Breaking News

AI SIAP

Krisis Bahasa di Rumah Sakit: Ancaman Tersembunyi bagi Keselamatan Pasien

Oleh: Dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa.

WINews, Kesehatan - Dalam dunia medis modern, keselamatan pasien tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat atau keahlian dokter di ruang operasi. Justru, faktor paling mendasar sering kali terletak pada hal yang kerap diabaikan: komunikasi.

Di ruang operasi, presisi adalah segalanya. Namun, presisi sejati dimulai jauh sebelum tindakan medis dilakukan—yakni sejak pasien pertama kali menyampaikan keluhan di ruang konsultasi atau Unit Gawat Darurat. Lalu muncul pertanyaan krusial: bagaimana jika dokter dan pasien tidak berbicara dalam bahasa yang sama?

Fenomena ini menjadi tantangan serius di tengah meningkatnya mobilitas manusia lintas daerah dan negara. Rumah sakit kini menjadi ruang multikultural dengan latar belakang bahasa yang beragam. Sayangnya, banyak institusi kesehatan masih menangani kendala bahasa secara tidak sistematis, bahkan mengandalkan keluarga pasien sebagai penerjemah.

Padahal, praktik tersebut sangat berisiko. Keterbatasan pemahaman istilah medis, faktor emosional, hingga potensi penyembunyian informasi penting dapat menyebabkan distorsi komunikasi. Dampaknya tidak main-main: mulai dari kesalahan diagnosis, keterlambatan penanganan, hingga risiko salah pemberian obat.

Dalam kerangka pelayanan modern seperti Biological Smart Quick Action Treatment (BiSQuAT), kecepatan dan ketepatan menjadi kunci. Namun, tanpa komunikasi yang efektif, konsep “smart” dan “quick” sulit diwujudkan. Anamnesis yang tersendat akibat hambatan bahasa justru membuka celah besar terhadap keselamatan pasien.

Untuk itu, konsep “Hospital Loves Languages” menjadi sebuah urgensi, bukan sekadar inovasi. Rumah sakit yang ingin bertransformasi menjadi institusi global harus mulai membangun ekosistem komunikasi yang inklusif dan terstruktur.

Langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain menghadirkan juru bahasa medis profesional, memanfaatkan teknologi digital untuk penerjemahan real-time, serta mengintegrasikan preferensi bahasa pasien dalam sistem Rekam Medis Elektronik. Selain itu, penyediaan dokumen medis dalam berbagai bahasa juga menjadi kebutuhan mendesak.

Lebih dari sekadar strategi pelayanan, pendekatan ini merupakan wujud penghormatan terhadap martabat manusia. Dalam perspektif kemanusiaan, memahami bahasa pasien adalah bentuk empati paling mendasar.

Sudah saatnya rumah sakit di Indonesia melihat keberagaman bahasa bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai standar baru dalam pelayanan kesehatan. Karena pada akhirnya, penyembuhan terbaik selalu berawal dari satu hal sederhana: saling memahami. Pewarta : Nursoleh

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close