
SEMARANG, wartaindonesianews.co.id – Di tengah geliat perkembangan dunia kesehatan nasional, sebuah langkah besar tengah ditempuh oleh Rumah Sakit Islam Sultan Agung, Kota Semarang.
Bukan sekadar pengembangan fasilitas fisik, rumah sakit ini kini menapaki babak baru dalam dunia kedokteran regeneratif melalui pengembangan terapi sel autologus berbasis teknologi iPSCs (induced Pluripotent Stem Cells).
Langkah ini diperkuat dengan kembalinya para ilmuwan dan dokter muda lulusan berbagai universitas ternama luar negeri ke Fakultas Kedokteran Unissula dan RSI Sultan Agung.
Mereka membawa semangat pengabdian sekaligus pengetahuan mutakhir yang selama ini berkembang di pusat-pusat riset dunia.
Memanfaatkan Sel Tubuh Sendiri
Selama bertahun-tahun, terapi sel punca embrio dikenal luas karena kemampuannya berubah menjadi berbagai jenis sel tubuh.
Namun, penggunaannya kerap menimbulkan perdebatan etik dan keagamaan.
Berangkat dari kebutuhan akan solusi yang lebih etis dan sesuai prinsip syariah, RSI Sultan Agung mengembangkan pendekatan berbeda melalui teknologi iPSCs.
Teknologi ini memungkinkan sel dewasa seperti sel kulit atau jaringan mukosa mulut diproses kembali melalui teknik reprogramming hingga kembali pada kondisi pluripoten.
Artinya, sel yang sebelumnya memiliki fungsi terbatas dapat “diputar balik” menjadi sel muda yang berpotensi berkembang menjadi berbagai jenis jaringan tubuh, seperti sel saraf atau sel jantung.
Dengan pendekatan ini, secuil jaringan tubuh dapat menjadi harapan baru bagi pasien stroke, gangguan jantung, maupun penyakit degeneratif lainnya.
Terapi Autologus: Lebih Aman dan Minim Risiko
Konsep utama yang diusung adalah terapi autologus, yakni penggunaan sel yang berasal dari tubuh pasien itu sendiri. Pendekatan ini memiliki sejumlah keunggulan medis.
Karena sel berasal dari pasien yang sama, risiko penolakan oleh sistem imun menjadi sangat kecil.
Pasien tidak perlu bergantung pada obat penekan imun jangka panjang sebagaimana dalam transplantasi organ konvensional.
Selain itu, metode ini dinilai lebih aman dan selaras dengan prinsip halal dan thoyib karena tidak melibatkan penggunaan embrio.
Pendekatan ini juga sejalan dengan konsep Personalized and Precision Medicine, yakni pengobatan yang dirancang spesifik sesuai kondisi biologis masing-masing pasien.
Dari Sekadar Meredakan, Menuju Regenerasi
Selama ini, banyak terapi untuk penyakit kronis dan degeneratif bersifat paliatif sekadar meredakan gejala tanpa memperbaiki kerusakan jaringan secara mendasar.
Kehadiran terapi berbasis sel regeneratif membuka peluang pergeseran paradigma, dari sekadar mengontrol penyakit menuju upaya perbaikan dan regenerasi jaringan yang rusak.
Meski pengembangan teknologi ini tetap membutuhkan tahapan riset, uji klinis, serta pengawasan ketat sesuai regulasi medis nasional, langkah yang ditempuh RSI Sultan Agung menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dalam pengembangan bioteknologi kesehatan.
Ikhtiar Ilmu dan Nilai Keislaman
Inovasi ini bukan hanya tentang kemajuan laboratorium, melainkan tentang keberanian menggabungkan sains modern dengan nilai-nilai keislaman.
RSI Sultan Agung menunjukkan bahwa teknologi mutakhir dapat dikembangkan tanpa meninggalkan prinsip etika dan keyakinan.
Semangat ini menjadi simbol kedaulatan kesehatan bangsa bahwa anak negeri mampu mengembangkan teknologi kelas dunia di tanah air sendiri.
Dengan dukungan masyarakat, akademisi, dan pemerintah, diharapkan terapi sel autologus ini kelak menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Indonesia menuju pusat unggulan kedokteran regeneratif di kawasan.
Ikhtiar manusia memang memiliki batas, namun melalui ilmu pengetahuan dan niat pengabdian, batas itu terus diperluas demi menghadirkan harapan dan kesembuhan yang lebih baik bagi umat dan bangsa.
Pewarta: Nur S


Tidak ada komentar:
Posting Komentar