Breaking News

Audio Reader
Speed:

Semarak HBB ke-425 di Bawean, Lomba Dayung Jhukung dan Panjat Pinang Hidupkan Tradisi Lokal


BAWEAN, GRESIK - Perayaan Hari Besar Bawean (HBB) ke-425 semakin semarak dengan digelarnya berbagai kegiatan hiburan rakyat di kawasan Pantai Perikanan Bawean. Salah satu kegiatan yang menarik perhatian masyarakat adalah lomba dayung jhukong, perahu tradisional Bawean, yang dipadukan dengan lomba panjat pinang.

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan bagi warga. Lomba dayung jhukong juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya maritim Bawean sekaligus mendorong generasi muda agar tetap mengenal dan menghargai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Antusiasme masyarakat terlihat saat para peserta mengikuti perlombaan dayung jhukong. Perahu tradisional yang digunakan dalam perlombaan menjadi daya tarik tersendiri karena memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Bawean yang sejak dahulu memiliki hubungan kuat dengan aktivitas kelautan.

Lomba Jhukung Jadi Magnet Perhatian Masyarakat

Dalam kegiatan tersebut, peserta berlomba menunjukkan kemampuan mengendalikan sekaligus mendayung jhukong hingga mencapai garis akhir. Suasana perlombaan semakin meriah karena mendapat perhatian masyarakat yang hadir di kawasan Pantai Perikanan Bawean.

Berdasarkan keterangan Junaidi, salah satu pihak yang turut mengoordinasikan pelaksanaan kegiatan bersama anggota LSM GMBI KSM Sangkapura, lomba tersebut diupayakan sebagai bagian dari kemeriahan HBB ke-425 sekaligus sebagai sarana menjaga keberadaan budaya lokal.

Dalam perlombaan dayung jhukong tersebut, Boni, warga Dusun Rujing, Desa Sungai Teluk, berhasil meraih juara pertama dan memperoleh hadiah sebesar Rp1.500.000.
Sementara posisi juara kedua diraih Didi, warga Dusun Sungaitopong, Desa Sungai Teluk, dengan hadiah sebesar Rp1.000.000.

Untuk alokasi hadiah juara ketiga sebesar Rp500.000, Junaidi menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan tidak terdapat penetapan juara ketiga. Karena itu, dana tersebut kemudian dibagikan kepada peserta sesuai mekanisme yang disepakati dalam kegiatan.

Menurut keterangannya, uang tersebut dibagikan masing-masing Rp50.000 kepada delapan peserta.

Lahir dari Swadaya dan Kerja Sama Anggota

Junaidi mengatakan, pelaksanaan lomba dayung jhukong dan panjat pinang merupakan hasil kerja keras dirinya bersama anggota LSM GMBI KSM Sangkapura.

Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap kegiatan tersebut diupayakan secara mandiri oleh dirinya bersama anggota, termasuk dalam hal pembiayaan kegiatan.

“Kami bersama anggota berusaha agar kegiatan ini bisa terlaksana dan masyarakat bisa menikmati kemeriahan HBB ke-425. Lomba jhukong ini juga menjadi bagian untuk menjaga budaya dan tradisi Bawean,” ujar Junaidi.

Ia menambahkan, anggaran untuk pelaksanaan kegiatan tersebut diupayakan dan dicari secara mandiri bersama anggota, bukan berasal dari panitia HBB.

“Untuk anggarannya, kami bersama anggota yang mencari dan mengupayakan. Jadi kegiatan lomba dayung jhukong dan panjat pinang ini murni hasil kerja keras kami bersama anggota,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan adanya keterlibatan masyarakat dan kelompok lokal dalam mendukung kegiatan budaya serta hiburan rakyat di tengah perayaan HBB ke-425.

Menjaga Jhukung sebagai Identitas Budaya Bawean

Lebih dari sekadar perlombaan, penggunaan jhukong menjadi bagian penting dalam upaya memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.

Di tengah perkembangan zaman dan perubahan pola kehidupan masyarakat, berbagai permainan maupun tradisi lokal menghadapi tantangan untuk tetap dikenal oleh generasi berikutnya. Karena itu, kegiatan berbasis budaya seperti lomba dayung jhukong dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan tradisi dengan masyarakat masa kini.

Junaidi berharap kegiatan serupa dapat terus digelar dalam perayaan HBB pada tahun-tahun mendatang. Menurutnya, keberlanjutan kegiatan budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat secara bersama-sama.

“Harapan kami, budaya jhukong ini terus dilestarikan. Jangan sampai generasi muda tidak mengenal budaya dan tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Bawean,” pungkas Junaidi.

Semarak HBB ke-425 di Pantai Perikanan Bawean pun menjadi gambaran bahwa perayaan hari besar daerah tidak hanya dapat menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat identitas budaya, memperkuat partisipasi masyarakat, serta mengenalkan tradisi lokal kepada generasi muda.

Dengan kemeriahan lomba dayung jhukong dan panjat pinang, masyarakat Bawean kembali menunjukkan bahwa budaya lokal dapat tetap hidup ketika mendapat ruang untuk dirawat, diperkenalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pewarta: Muh Nurcholish

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close