Breaking News

AI SIAP

Bukan Menolak Shalawatan, Tapi Meluruskan Makna: Sikap Tegas PWI-LS Boyolali Jaga Marwah NU


Boyolali, WINews --
 Sikap tegas yang ditunjukkan Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) Kabupaten Boyolali dengan pemasangan spanduk penolakan terhadap konser sejumlah habib menuai perhatian publik. Namun, penting dipahami bahwa langkah tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap kegiatan keagamaan seperti shalawatan maupun pengajian.

Sebaliknya, PWI-LS menegaskan bahwa sikap ini lahir dari kegelisahan mendalam terhadap adanya dugaan pemelintiran makna, distorsi identitas, serta narasi yang dinilai berpotensi mengaburkan marwah Nahdlatul Ulama (NU).

Kontroversi Lirik Shalawat Jadi Pemicu

Polemiк ini mencuat setelah beredarnya lirik shalawat yang dilantunkan oleh seorang tokoh dari Solo, yang dinilai menyebut figur tertentu sebagai “gurune NU” dan “idolane NU”. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari kalangan Nahdliyyin, karena dianggap tidak sesuai dengan sejarah, tradisi, dan garis keilmuan NU.

Bagi warga NU, penyebutan tersebut bukan sekadar persoalan syair, melainkan menyangkut legitimasi organisasi yang telah dibangun oleh para ulama selama puluhan tahun. NU memiliki sanad keilmuan yang jelas, tradisi yang kuat, serta perjalanan panjang yang tidak bisa direduksi melalui narasi sepihak.

Menjaga Identitas, Bukan Menebar Kebencian

Ketua dan jajaran PWI-LS Kabupaten Boyolali di bawah komando Ngatiman menegaskan bahwa langkah ini bukanlah bentuk kebencian terhadap individu atau kelompok tertentu. Justru sebaliknya, ini merupakan upaya menjaga kemurnian identitas dan kehormatan organisasi.

“Ini bukan soal menolak shalawatan atau pengajian. Ini soal menjaga marwah dan meluruskan pemahaman agar tidak terjadi kekeliruan di tengah umat,” tegas pernyataan internal PWI-LS.

Mereka juga mengingatkan bahwa kecintaan terhadap NU harus diwujudkan dalam bentuk menjaga nilai, sejarah, dan ajaran yang telah diwariskan para kiai dan ulama.


Penegasan Batas Identitas Organisasi

PWI-LS juga menyoroti pentingnya kejelasan identitas antarorganisasi. Setiap kelompok, termasuk entitas seperti Rabithah Alawiyah, memiliki ruang dan koridor masing-masing.

Upaya menempelkan identitas pada NU dengan cara yang tidak tepat dinilai justru berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Kejelasan batas ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keutuhan umat.

Seleksi Moral dan Intelektual di Ruang Publik

Dalam konteks yang lebih luas, PWI-LS menilai bahwa penolakan terhadap figur tertentu bukanlah tindakan anti-ulama. Sebaliknya, hal ini merupakan bentuk seleksi moral dan intelektual yang wajar dilakukan oleh umat.

Masyarakat memiliki hak untuk menentukan siapa yang layak menjadi panutan, terutama dalam ruang publik yang berkaitan dengan ajaran, simbol, dan identitas keagamaan.

Cinta yang Melahirkan Ketegasan

Sikap tegas ini, menurut PWI-LS, justru lahir dari rasa cinta yang mendalam terhadap NU, para kiai, serta sejarah panjang organisasi tersebut. Cinta yang sejati tidak akan diam ketika melihat adanya penyimpangan.

Kabupaten Boyolali pun kini menjadi contoh bahwa menjaga marwah lebih penting daripada sekadar menjaga kenyamanan semu. Persatuan tidak boleh dibangun di atas kebingungan, melainkan di atas kejelasan dan kebenaran.

Pesan Tegas untuk Publik

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ruang keagamaan harus dijaga dari narasi yang berpotensi menyesatkan. Sikap PWI-LS Boyolali adalah pesan jelas bahwa kebenaran harus tetap dijaga, meski harus berhadapan dengan arus yang tidak selalu sejalan.

Ini bukan soal menolak shalawatan. Ini soal menolak pemelintiran makna.

Pewarta: Nursoleh 

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close