LABUHANBATU, WINews – Kreativitas pelajar tidak hanya tercermin dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan mereka melestarikan nilai sejarah dan budaya melalui karya seni. Hal inilah yang terlihat di SMA Negeri 3 Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, di mana para siswa berhasil menciptakan berbagai miniatur bangunan bersejarah khas Melayu sebagai media pembelajaran sekaligus bentuk pelestarian warisan budaya daerah.
Saat Jurnalis Warta Indonesia NEWS (WINews) melakukan kunjungan kerja ke SMA Negeri 3 Rantau Utara pada Senin, 13 Juli 2026, sekitar pukul 11.30 WIB, tampak sejumlah karya miniatur menghiasi ruang tamu sekolah. Berbagai bangunan ikonik tersebut merupakan hasil kreativitas siswa yang dibuat secara manual dengan penuh ketelitian.
Miniatur Bangunan Bersejarah Hasil Karya Siswa
Kepala SMA Negeri 3 Rantau Utara, Irmasari, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pembuatan miniatur bangunan bersejarah merupakan bagian dari upaya sekolah membangun karakter peserta didik melalui pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan berbasis budaya lokal.
Menurutnya, karya tersebut diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap sejarah, memperkuat identitas budaya Melayu, serta membentuk generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap warisan leluhur.
Adapun miniatur yang berhasil dibuat para siswa meliputi:
- Dua miniatur Istana Maimun, ikon Kesultanan Deli di Kota Medan.
- Satu miniatur Istana Melayu Deli.
- Satu miniatur Masjid Raya Al Mashun Medan, salah satu masjid bersejarah terbesar di Sumatera Utara.
- Dua miniatur bangunan kerajaan Melayu lainnya yang menjadi bagian dari kekayaan sejarah Sumatera Utara.
Seluruh karya tersebut dipajang di ruang tamu sekolah sebagai media edukasi sekaligus apresiasi terhadap hasil kreativitas peserta didik.
Pendidikan Karakter Melalui Pelestarian Budaya
Irmasari mengatakan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya bangsa.
"Melalui pembuatan miniatur bangunan bersejarah ini, siswa belajar mengenal sejarah Kesultanan Melayu, meningkatkan keterampilan berkarya, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya daerah," ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek yang mampu mengasah kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan inovasi siswa.
Guru Sejarah: Media Pembelajaran Lebih Menarik
Guru Mata Pelajaran Sejarah SMA Negeri 3 Rantau Utara, Yogi, menjelaskan bahwa proyek pembuatan miniatur merupakan salah satu metode pembelajaran agar siswa lebih mudah memahami perjalanan sejarah Kerajaan Melayu di Sumatera Utara.
Menurutnya, belajar sejarah melalui praktik langsung membuat siswa tidak hanya menghafal peristiwa, tetapi juga memahami nilai budaya dan peninggalan sejarah yang masih dapat disaksikan hingga saat ini.
"Kami ingin siswa mengenal dan mencintai sejarah daerahnya. Dengan membuat miniatur bangunan bersejarah, mereka lebih memahami nilai budaya sekaligus mengembangkan kreativitas dan keterampilan," ungkap Yogi kepada Jurnalis WINews.
Membangun Generasi Kreatif dan Berbudaya
Program pembelajaran berbasis karya seperti ini dinilai mampu menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam mengembangkan pendidikan karakter. Selain melatih ketelitian, kesabaran, dan kerja sama, kegiatan tersebut juga menjadi sarana melestarikan kekayaan budaya Melayu kepada generasi muda.
Di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi, pengenalan sejarah melalui media kreatif menjadi langkah strategis agar warisan budaya tetap dikenal dan dihargai oleh generasi penerus bangsa.
Karya-karya miniatur siswa SMA Negeri 3 Rantau Utara membuktikan bahwa pendidikan mampu menjadi jembatan antara kreativitas, budaya, dan sejarah, sehingga melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, serta memiliki rasa bangga terhadap identitas daerah dan bangsa.
Pewarta: DR. Rangkuti
Editor: Redaksi WINews


0 Komentar