PURBALINGGA, WINews – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Panunggalan menggelar kegiatan istighotsah bersama jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purbalingga, para kiai, ulama, serta anggota Nahdlatul Ulama se-Kabupaten Purbalingga. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat ukhuwah Islamiyah, sekaligus memanjatkan doa demi kebaikan umat dan kemaslahatan masyarakat.
Acara ini dihadiri Ketua PCNU Kabupaten Purbalingga, KH Ulil Arham, M.Si., beserta sejumlah tokoh agama dan pimpinan pondok pesantren di wilayah Kabupaten Purbalingga. Kehadiran para ulama dan pengurus organisasi Nahdlatul Ulama tersebut menambah kekhidmatan kegiatan yang mengedepankan nilai-nilai keagamaan, persaudaraan, dan kebersamaan.
Istighotsah tidak sekadar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa bersama, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antarpengurus, menjaga persatuan warga Nahdliyin, serta menumbuhkan semangat pengabdian kepada agama, bangsa, dan masyarakat.
Tiga Kiai Sampaikan Pesan Penguatan dan Kebersamaan
Dalam kegiatan tersebut, hadir sebagai penceramah KH Arif Musodik, pimpinan Pondok Pesantren Nurul Qur'an, Bojongsari?
Selain itu, turut hadir KH Ahmad Baidowi, pimpinan Pondok Pesantren Mambahul Insan, Kertanegara, serta KH Ma'ruf Salim, pimpinan Pondok Pesantren Minhajuttholabah, Bojongsari?
Para kiai tersebut menyampaikan tausiyah keagamaan yang menitikberatkan pada pentingnya penguatan dan kebersamaan sebagai landasan dalam membangun kehidupan umat yang harmonis.
Pesan tersebut relevan dengan peran Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan yang memiliki perhatian besar terhadap dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah, pendidikan pesantren, penguatan kehidupan sosial, serta pemeliharaan kerukunan di tengah masyarakat.
Kebersamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti mempererat silaturahmi, membantu masyarakat yang membutuhkan, menjaga kerukunan antarwarga, dan mendukung kegiatan pendidikan keagamaan.
Melalui istighotsah dan tausiyah tersebut, para peserta diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga persatuan serta menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
Sugeng Aji Santosa Ajak Menjaga Silaturahmi dan Memohon Doa Ulama
Ketua MWC NU Panunggalan, Sugeng Aji Santosa, S.Pt., yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Panunggalan, turut menyampaikan permohonan doa kepada para kiai dan ulama yang hadir.
Dalam kesempatan tersebut, Sugeng Aji Santosa menyampaikan bahwa masa jabatannya sebagai kepala desa akan segera berakhir. Ia pun memohon doa dan restu kepada para ulama seiring dengan niatnya untuk kembali mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Panunggalan.
Permohonan doa tersebut disampaikan sebagai bagian dari ikhtiar pribadi agar proses yang akan dijalaninya diberikan kelancaran, sekaligus berharap masyarakat berkenan memberikan kepercayaan kembali kepadanya untuk memimpin Desa Panunggalan.
Harapan tersebut, pada akhirnya, menjadi bagian dari dinamika kehidupan demokrasi di tingkat desa. Dukungan masyarakat merupakan hal penting dalam proses pemilihan kepala desa, sementara keputusan tetap berada di tangan warga sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kegiatan keagamaan seperti istighotsah juga menjadi pengingat bahwa amanah kepemimpinan perlu dijalankan dengan tanggung jawab, kejujuran, serta komitmen terhadap kepentingan masyarakat.
Ulama dan Masyarakat Memiliki Peran Penting dalam Membangun Desa
Keterlibatan tokoh agama dalam kehidupan sosial masyarakat memiliki arti penting, khususnya dalam menjaga kerukunan, memperkuat nilai moral, serta membangun komunikasi yang baik di tengah warga.
Di tingkat desa, hubungan yang harmonis antara pemerintah desa, ulama, tokoh masyarakat, dan warga dapat menjadi salah satu modal sosial untuk mendukung pembangunan. Semangat gotong royong, musyawarah, dan kepedulian terhadap sesama perlu terus dipelihara agar kehidupan masyarakat berlangsung aman dan kondusif.
Karena itu, pesan penguatan dan kebersamaan yang disampaikan dalam kegiatan istighotsah MWC NU Panunggalan dapat menjadi refleksi bersama tentang pentingnya menjaga persaudaraan, terlepas dari perbedaan pilihan maupun pandangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi warga Nahdliyin, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan dengan para kiai dan pengasuh pesantren, sekaligus meneguhkan komitmen dalam menjalankan nilai-nilai keislaman yang mengedepankan keseimbangan antara ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial.
Istighotsah Menjadi Momentum Memperkuat Ukhuwah
Melalui kegiatan ini, MWC NU Panunggalan diharapkan terus berperan aktif dalam membangun kehidupan keagamaan yang rukun, mempererat komunikasi antarstruktur organisasi, serta mendorong kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Doa bersama yang dipanjatkan dalam istighotsah menjadi pengingat bahwa setiap ikhtiar membutuhkan kesungguhan, kebersamaan, dan sikap tawakal kepada Allah SWT.
Sementara itu, pesan para kiai mengenai penguatan dan kebersamaan diharapkan dapat terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, maupun pemerintahan desa.
Dengan terjaganya persatuan dan komunikasi yang baik, masyarakat diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan bersama serta mewujudkan kehidupan desa yang lebih harmonis, religius, dan mengedepankan kepentingan bersama.
Pewarta: Rodi AS
Redaksi: WINews | Wartaindonesianews.co.id



0 Komentar