang sudah kita siapkan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan reflektif yang membuat hadirin terdiam sejenak,
“Semua yang bernyawa pasti akan mati, bisa jadi bapak ibu duluan, atau saya belakangan. Saya ngalah tidak masalah,” tuturnya disambut senyum dan haru jamaah.
Tak hanya itu, ia mengulas pentingnya menjaga ukhuwah dalam berbagai dimensi, mulai dari ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, hingga ukhuwah insaniyah.
Ia juga mengutip nilai-nilai dalam Al-Qur’an tentang ciri orang bertakwa, yakni gemar bersedekah, mampu menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik kepada sesama.
Menurutnya, kehidupan dunia hanyalah sementara dan segala yang dicintai pasti akan berpisah. Oleh karena itu, setiap amal perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

“Tugas kita adalah menjadi manusia yang cerdas, yang selalu ingat kematian dan memperbanyak amal kebaikan,” tegasnya.
Selain penuh hikmah, suasana juga diwarnai gelak tawa. Interaksi hangat antara penceramah dan jamaah membuat acara semakin hidup. Bahkan, dua guru PAUD yang diminta maju ke depan mendapat hadiah, menambah keceriaan suasana.
Salah satu jamaah, Afi, mengaku sangat terkesan dengan penyampaian tausiyah tersebut.
“Penyampaiannya jelas, lucu, tidak membosankan. Kami jadi senang, bahagia, dan tidak mengantuk,” ungkapnya.
Acara ditutup dengan doa oleh Edi Mufidun, dilanjutkan saling bersalaman serta makan bersama dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.
Pewarta: Nursoleh
Selain penuh hikmah, suasana juga diwarnai gelak tawa. Interaksi hangat antara penceramah dan jamaah membuat acara semakin hidup. Bahkan, dua guru PAUD yang diminta maju ke depan mendapat hadiah, menambah keceriaan suasana.
Salah satu jamaah, Afi, mengaku sangat terkesan dengan penyampaian tausiyah tersebut.
“Penyampaiannya jelas, lucu, tidak membosankan. Kami jadi senang, bahagia, dan tidak mengantuk,” ungkapnya.
Acara ditutup dengan doa oleh Edi Mufidun, dilanjutkan saling bersalaman serta makan bersama dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.
Pewarta: Nursoleh

0 Komentar