JAKARTA, WINews – Dinamika geopolitik dunia kembali memanas seiring meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah dan persaingan ekonomi global antara Amerika Serikat, China, Rusia, hingga Iran. Situasi tersebut memunculkan berbagai spekulasi terkait arah baru hubungan diplomatik dan perdagangan internasional pada 2026.Pakar Hukum Internasional dan Ekonom Nasional, Sutan Nasomal, menilai langkah pendekatan Amerika Serikat terhadap China menunjukkan adanya kepentingan strategis yang lebih besar, terutama terkait stabilitas perdagangan global dan keamanan jalur energi dunia.
Menurutnya, kondisi ekonomi dan geopolitik global saat ini membuat Amerika Serikat harus membuka komunikasi baru dengan China, termasuk kemungkinan kerja sama perdagangan dan penurunan hambatan tarif antar kedua negara.
“Amerika Serikat saat ini membutuhkan stabilitas baru dalam hubungan internasional. Pendekatan terhadap China dinilai penting untuk menjaga kepentingan perdagangan global serta menciptakan situasi ekonomi yang lebih kondusif,” ujar Prof Dr Sutan Nasomal SH MH saat dihubungi para pimpinan redaksi media nasional dan internasional dari Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Ia menambahkan, hubungan China dengan Iran dinilai memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Ketegangan Timur Tengah Jadi Sorotan Dunia
Konflik berkepanjangan yang melibatkan Iran, Israel, dan sekutu-sekutunya disebut telah memicu kekhawatiran global. Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan militer di kawasan Timur Tengah terus meningkat dan berdampak terhadap ekonomi dunia, terutama harga energi dan distribusi logistik internasional.
Prof Sutan Nasomal menilai dunia kini memasuki fase perubahan besar dalam peta kekuatan global. Menurutnya, negara-negara besar seperti China, Rusia, Iran, dan Korea Utara disebut mulai memperlihatkan konsolidasi kekuatan dalam menghadapi dominasi Amerika Serikat dan sekutunya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa konflik berskala besar berpotensi menimbulkan dampak ekonomi serius bagi banyak negara, terutama negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi dan stabilitas perdagangan internasional.
“Kenaikan harga minyak, energi, dan kebutuhan pokok dapat memicu tekanan sosial di berbagai negara. Jika pemerintah tidak mampu menjaga stabilitas ekonomi rakyat, maka potensi gejolak sosial bisa meningkat,” katanya.

Ancaman Krisis Global dan Perubahan Tatanan Dunia
Lebih lanjut, Prof Sutan Nasomal memperkirakan dunia sedang menuju fase perubahan sistem global, baik dalam aspek ekonomi, politik, hukum, maupun keamanan internasional.
Ia menilai negara-negara dunia kini mulai mencari formula baru untuk menciptakan keseimbangan kekuatan dan stabilitas internasional di tengah meningkatnya konflik geopolitik.
“Dunia sedang berada dalam titik perubahan besar. Banyak negara mulai memikirkan sistem baru demi menjaga keseimbangan sosial, ekonomi, dan politik global,” ujarnya.
Pengamat internasional juga menilai konflik geopolitik yang berkepanjangan dapat memengaruhi investasi, perdagangan internasional, hingga stabilitas pasar keuangan global sepanjang 2026.
Situasi ini membuat banyak negara mulai memperkuat hubungan bilateral dan strategi ekonomi demi mengantisipasi kemungkinan krisis global yang lebih luas.
Narasumber:
Prof Dr Sutan Nasomal SH MH – Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional, Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia, serta Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia dan penanggung jawab WINews.Pewarta: Rodi Ajat Subekti
0 Komentar