Polres Pekalongan Sisir Pelosok Desa, Kawal Pengobatan Bayi 14 Hari Pengidap CTEV
PEKALONGAN, WINews - Upaya menjaga kesehatan generasi penerus tidak hanya dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, kepolisian turut turun langsung ke tengah masyarakat untuk memastikan bayi dengan kelainan bawaan lahir mendapatkan perhatian dan penanganan medis sedini mungkin.
Langkah tersebut dilakukan jajaran Polres Pekalongan Polda Jawa Tengah melalui tim Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) bersama Bhabinkamtibmas. Pada Jumat (28/6/2026), petugas menyambangi seorang bayi berusia 14 hari yang mengalami Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) atau yang lebih dikenal sebagai kaki pengkor.
Kunjungan dilakukan di wilayah Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, khususnya wilayah kerja Puskesmas Bojong II. Petugas tidak hanya melakukan pengecekan kondisi bayi, tetapi juga memberikan edukasi kepada keluarga sekaligus mendorong agar penanganan medis dilakukan sesegera mungkin.
Deteksi Dini CTEV Menjadi Perhatian
CTEV merupakan kelainan bentuk kaki yang sudah terjadi sejak bayi lahir. Kondisi ini membuat telapak kaki cenderung mengarah ke dalam dan ke bawah sehingga posisi kaki tidak normal.
Penanganan sedini mungkin menjadi hal penting karena jaringan kaki bayi masih relatif mudah dibentuk dibandingkan pada usia yang lebih besar. Dengan terapi yang tepat dan dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten, kondisi CTEV pada umumnya dapat ditangani sehingga anak memiliki peluang untuk tumbuh dan berjalan secara normal.
Karena itu, keberadaan petugas di lapangan dinilai penting untuk membantu menemukan kasus yang mungkin belum mendapatkan penanganan.
Dalam kunjungan tersebut, tim Sidokkes Polres Pekalongan bersama Bhabinkamtibmas melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi fisik bayi serta memastikan informasi mengenai kondisi yang dialami.
Selain aspek medis, perhatian juga diberikan kepada orang tua. Petugas memberikan pemahaman bahwa CTEV merupakan kondisi medis dan bukan disebabkan oleh mitos, kutukan, maupun stigma tertentu.
Polres Pekalongan Dorong Rujukan ke Dokter Spesialis
Setelah melakukan pemeriksaan awal, petugas memberikan pendampingan agar bayi mendapatkan penanganan lebih lanjut melalui fasilitas kesehatan dan dokter yang memiliki kompetensi di bidang ortopedi anak.
Salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam penanganan CTEV adalah Metode Ponseti. Terapi tersebut dilakukan secara bertahap untuk memperbaiki posisi kaki, antara lain melalui manipulasi dan pemasangan gips secara serial, kemudian dilanjutkan dengan tahapan perawatan sesuai kondisi masing-masing pasien.
Penentuan terapi tetap harus dilakukan oleh dokter berdasarkan pemeriksaan kondisi bayi. Karena itu, keluarga diimbau mengikuti seluruh jadwal kontrol dan instruksi tenaga kesehatan selama proses pengobatan.
Pendampingan kepolisian dalam kasus ini diarahkan agar keluarga tidak berhenti pada tahap pemeriksaan awal, tetapi terus mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan yang diperlukan.
Bhabinkamtibmas Hadir Membawa Solusi
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peran Bhabinkamtibmas di tengah masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Melalui pendekatan langsung ke desa-desa, Bhabinkamtibmas dapat menjadi penghubung antara masyarakat dengan berbagai layanan pemerintah maupun fasilitas kesehatan ketika ditemukan persoalan yang membutuhkan perhatian.
Dalam kasus bayi penderita CTEV ini, sinergi antara kepolisian, tenaga kesehatan, pemerintah desa dan keluarga menjadi bagian penting agar penanganan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pendekatan seperti ini juga menjadi bentuk kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus, terutama bayi dan anak-anak yang membutuhkan intervensi sejak usia dini.
Orang Tua Diminta Tidak Takut Memeriksakan Bayi
Kondisi kaki pengkor pada bayi dapat membuat orang tua khawatir, terutama ketika melihat bentuk kaki yang berbeda sejak lahir. Namun, keluarga tidak dianjurkan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak memiliki dasar medis.
Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan menjadi langkah pertama untuk memastikan jenis dan tingkat kelainan serta menentukan pilihan terapi yang sesuai.
Orang tua juga perlu memahami bahwa keberhasilan penanganan tidak hanya bergantung pada tindakan awal, tetapi juga kepatuhan terhadap jadwal kontrol, perawatan lanjutan, serta penggunaan alat penyangga atau brace apabila direkomendasikan dokter.
Dengan demikian, edukasi keluarga menjadi bagian penting dalam keseluruhan proses pemulihan.
Polres Pekalongan Tegaskan Pengawalan Berkelanjuta
Polres Pekalongan menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak berhenti pada kunjungan dan pendataan. Kepolisian berupaya melakukan koordinasi dengan tenaga kesehatan setempat agar bayi mendapatkan akses terhadap pemeriksaan dan pengobatan yang diperlukan.
Semangat tersebut sejalan dengan upaya kepolisian untuk menghadirkan pelayanan yang lebih dekat dengan masyarakat, termasuk dalam persoalan sosial dan kemanusiaan.
"Satu langkah kecil kunjungan kami bisa mengubah seluruh kehidupan si kecil selamanya. Deteksi dini, penanganan tepat, masa depan cerah," tegas perwakilan tim Dokkes Polres Pekalongan di lokasi.
Bagi keluarga, perhatian tersebut diharapkan menjadi dukungan moral sekaligus dorongan agar proses pengobatan bayi dapat dijalani secara konsisten.
Polres Pekalongan berkomitmen terus melakukan pemantauan di wilayahnya dan mendorong masyarakat segera memanfaatkan layanan kesehatan apabila menemukan kondisi kesehatan pada bayi maupun anak yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Langkah sederhana berupa deteksi dini, edukasi dan pendampingan dapat menjadi bagian penting dalam membuka akses terhadap pelayanan kesehatan sekaligus memberikan kesempatan yang lebih baik bagi anak untuk tumbuh dan berkembang.
Pewarta: Taufik Hidayat

0 Komentar