Semarang, wartaindonesianews.co.id. --Di tengah dunia kedokteran yang kian bergerak cepat dalam arus industrialisasi, lahir sebuah gagasan yang tak sekadar berbicara tentang terapi, tetapi tentang kedaulatan profesi dan hakikat penyembuhan itu sendiri.
Gagasan itu disebut “Apotik dalam Tubuh” - sebuah filosofi medis yang diperjuangkan oleh dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., Direktur Utama RSI Sultan Agung sekaligus Ketua DPP IKA Universitas Islam Sultan Agung.
Bagi dr. Agus, tubuh manusia bukan sekadar objek terapi, melainkan subjek penyembuhan yang memiliki potensi biologis luar biasa. Potensi itulah yang harus diolah dengan ilmu, keterampilan, dan keberanian intelektual.
Melawan Arus Industrialisasi Medis
Kegelisahan dr. Agus berangkat dari realitas dunia kesehatan yang semakin mekanistik. Dalam pandangannya, dokter tak boleh tereduksi menjadi “perpanjangan tangan industri” yang hanya mengandalkan produk massal tanpa mengembangkan kompetensi klinis.
Ia menegaskan, dokter sejati adalah intelektual yang mampu mengelola potensi biologis pasien secara mandiri dan bermutu. Autologus- terapi berbasis sel atau komponen biologis pasien sendiri - menjadi jalan perjuangan tersebut. Di sinilah “apotik dalam tubuh” dimaknai: tubuh memiliki perangkat penyembuh alami yang jika dioptimalkan secara ilmiah, mampu menghadirkan terapi yang presisi, aman, dan personal.
Dukungan Institusi: Dari Kampus ke Rumah Sakit
Langkah visioner ini mendapat dukungan penuh dari Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) serta Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), termasuk Fakultas Kedokterannya.
Kolaborasi ini semakin kokoh dengan hadirnya para akademisi dan klinisi lulusan luar negeri. Salah satunya adalah dr. Fikri, Ph.D., Sp.JP, yang membawa pulang penguasaan teknologi iPSC (Induced Pluripotent Stem Cells), terinspirasi dari temuan revolusioner Shinya Yamanaka. Teknologi ini membuka cakrawala baru dalam pengembangan terapi regeneratif di Indonesia.
Di bawah kepemimpinan dr. Agus, RSI Sultan Agung tidak sekadar menjadi fasilitas layanan kesehatan, tetapi juga laboratorium inovasi medis berbasis autologus yang aplikatif.
Simfoni Multidisiplin: Autologus Menembus Batas Spesialisasi
Konsep autologus yang diinisiasi kini berkembang dalam pendekatan multidisiplin. Terapi ini diterapkan dalam berbagai bidang:
Radiologi intervensi dan endovaskuler, untuk intervensi presisi melalui pembuluh darah.
Anestesi, neurologi, dan penyakit dalam, menjaga stabilitas sistemik pasien.
Oftalmologi, obstetri-ginekologi, dermatologi, THT, hingga urologi, sebagai bagian dari aplikasi regeneratif lintas organ.
Pendekatan ini bukan sekadar mengikuti tren global, melainkan upaya membangun kompetensi nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi kesehatan, tetapi juga produsen inovasi klinis yang berdaulat.
Fenomena “Homing” dan Dimensi Syariah
Dalam kajian ilmiahnya, dr. Agus menyoroti fenomena homing-kemampuan sel autologus untuk “menemukan jalan pulang” ke jaringan yang mengalami kerusakan.
Secara biologis, sel yang berasal dari tubuh pasien sendiri memiliki risiko reaksi imun yang lebih rendah dibandingkan sel alogenik.
Tak hanya berhenti pada aspek ilmiah, perjuangan ini juga menyentuh dimensi etik dan syariah.
Dengan pendekatan prinsip istihalah, pengolahan material biologis pasien dilakukan secara mandiri dan memenuhi kaidah Halalan Thayyiban.
Hal ini menjadi landasan penting bagi pengembangan kedokteran regeneratif di lingkungan institusi berbasis nilai Islam.
Laboratorium Autologus RSI Sultan Agung pun diarahkan menjadi pusat rujukan dan kolaborasi internasional, menjembatani ilmu pengetahuan modern dengan nilai etika dan spiritualitas.
Mengukir Martabat Kedokteran Indonesia
Di bawah payung Undang-Undang Kesehatan No. 17 Tahun 2023, inisiasi “Apotik dalam Tubuh” menjadi simbol keberanian.
Oleh: Dewan Redaksi Warta Indonesia News | Pewarta : Nur S

0 Komentar