• Jelajahi

    Copyright © WARTA INDONESIA NEWS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    NEGARA DIKHIANATI? Dana Rp200 Triliun Raib, Target Ekonomi 8 Persen Terancam Jadi Wacana

    Pisbon
    23 Jan 2026, 12:27 WIB
    NEGARA DIKHIANATI? Dana Rp200 Triliun Raib

    Jakarta | WartaIndonesiaNews.co.id - Target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen yang selama ini digaungkan pemerintah mulai terdengar seperti slogan seminar gratisan. Bukan tanpa sebab. Publik dikejutkan oleh kabar lenyapnya dana hingga Rp200 triliun, sebuah angka yang bukan cuma bikin kening berkerut, tapi juga bikin kalkulator minta pensiun dini.

    Angka fantastis itu mencuat ke ruang publik setelah sejumlah pengamat dan narasi kritis menyebut adanya kebocoran besar dalam pengelolaan keuangan negara, khususnya yang berkaitan dengan proyek, subsidi, hingga skema ekonomi strategis yang seharusnya menopang pertumbuhan nasional.

    Kalau Rp200 triliun itu uang receh, mungkin masih bisa dicari di sela-sela sofa. Masalahnya, ini uang negara.


    Rp200 Triliun Hilang, Bukan Sulap Bukan Sihir

    Dalam narasi yang beredar luas, dana ratusan triliun rupiah itu diduga menguap akibat kebijakan yang tidak tepat sasaran, proyek yang tidak transparan, serta tata kelola yang lebih banyak rapat daripada hasil.

    Dana sebesar itu sejatinya bisa digunakan untuk:

    • Membangun jutaan lapangan kerja

    • Menambal defisit sektor produktif

    • Menguatkan UMKM agar tidak cuma kuat di spanduk

    Namun realitasnya, angka tersebut justru menjadi simbol baru dari ekonomi bocor halus tapi konsisten.

    Sebagai catatan kecil dari penulis:

    Kalau uang negara bisa hilang segampang itu, jangan salahkan rakyat kalau saldo e-wallet-nya juga sering tiba-tiba kosong.


    Target Ekonomi 8 Persen: Ambisi atau Ilusi?

    Pemerintah sebelumnya menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen sebagai fondasi Indonesia Emas. Target ini terdengar indah di presentasi, namun menjadi rapuh ketika kebocoran anggaran tidak ditangani secara serius.

    Para analis menilai, tanpa perbaikan mendasar pada:

    • Efisiensi belanja negara

    • Pengawasan anggaran

    • Penegakan hukum ekonomi

    maka angka 8 persen hanya akan menjadi hiasan pidato, bukan realitas statistik.

    Ironisnya, di saat rakyat diminta hemat, negara justru bocor dari banyak sisi.


    Publik Bertanya: Siapa yang Bertanggung Jawab?

    Pertanyaan klasik tapi selalu relevan kembali menggema:
    Siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya Rp200 triliun ini?

    Hingga kini, belum ada penjelasan detail yang benar-benar menenangkan publik. Transparansi masih sebatas janji, sementara rakyat sudah kenyang dengan kata “akan”.

    Sebagian pihak mendesak:

    • Audit menyeluruh

    • Pembukaan data ke publik

    • Penindakan tanpa pandang jabatan

    Karena jika tidak, kepercayaan publik bisa ikut menguap, menyusul dana yang sudah lebih dulu hilang.


    Catatan Penulis: Negara Kuat Bukan dari Target, Tapi dari Kejujuran

    Sebagai penulis yang tiap hari hidup dari berita, saya selalu percaya satu hal:
    negara tidak runtuh karena miskin, tapi karena kebocoran yang dibiarkan.

    Target ekonomi boleh tinggi, visi boleh megah, tapi tanpa tata kelola yang bersih, semua itu hanya akan jadi headline sesaat.

    Dan rakyat?
    Seperti biasa, diminta sabar.


    Oleh: ARCava
    WartaIndonesiaNews.co.id

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Budayakan komentar yang baik dan sopan. Dilarang spams