
BANJARNEGARA, wartaindonesianews.co.id- Wanadadi Ketika narasi tentang kemiskinan ekstrem dan kesenjangan sosial semakin mendominasi ruang publik, sebuah oase kepedulian muncul dari jantung Wanadadi. LSM Harimau PAC Wanadadi, sebuah Lembaga Swadaya masyarakat yang dikenal vokal dan peduli, sekali lagi menunjukkan taringnya, bukan untuk mengaum dalam protes, melainkan untuk menyebar kehangatan dan kebersamaan.

Pada sore yang syahdu menjelang buka puasa, (Selasa 24 feb 2026), ratusan warga di sekitar destinasi wisata Monumen Besar Sudirman (MBS) di Desa Tapen, Kecamatan Wanadadi, dikejutkan dengan aksi mulia. Di bawah komando langsung Ketua Gito Waluya Jati, bersama segenap pengurus dan anggota, LSM Harimau PAC Wanadadi membagikan tak kurang dari 500 paket takjil gratis.

"Ini bukan sekadar takjil. Ini adalah simbol persatuan, harapan, dan bukti bahwa di Wanadadi ini, semangat gotong royong tidak akan pernah mati," tegas Gito Waluya Jati dengan mata berbinar, di sela-sela keramaian pembagian. "Kami ingin berbagi kebahagiaan, terutama bagi saudara-saudara kita yang mungkin kesulitan memenuhi kebutuhan buka puasa, atau mereka yang sedang dalam perjalanan dan singgah di sekitar MBS."

Namun, di balik senyum dan rasa syukur yang terpancar dari wajah para penerima takjil, tersimpan pertanyaan mendalam. Mengapa aksi bagi-bagi takjil semacam ini masih sangat dibutuhkan di Wanadadi? Apakah ini indikasi bahwa janji-janji kesejahteraan belum sepenuhnya menyentuh akar rumput, bahkan di daerah yang memiliki potensi wisata seperti MBS?

Penelusuran singkat tim kami menunjukkan bahwa banyak warga di sekitar MBS, meski berada dekat dengan ikon pariwisata, masih berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beberapa di antaranya adalah pekerja serabutan, pedagang kecil, hingga pengemudi ojek yang pendapatannya sangat fluktuatif. Kehadiran MBS memang membawa dampak ekonomi, namun distribusinya belum merata.

"Kadang cuma bisa makan sekali sehari, Mas. Kalau ada yang bagi-bagi begini ya alhamdulillah, sangat membantu," ujar Ibu Siti, seorang warga lokal yang turut menerima takjil, dengan suara lirih. Pernyataan serupa juga datang dari Bapak Rudi, seorang tukang becak. "Seharian narik belum tentu dapat serupiah. Takjil ini rezeki di bulan puasa."

Provokasi Positif: Mengapa Pemerintah dan Pemangku Kebijakan Harus Lebih Peka?
Aksi heroik LSM Harimau PAC Wanadadi ini sejatinya adalah sebuah "tamparan halus" bagi para pemangku kebijakan. Ini adalah cermin yang menunjukkan bahwa meski berbagai program digulirkan, celah-celah kebutuhan dasar masyarakat masih ada dan harus segera diisi.

Ketua GitoWaluyaJati sendiri, dalam pernyataannya, tidak hanya berhenti pada aksi sosial. Ia juga menyerukan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil untuk menciptakan solusi jangka panjang. "Kami berharap aksi kecil ini bisa menjadi pemantik. Pemantik agar kita semua, terutama pihak-pihak yang memiliki kekuatan dan kebijakan, lebih peka dan bergerak bersama. Potensi Wanadadi luar biasa, jangan sampai warganya tertinggal dalam kemajuan," pungkas Gito dengan nada penuh harap namun juga tegas.

Aksi bagi-bagi takjil ini mungkin hanya setetes air di tengah lautan permasalahan. Namun, setetes air ini cukup untuk menunjukkan bahwa kepedulian masih ada, dan bahwa suara hati nurani masyarakat sipil tidak akan pernah bungkam. Ini adalah panggilan untuk bertindak, bukan hanya bagi LSM Harimau PAC Wanadadi, melainkan bagi kita semua, untuk menciptakan Wanadadi yang lebih adil dan sejahtera.
Pewarta: Wawan Guritno
0 Komentar