Breaking News

Audio Reader
Speed:

RSI Sultan Agung Semarang Gelar Pelatihan Internasional Harvesting Stem Cell, Perkuat Kompetensi Terapi Regeneratif


SEMARANG, WINews - Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang terus mendorong pengembangan kompetensi tenaga kesehatan melalui penyelenggaraan pelatihan internasional Harvesting Stem Cell atau teknik pengambilan sel punca. Kegiatan yang berlangsung pada 17–18 Februari tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman tenaga medis mengenai terapi berbasis sel, penelitian klinis, serta tata kelola pelayanan kesehatan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Bagian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) RSI Sultan Agung Semarang bekerja sama dengan Pramita Lab Group dan Kiwiclinic. Kegiatan tersebut mengangkat konsep Auto Haemotherapy and Cell Unit Research (AHT-CURE), sebuah gagasan pengembangan layanan dan penelitian medis yang diinisiasi oleh DR. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua.

Program ini mempertemukan tenaga medis dan pembicara dari sejumlah negara untuk membahas teknik pengambilan sel, pendekatan terapi autologus, serta perbedaan kebutuhan pelayanan berbasis fasilitas kesehatan dengan pengembangan produk biologi melalui proses industri.

Di tengah perkembangan kedokteran regeneratif, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dinilai penting agar penerapan teknologi baru tidak hanya memperhatikan aspek teknis, tetapi juga keselamatan pasien, bukti ilmiah, mutu produk, dan kepatuhan terhadap regulasi.

AHT-CURE dan Perkembangan Teknologi Terapi Berbasis Sel

Konsep AHT-CURE dikembangkan untuk memperluas pembahasan mengenai pemanfaatan komponen darah dan sel dalam pelayanan serta penelitian medis. Menurut materi yang disampaikan penyelenggara, gagasan tersebut mulai dikembangkan sekitar tiga tahun sebelum pelatihan ini diselenggarakan.

Spektrum pembahasannya mencakup Platelet-Rich Plasma (PRP), eksosom, sekretom, hingga Mesenchymal Stem Cell (MSC) yang berkaitan dengan Stromal Vascular Fraction (SVF) dan aspirasi sumsum tulang.

Meskipun berada dalam lingkup kedokteran regeneratif, setiap teknologi tersebut memiliki karakteristik, mekanisme kerja, tingkat bukti ilmiah, dan persyaratan penggunaan yang berbeda. Karena itu, istilah terapi regeneratif tidak dapat diperlakukan sebagai satu kategori tindakan yang memiliki manfaat dan tingkat kepastian klinis yang sama.

Sel punca atau stem cell merupakan sel yang memiliki kemampuan memperbarui diri dan, dalam kondisi tertentu, berkembang menjadi jenis sel tertentu. Potensi tersebut menjadikannya salah satu bidang yang terus diteliti untuk berbagai kebutuhan medis.

Namun, potensi penelitian tidak serta-merta membuktikan bahwa suatu prosedur efektif untuk semua penyakit. Penggunaannya tetap memerlukan penilaian indikasi, bukti keamanan dan efektivitas, serta pemenuhan persyaratan klinis dan regulasi yang berlaku.

Tiga Metode Pengambilan Sel Punca yang Dibahas

Pelatihan internasional tersebut mencakup tiga pendekatan utama pengambilan bahan biologis yang berkaitan dengan pengembangan terapi berbasis sel.

1. Peripheral Blood Stem Cell

Pendekatan ini berkaitan dengan pengambilan sel punca dari darah perifer. Dalam praktik medis tertentu, pengambilan sel dapat memerlukan tahapan persiapan pasien, pemantauan, dan prosedur khusus sesuai indikasi serta protokol yang digunakan.

Penerapannya harus memperhatikan kondisi pasien, kompetensi tenaga medis, serta standar pengolahan dan penanganan bahan biologis.

2. Stromal Vascular Fraction (SVF) dari jaringan lemak

SVF merupakan fraksi seluler yang diperoleh dari jaringan lemak melalui proses pengolahan tertentu. Dalam pelatihan ini, pembahasan dikaitkan dengan prosedur pengambilan jaringan lemak melalui liposuksi menggunakan anestesi lokal.

Prosedur tersebut memerlukan penilaian medis, pengendalian risiko tindakan, dan tata kelola pengolahan jaringan yang sesuai. Penggunaan hasil pengolahan untuk tujuan terapeutik juga harus dinilai berdasarkan karakteristik produk, indikasi, serta ketentuan yang berlaku.

3. Bone Marrow Stem Cell

Pendekatan ketiga berkaitan dengan pengambilan bahan biologis dari sumsum tulang melalui Bone Marrow Aspiration. Prosedur ini membutuhkan kompetensi khusus, pertimbangan klinis, serta pengendalian risiko yang sesuai dengan kondisi pasien.

Ketiga metode tersebut menunjukkan bahwa pengembangan terapi berbasis sel tidak hanya berkaitan dengan keterampilan pengambilan bahan biologis. Proses penanganan, pengolahan, pengujian mutu, penyimpanan bila diperlukan, hingga penggunaannya pada pasien juga menjadi bagian penting dari sistem keselamatan pelayanan.

Point of Care dan Industrialisasi Obat: Memahami Perbedaan Tata Kelola

Salah satu topik utama dalam pelatihan ini adalah hubungan antara pendekatan Point of Care (PoC) dan pengembangan produk biologi melalui fasilitas industri.

Keduanya memiliki konteks operasional dan kebutuhan pengawasan yang berbeda. Penentuan jalur yang tepat tidak cukup hanya didasarkan pada kepraktisan prosedur atau skala pelayanan, tetapi juga harus mempertimbangkan sifat produk, tingkat manipulasi sel, tujuan penggunaan, dan klasifikasi regulasinya.

Point of Care dalam Pelayanan Kesehatan

Pendekatan PoC dalam konteks terapi berbasis sel berkaitan dengan pelayanan yang dilakukan dalam lingkungan fasilitas kesehatan sesuai persyaratan yang berlaku.

Pada terapi autologus, bahan biologis berasal dari pasien yang sama dengan penerima hasil pengolahan. Pendekatan ini berbeda dari terapi alogenik, yang menggunakan bahan biologis dari donor untuk penerima lain.

Meski demikian, penggunaan bahan dari pasien sendiri tidak otomatis membuat suatu prosedur bebas dari risiko atau persyaratan perizinan. Jenis pengolahan, karakteristik produk, tujuan penggunaan, dan ketentuan yang mengatur tindakan tersebut tetap harus diperiksa.

Fasilitas kesehatan perlu memastikan ketersediaan tenaga kompeten, prosedur operasional yang terdokumentasi, pengendalian kontaminasi, ketertelusuran bahan biologis, persetujuan tindakan setelah pasien memperoleh penjelasan memadai, serta mekanisme pemantauan kejadian tidak diinginkan.

Industrialisasi Produk Biologi dan Standar CPOB

Sementara itu, pengembangan produk biologi untuk produksi terstandar dan distribusi yang lebih luas membutuhkan sistem pengendalian mutu yang sesuai dengan klasifikasi produknya.

Dalam konteks industri farmasi, Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) menjadi salah satu kerangka penting untuk memastikan proses produksi berjalan secara konsisten dan memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan.

Produk berbasis sel yang dikembangkan untuk distribusi lintas fasilitas kesehatan dapat memerlukan persyaratan produksi, pengujian, dokumentasi, penyimpanan, dan distribusi yang lebih kompleks. Persyaratan tersebut harus ditentukan berdasarkan jenis produk dan ketentuan regulator yang relevan.

Karena itu, PoC dan industrialisasi tidak semestinya dipandang sebagai dua pilihan yang saling meniadakan. Keduanya harus ditempatkan sesuai tujuan penggunaan, karakteristik produk, kebutuhan pasien, serta jalur regulasi yang berlaku.

Pemahaman mengenai batas-batas tersebut menjadi penting untuk mencegah kesalahan penerapan teknologi sekaligus menjaga agar inovasi medis berjalan seiring dengan perlindungan pasien.

Hadirkan Pembicara dari Indonesia, India, dan Pakistan

Pelatihan privat internasional ini menghadirkan sejumlah pembicara dengan latar belakang profesi medis dari berbagai negara.

Mereka adalah DR. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua dari Indonesia; Dr. Jaswin, MBBS, M.Sc., CosMed. dari India; serta Dr. Moizza Samy, FCPS, seorang dokter spesialis dermatologi dari Pakistan.

Selain pembicara utama, kegiatan tersebut juga menghadirkan dr. Dadan Sofian, Sp.KFR, M.Kes., AIFO-K, FIPM, CIPS, COMSK, RMSK, sebagai pembicara tamu.

Diskusi difokuskan pada perkembangan terapi autologus di Indonesia dan kompetensi teknis yang perlu dipahami oleh berbagai kelompok dokter sesuai kewenangan profesi, pelatihan, serta ketentuan yang berlaku.

Pertemuan lintas negara ini membuka ruang pertukaran pengetahuan mengenai perkembangan teknologi, pengalaman praktik, dan tantangan penerapan terapi berbasis sel dalam sistem pelayanan kesehatan.

Namun, pertukaran pengalaman dan pelatihan teknis tetap perlu disertai evaluasi ilmiah. Setiap metode yang akan diterapkan kepada pasien harus memiliki dasar indikasi yang jelas, memenuhi persyaratan keamanan, serta mengikuti standar profesi dan regulasi yang relevan.

RSI Sultan Agung Buka Konsultasi Pelatihan dan Pengembangan Laboratorium

Sebagai bagian dari pengembangan kompetensi tenaga kesehatan, RSI Sultan Agung Semarang memb yauka ruang konsultasi dan pelatihan privat berkelanjutan bagi dokter, tenaga kesehatan, serta pengelola rumah sakit dan klinik utama.

Materi konsultasi mencakup teknik harvesting stem cell, pengembangan laboratorium untuk kebutuhan PoC, serta pemahaman mengenai persyaratan fasilitas pengolahan produk biologi yang berkaitan dengan standar CPOB.

DR. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, menjadi salah satu narasumber yang dapat dihubungi untuk pembahasan program tersebut.

Pengembangan laboratorium terapi berbasis sel membutuhkan perencanaan yang komprehensif. Selain investasi peralatan, pengelola fasilitas perlu memperhatikan sumber daya manusia, sistem manajemen mutu, validasi proses, pengujian bahan biologis, ketertelusuran produk, dan pemenuhan izin sesuai jenis kegiatan.

Dengan demikian, pengembangan fasilitas tidak hanya berorientasi pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada kemampuan menjaga mutu dan keselamatan dalam jangka panjang.

Sri Wahyuni: Pendidikan, Penelitian, dan Bakti Sosial Dikoordinasikan Secara Terpadu

Manager Humas RSI Sultan Agung Semarang, Sri Wahyuni, menyampaikan bahwa kegiatan pendidikan dan pelatihan, fungsi kehumasan, penelitian, serta bakti sosial di lingkungan rumah sakit berada dalam koordinasi Direktur Pendidikan, Pelatihan, Penelitian, Humas, dan Bakti Sosial, dr. Kinanti Narulita, Sp.An-KPTI, FISQua.

Menurut keterangan yang disampaikan, koordinasi tersebut ditujukan untuk menjaga keterpaduan pelaksanaan program rumah sakit, baik dalam pengembangan akademis maupun kegiatan yang berorientasi pada pelayanan dan manfaat sosial.

Tata kelola yang terkoordinasi menjadi salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan pelatihan kesehatan. Perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan dokumentasi kegiatan diperlukan agar program pendidikan dapat berjalan secara terukur dan berkelanjutan.

Informasi dari pihak rumah sakit tersebut sekaligus menegaskan pentingnya peran pendidikan dan pelatihan dalam mendukung pengembangan kompetensi sumber daya manusia kesehatan.

Dukungan YBWSA untuk Pengembangan Teknologi Kesehatan

Pengembangan program tersebut juga mendapat dukungan dari Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA), yang diketuai oleh Prof. Bambang Tri Bawono, S.H., M.H.

Menurut informasi penyelenggara, dukungan tersebut diarahkan pada pengembangan advanced therapy dan produk biologi terstandar secara bertahap.

Pengembangan teknologi kesehatan yang kompleks memerlukan kesinambungan antara pendidikan, penelitian, infrastruktur, pembiayaan, tata kelola, dan pengawasan mutu. Karena itu, dukungan kelembagaan perlu diikuti dengan perencanaan yang matang serta evaluasi berdasarkan standar ilmiah dan regulasi.

Dalam bidang terapi berbasis sel, keberhasilan pengembangan tidak semata-mata diukur dari kemampuan melakukan prosedur. Aspek keselamatan pasien, kualitas produk, kompetensi tenaga kesehatan, dan kepatuhan terhadap ketentuan regulator juga menjadi indikator penting.

Akreditasi Diklat dan Penguatan Mutu Pelatihan

Diklat RSI Sultan Agung Semarang disebut telah mengantongi akreditasi Tipe A berstandar internasional dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sebagaimana disampaikan dalam materi penyelenggara.

Pihak rumah sakit juga menyampaikan komitmen untuk terus meningkatkan mutu pelatihan melalui dukungan peralatan dan jaringan laboratorium Pramita di berbagai wilayah Indonesia.

Untuk menjaga transparansi informasi publik, status, ruang lingkup, dan masa berlaku akreditasi serta izin fasilitas terkait dapat dikonfirmasi melalui dokumen resmi dari lembaga yang berwenang.

Kejelasan informasi mengenai akreditasi, kompetensi pengajar, kurikulum, dan cakupan pelatihan penting bagi tenaga kesehatan yang hendak mengikuti program lanjutan.

Keselamatan Pasien Tetap Menjadi Prioritas

Perkembangan terapi regeneratif menawarkan ruang penelitian yang luas bagi dunia kedokteran. Namun, penerapan teknologi tersebut harus dilakukan secara proporsional dengan mempertimbangkan tingkat bukti ilmiah dan kebutuhan klinis.

Masyarakat perlu memahami bahwa istilah stem cell, PRP, eksosom, sekretom, dan SVF merujuk pada pendekatan biologis yang berbeda. Tidak semua produk atau prosedur yang menggunakan istilah terapi regeneratif telah terbukti efektif untuk setiap kondisi medis.

Pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter yang kompeten, menanyakan tujuan dan dasar ilmiah tindakan, memahami potensi risiko, serta memastikan bahwa fasilitas dan prosedur yang ditawarkan memenuhi persyaratan yang berlaku.

Dalam kerangka tersebut, pelatihan internasional di RSI Sultan Agung Semarang menjadi forum pengembangan pengetahuan dan kompetensi yang relevan dengan dinamika kedokteran modern. Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa pengembangan kemampuan teknis selalu diiringi penelitian yang bertanggung jawab, pengawasan mutu, dan perlindungan terhadap keselamatan pasien.

Pewarta: Nursoleh

WINews - Tajam, Terpercaya, Berita Sesuai Fakta dan Nyata.

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close