Shalat Dhuha sebagai Terapi Mental dan Kesehatan Modern, Gagasan DR Agus Ujianto untuk Ketahanan Nasional Berbasis Spiritual
oleh DR.dr. Agus Ujianto, M.Si.Med.,Sp.B.,FISQUa,
SEMARANG, WINews – Di tengah meningkatnya tekanan hidup, tuntutan produktivitas, serta berbagai tantangan kesehatan mental yang dihadapi masyarakat modern, muncul sebuah gagasan menarik yang mengintegrasikan ilmu kedokteran, psikologi, dan nilai-nilai spiritual Islam. Gagasan tersebut disampaikan oleh DR. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUA, Ketua Umum Pengurus Pusat PREDIGTI sekaligus Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang.
Menurutnya, Shalat Dhuha tidak hanya dipahami sebagai ibadah sunnah yang identik dengan ikhtiar memperoleh keberkahan rezeki, tetapi juga dapat dipandang sebagai instrumen kesehatan holistik yang berpotensi memberikan manfaat bagi keseimbangan fisik, mental, dan spiritual manusia.
Dalam sebuah kajian yang menggabungkan perspektif medis, psikologis, dan spiritual, DR Agus Ujianto menilai bahwa gerakan Shalat Dhuha memiliki nilai terapeutik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern yang rentan mengalami stres, kecemasan, kelelahan emosional, hingga gangguan kesehatan mental akibat tekanan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Shalat Dhuha dan Kesehatan Mental di Era Modern
Fenomena meningkatnya kasus stres kerja, burnout, gangguan kecemasan, hingga menurunnya kualitas kesehatan mental menjadi perhatian serius di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut mendorong para ahli kesehatan untuk mencari pendekatan yang tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan promotif.
DR Agus Ujianto menjelaskan bahwa waktu pelaksanaan Shalat Dhuha memiliki keunikan tersendiri. Ibadah ini dilakukan ketika sebagian besar masyarakat sedang berada dalam aktivitas produktif dan menghadapi berbagai tekanan pekerjaan.
Menurutnya, jeda sejenak untuk berwudhu, menenangkan pikiran, lalu melaksanakan dua hingga beberapa rakaat Shalat Dhuha dapat menjadi sarana relaksasi yang membantu tubuh beralih dari kondisi tegang menuju kondisi yang lebih tenang dan seimbang.
"Shalat Dhuha dapat menjadi momentum refleksi diri sekaligus sarana menata kembali keseimbangan antara kebutuhan fisik, mental, dan spiritual di tengah kesibukan sehari-hari," ungkapnya.
Perspektif Medis: Mengelola Stres Secara Alami
Dalam pandangan kedokteran modern, stres berkepanjangan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga penurunan sistem kekebalan tubuh.
DR Agus menjelaskan bahwa aktivitas yang menenangkan pikiran dan melibatkan gerakan tubuh terstruktur berpotensi membantu tubuh memasuki kondisi relaksasi. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan penurunan ketegangan psikologis dan meningkatnya rasa nyaman secara emosional.
Gerakan dalam Shalat Dhuha seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk diyakini memberikan efek positif terhadap kelenturan otot, peredaran darah, serta membantu seseorang mencapai kondisi fokus dan ketenangan yang lebih baik.
Selain itu, waktu jeda di tengah aktivitas kerja juga dinilai dapat menjadi sarana pemulihan energi mental sehingga produktivitas dan kualitas pengambilan keputusan tetap terjaga.
Potensi Implementasi di Berbagai Instansi
Salah satu gagasan yang disampaikan DR Agus Ujianto adalah mendorong budaya pelaksanaan Shalat Dhuha secara teratur di berbagai lingkungan kerja dan institusi pendidikan.
Menurutnya, kebiasaan menyediakan waktu singkat untuk aktivitas spiritual dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesehatan mental kolektif di lingkungan organisasi.
Gagasan tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari instansi pemerintah, lembaga pendidikan, rumah sakit, pusat penelitian, hingga lingkungan pelayanan publik.
Di sektor pendidikan, Shalat Dhuha dinilai dapat membantu membangun karakter, kedisiplinan, serta meningkatkan konsentrasi belajar peserta didik.
Sementara di lingkungan pelayanan kesehatan, tenaga medis yang kerap menghadapi tekanan tinggi dapat memperoleh manfaat berupa penguatan ketahanan mental dan keseimbangan emosional.
Membangun Ketahanan Bangsa dari Kesehatan Mental
Lebih jauh, DR Agus Ujianto menilai bahwa kesehatan mental merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun ketahanan nasional.
Menurutnya, bangsa yang kuat tidak hanya ditopang oleh kemajuan ekonomi, teknologi, maupun infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas kesehatan mental dan spiritual masyarakatnya.
Karena itu, berbagai aktivitas yang mampu memperkuat keseimbangan psikologis, meningkatkan kedamaian batin, serta membangun karakter positif perlu mendapat perhatian lebih dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
"Ketika masyarakat memiliki ketenangan jiwa, kemampuan mengelola stres yang baik, serta keseimbangan spiritual yang kuat, maka produktivitas, kualitas hidup, dan harmoni sosial juga akan meningkat," jelasnya.
Menyatukan Ilmu Pengetahuan dan Nilai Spiritual
Gagasan mengenai Shalat Dhuha sebagai bagian dari pendekatan kesehatan holistik menunjukkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai spiritual tidak harus dipertentangkan.
Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan dalam mendukung kualitas hidup manusia yang lebih baik.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pendekatan integratif seperti ini dinilai dapat menjadi alternatif yang menarik dalam membangun masyarakat yang sehat, produktif, berkarakter, dan memiliki ketahanan mental yang kuat.
Melalui pemahaman yang lebih luas terhadap manfaat spiritual dan psikologis Shalat Dhuha, masyarakat diharapkan tidak hanya memandang ibadah sebagai kewajiban ritual semata, tetapi juga sebagai sarana membangun kesehatan, ketenangan, dan kualitas hidup yang berkelanjutan.
Pewarta: Nursoleh

0 Komentar