BANJARNEGARA, wartaindonesianews.co.id. – Bertempat di kawasan Kali Kidang, Kecamatan Purwareja Klampok, semangat nasionalisme dan penjagaan marwah sejarah leluhur membumbung tinggi dalam Pertemuan Ahad Pon yang digelar oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS) Kabupaten Banjarnegara.
Dalam orasi yang bernada tajam dan lugas, Ketua DPD PWI LS, Kiai Ahmad Muhaimin, menekankan bahwa Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman serius berupa pembelokan sejarah yang terstruktur.
Menurutnya, ada upaya sistematis yang dilakukan oleh kelompok imigran tertentu untuk mengaburkan peran asli para pejuang pribumi dan Wali Nusantara dalam membangun fondasi bangsa ini.
Penyelamatan Sejarah dari Distorsi
Kyai H. Muhaimin menegaskan bahwa PWI LS berdiri di garis depan untuk menghentikan dominasi narasi sejarah yang dianggapnya telah dimanipulasi.
"Kita tidak boleh tinggal diam melihat sejarah bangsa ini dibelokkan secara sistematis oleh narasi-narasi luar yang mengklaim lebih dari kenyataannya. Menyelamatkan sejarah adalah bentuk harga diri bangsa.
Penguatan Akar Perjuangan
Senada dengan hal tersebut, Kyai H. Kamalin selaku sesepuh PWI LS Banjarnegara bersama Kyai H. Hamid turut memberikan penguatan spiritual dan historis. Keduanya memaparkan urgensi terbentuknya wadah Laskar Sabilillah sebagai benteng pertahanan ideologi dan sejarah lokal.
Kyai H. Hamid dalam penyampaiannya menguraikan bahwa PWI LS bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan moral untuk mengembalikan jati diri bangsa yang selama ini tertutup oleh klaim-klaim sepihak.
Pesan Tegas dari Kali Kidang
Pertemuan Ahad Pon ini menghasilkan kesepakatan bulat dari seluruh pengurus dan anggota untuk:
Melawan segala bentuk glorifikasi berlebihan yang menepikan peran ulama dan pejuang Nusantara.
Mengedukasi masyarakat agar tidak terjebak dalam mitos sejarah yang menyesatkan.
Memperkuat persatuan di bawah panji Nusantara untuk menjaga kedaulatan budaya dan historiografi Indonesia.
Suasana di Kali Kidang sore itu ditutup dengan doa bersama, menandai tekad yang bulat bahwa sejarah Indonesia harus ditulis oleh tinta kejujuran, bukan oleh narasi imigran Yaman yang ingin berkuasa atas memori kolektif bangsa.
Pewarta : Nur S/Wawan G






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Budayakan komentar yang baik dan sopan. Dilarang spams