LABUHANBATU, WINews - Upaya mengenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada generasi muda terus dilakukan melalui lingkungan pendidikan. Salah satunya diterapkan di SD Negeri 16 Aek Tayas, Kecamatan Bilah Barat, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, dengan membiasakan siswa dan guru mengenakan pakaian adat setiap hari Kamis.
Program tersebut menjadi bagian dari kegiatan pembiasaan di sekolah yang diikuti siswa mulai dari kelas I hingga kelas VI. Selain mengenakan pakaian adat, para siswa juga mengikuti kegiatan senam pagi bersama di halaman sekolah sebelum memulai aktivitas pembelajaran.
Pantauan jurnalis Warta Indonesia News (WINews) pada Kamis, 17 September 2026, sekitar pukul 07.20 WIB, menunjukkan para siswa telah berkumpul di halaman sekolah dengan mengenakan beragam pakaian adat.
Para siswa tampak berbaris dengan tertib untuk mengikuti kegiatan senam pagi yang dijadwalkan dimulai sekitar pukul 07.30 WIB. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum pembentukan kebiasaan positif, kedisiplinan, serta interaksi bersama antara siswa dan tenaga pendidik.
Kepala Sekolah: Mengenalkan Kekayaan Budaya Indonesia
Kepala SD Negeri 16 Aek Tayas, Rafi Salim, S.Pd., menjelaskan bahwa penggunaan pakaian adat setiap Kamis merupakan bagian dari program pendidikan yang bertujuan memperkenalkan keberagaman budaya kepada peserta didik.
Menurutnya, pengenalan pakaian adat sejak usia sekolah dasar diharapkan dapat membantu siswa memahami bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam.
“Ini adalah program pemerintah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, agar siswa-siswi mengetahui pakaian adat yang ada di Indonesia,” ujar Rafi Salim.
Ia menambahkan, penggunaan pakaian adat tersebut diberlakukan setiap hari Kamis. Kebijakan itu diikuti oleh seluruh siswa dan guru di lingkungan SD Negeri 16 Aek Tayas.
Selain aspek pengenalan budaya, pihak sekolah juga menekankan pentingnya kedisiplinan waktu. Para guru dan siswa diharapkan sudah berada di sekolah sekitar pukul 07.15 WIB.
Kehadiran lebih awal tersebut, menurut pihak sekolah, tidak hanya bertujuan mempersiapkan kegiatan belajar mengajar, tetapi juga memberikan keteladanan kepada siswa.
Pendidikan Karakter Melalui Kebiasaan di Sekolah
Penggunaan pakaian adat di lingkungan sekolah dapat menjadi salah satu sarana pembelajaran kontekstual bagi peserta didik. Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai budaya melalui buku atau materi pembelajaran, tetapi juga dapat melihat dan mengenakan secara langsung pakaian yang merepresentasikan kekayaan tradisi Indonesia.
Kegiatan seperti ini juga dapat dikombinasikan dengan pembelajaran mengenai sejarah, asal daerah, filosofi pakaian adat, serta nilai-nilai yang terkandung di dalam kebudayaan masing-masing daerah.
Dengan demikian, kegiatan mengenakan pakaian adat tidak sekadar menjadi aktivitas seremonial, tetapi dapat dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan karakter dan penguatan wawasan kebangsaan.
Di sisi lain, kegiatan senam pagi bersama memberikan ruang bagi siswa untuk melakukan aktivitas fisik sebelum mengikuti pembelajaran. Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi guru untuk membangun suasana sekolah yang tertib, sehat, dan kebersamaan.
Keteladanan Guru Menjadi Bagian Penting
Keterlibatan guru dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu perhatian pihak sekolah. Dengan hadir tepat waktu dan mengikuti kegiatan bersama siswa, guru diharapkan dapat menjadi contoh mengenai kedisiplinan dan tanggung jawab.
Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten di lingkungan sekolah pada akhirnya diharapkan dapat membentuk perilaku positif siswa, baik dalam mengikuti kegiatan pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Program penggunaan pakaian adat setiap Kamis di SD Negeri 16 Aek Tayas juga menunjukkan bahwa lingkungan sekolah dapat menjadi ruang penting untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia sejak usia dini.
Melalui pendidikan yang menggabungkan pengetahuan, aktivitas fisik, kedisiplinan, dan pengenalan budaya, siswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga tumbuh dengan pemahaman terhadap keberagaman bangsa.
Pewarta: DR. Rangkuti

0 Komentar