
BANJARNEGARA, wartaindonesianews.co.id - Bumi Punggelan mendadak membara. Pengajian rutin Ahad Pon DPD PWI Laskar Sabilillah (LS) Banjarnegara yang digelar di Desa Danakerta bukan sekadar ritual doa, melainkan sebuah manifestasi perlawanan terhadap ketergantungan ekonomi. Di tengah khidmatnya ayat-ayat suci, terselip pesan tajam: Perjuangan tanpa kedaulatan ekonomi adalah omong kosong!
Eksistensi yang Menggetarkan: "Kami Bukan Lagi Tamu di Rumah Sendiri"
"Eksistensi kita di Banjarnegara bukan lagi pengakuan yang diminta, tapi kenyataan yang harus diterima semua pihak. Laskar Sabilillah adalah pilar yang kokoh, dan kami di sini untuk mewarnai arah pergerakan daerah!" tegas Kyai Muhaimin di hadapan ratusan jamaah yang memadati lokasi di Danakerta, Punggelan.
Orasi "Berdikari" Kyai Nursoleh: Bakar Semangat di Bumi Punggelan
Puncak ketajaman acara terjadi saat Kyai Nursoleh naik ke podium. Dengan orasi yang membakar semangat, ia memberikan "tamparan" bagi siapa pun yang merasa puas hanya dengan label organisasi tanpa kekuatan finansial.

"Kita harus semangat! PWI LS harus berdikari secara ekonomi!" teriak Kyai Nursoleh yang disambut gema takbir.
Ia menekankan bahwa kekuatan iman harus berjalan beriringan dengan kekuatan kantong. Tanpa kemandirian ekonomi, organisasi hanya akan menjadi alat politik pihak lain.
Haramkan Tangan di Bawah: Anggota Laskar Sabilillah dituntut memiliki unit usaha mandiri.
Kedaulatan Marwah: Ekonomi yang kuat adalah perisai agar harga diri organisasi tidak bisa dibeli dengan recehan.

Raker dan Ritual Tumpeng Sadran: Simbol Syukur dan Tekad Baja
Bukan sekadar bicara, acara ini langsung dikonkretkan dengan Rapat Kerja (Raker) maraton untuk menyusun strategi jangka panjang organisasi. Agenda ini menjadi bukti bahwa Laskar Sabilillah Banjarnegara dikelola secara profesional dan visioner.
Sebagai penutup yang sarat akan makna humanis dan budaya, dilakukan prosesi Potong Tumpeng Sadran. Ritual ini bukan sekadar tradisi makan bersama, melainkan simbol:
Penyucian Niat: Membersihkan hati sebelum melangkah dalam perjuangan ekonomi.
Solidaritas Tanpa Batas: Pemimpin dan anggota makan dari satu tumpeng yang sama, simbol kesetaraan nasib.
Optimisme Masa Depan: Tumpeng yang menjulang adalah harapan agar ekonomi Laskar Sabilillah terus tumbuh melangit namun tetap berpijak pada bumi (kerakyatan).
Pewarta: Wawan Guritno
Optimisme Masa Depan: Tumpeng yang menjulang adalah harapan agar ekonomi Laskar Sabilillah terus tumbuh melangit namun tetap berpijak pada bumi (kerakyatan).
Pewarta: Wawan Guritno


Tidak ada komentar:
Posting Komentar