![]() |
| Ramadan Bukan Cuma Nahan Lapar! Dokter Ungkap “Simfoni Biomolekuler” |
Semarang, WINews – Kalau selama ini puasa Ramadan cuma dianggap urusan nahan haus, lapar, dan godaan es teh jumbo, ternyata dari sisi medis ceritanya jauh lebih “canggih”. Menurut Agus Ujianto, puasa adalah proses biologis presisi tinggi yang membuat tubuh melakukan restorasi autologus mandiri alias tubuh jadi “dokter” buat dirinya sendiri.
Dokter yang juga menjabat sebagai Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang ini menyebut Ramadan sebagai laboratorium biologi alami yang bekerja sistematis selama 30 hari. Jadi bukan sekadar ibadah spiritual, tapi juga momen reset biomolekuler.
🔬 Fase Awal Ramadan: Mode Bersih-Bersih Sel Dimulai
Di hari-hari pertama Ramadan, tubuh langsung masuk ke mode hemat energi. Penurunan asupan glukosa memicu aktivasi AMPK semacam “saklar pusat energi” dalam sel. Begitu saklar ini aktif, tubuh berhenti menimbun lemak dan mulai membersihkan diri lewat proses yang dikenal sebagai autofagi.
Singkatnya?
Sel-sel kita lagi beberes. Protein rusak, organel tua, dan “sampah seluler” diinventarisasi lalu didaur ulang jadi energi baru. Tubuh lagi kerja rodi diam-diam, sementara kita cuma mikir menu buka puasa.
🧬 Fase Pertengahan: Stem Cell Bangun, Sistem Imun Reset
Masuk pertengahan Ramadan, mekanisme berubah dari sekadar pembersihan jadi fase regenerasi. Kadar insulin turun drastis, sementara Human Growth Hormone (HGH) meningkat signifikan. Kombinasi ini menciptakan lingkungan ideal bagi sel punca (stem cells) untuk aktif kembali.
Dalam perspektif medis regeneratif, ini momen krusial. Tubuh mulai memperbaiki jaringan rusak secara mikroskopis. Bahkan sistem imun ikut “reset” sel darah putih tua dihancurkan, diganti dengan yang baru dan lebih kompeten.
Menurut dr. Agus, inilah yang disebut proses regenerasi autologus mandiri: tubuh jadi apoteker sekaligus ahli bedah buat dirinya sendiri. Gak ribet, gak bayar BPJS tambahan, tapi tetap ilmiah.
🧠 Sepuluh Hari Terakhir: Otak Ikut Upgrade
Menjelang akhir Ramadan, tubuh masuk level lebih tinggi lagi. Puasa memicu ekspresi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), protein yang memperkuat sinapsis dan meningkatkan plastisitas otak. Artinya, fungsi kognitif bisa lebih optimal.
Di level genetik, gen yang berkaitan dengan umur panjang seperti SIRT1 mulai aktif memperbaiki kerusakan DNA dan menjaga stabilitas epigenetik. Tubuh bukan sekadar bertahan dari lapar, tapi melakukan kalibrasi ulang sistem organ menuju efisiensi maksimal.
Ini bukan sekadar diet, ini orkestrasi biologis.
⚖️ Kunci Suksesnya? Jangan Balas Dendam Saat Buka
Dr. Agus mengingatkan, keberhasilan puasa secara medis bergantung pada bagaimana kita menjaga ritme biomolekuler ini agar tidak “rusak” oleh asupan berlebihan saat berbuka.
Kalau siangnya autofagi, malamnya all you can eat tiga ronde gorengan + sirup merah satu teko, ya sistemnya bisa kacau.
Ramadan idealnya ditutup bukan cuma dengan kemenangan spiritual, tapi juga transformasi seluler. Tubuh lebih efisien, sistem imun lebih segar, dan otak lebih stabil.
🌟 Harmoni Spiritual dan Sains
Melalui siklus 30 hari ini, Ramadan menghadirkan harmoni antara disiplin spiritual dan kepastian klinis. Puasa menjadi bukti bahwa ajaran ibadah bisa selaras dengan mekanisme biologis yang sangat presisi.
Salam hangat dari dr. Agus untuk pembaca WINews.
Karena ternyata, di balik rasa lapar itu, tubuh lagi konser biomolekuler kelas dunia.
Penulis: TeamRED WINews



Tidak ada komentar:
Posting Komentar