
Jakarta, wartaindonesianews.co.id - 20 Februari 2026. Nasib ribuan guru di Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menjadi sorotan. Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Online Dwipantara (PWO Dwipa), Feri Rusdiono, menyampaikan keprihatinan mendalam atas belum cairnya Tunjangan Profesi Guru (TPG) dan Tunjangan Hari Raya (THR) tahun 2025 yang hingga kini masih tertahan.
Menurut Feri, keterlambatan tersebut bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup para guru dan keluarganya. “Kami sangat prihatin. TPG dan THR itu adalah hak yang sudah seharusnya diterima para guru. Menahannya terlalu lama sama saja menambah beban hidup mereka,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (20/2/2026).
Ia mendesak Gubernur NTB agar segera mengambil langkah konkret dan tegas untuk memastikan pencairan hak para pendidik tersebut. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, penundaan tunjangan dinilai semakin memperberat beban para guru, baik yang berstatus ASN maupun honorer.
Tak hanya itu, Feri juga meminta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk turun tangan melakukan evaluasi serta pengawasan terhadap persoalan yang terjadi di daerah. Menurutnya, keterlambatan yang berlarut-larut berpotensi menurunkan motivasi mengajar dan berdampak pada kualitas pendidikan.
Data dari Dinas Pendidikan NTB menyebutkan, ribuan guru masih menunggu pencairan TPG dan THR sejak akhir 2025. Dugaan sementara, keterlambatan ini berkaitan dengan kendala anggaran daerah, meskipun alokasi dari pemerintah pusat dikabarkan telah tersedia.
Sebagai organisasi jurnalis independen, PWO Dwipa juga meminta adanya transparansi dari pemerintah daerah terkait penyebab pasti keterlambatan dan jadwal pencairan yang jelas. “Guru adalah pilar pendidikan bangsa. Kesejahteraan mereka tidak boleh diabaikan,” tegas Feri.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Provinsi NTB maupun pihak terkait belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan tersebut.
Tim Redaksi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar