
CILACAP, WINews -- Amanah dalam kepemimpinan, transparansi dalam pemerintahan, dan kesejahteraan masyarakat menjadi pesan utama yang disampaikan Wasan, calon Kepala Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, dalam menghadapi kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) periode 2026–2035.
Mengusung semangat “Amanah di Tangan, Rakyat di Hati”, Wasan menyampaikan tekad untuk mendorong tata kelola pemerintahan desa yang bersih, terbuka, serta berpihak pada kepentingan masyarakat apabila memperoleh kepercayaan dari warga.
Pesan tersebut disampaikan di tengah harapan masyarakat terhadap sosok pemimpin desa yang mampu menjaga integritas, mengelola potensi lokal, meningkatkan pelayanan publik, dan membuka kesempatan ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Bagi Wasan, jabatan kepala desa bukan sekadar posisi dalam struktur pemerintahan, melainkan tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan kejujuran, kedisiplinan, dan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap kebijakan kepada masyarakat.
Komitmen Antikorupsi dan Transparansi Menjadi Landasan Kepemimpinan
Salah satu prinsip yang ditekankan Wasan adalah pentingnya memulai kepemimpinan dari pengendalian diri sendiri. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu menjaga integritas sebelum mengemban tanggung jawab yang lebih besar terhadap masyarakat.
Dalam pernyataan yang disampaikan kepada warga, Wasan menegaskan komitmennya untuk menolak praktik korupsi, nepotisme, pungutan liar, serta kebijakan yang berpotensi menambah beban masyarakat apabila dirinya dipercaya memimpin Desa Jetis.
“Tidak ada korupsi, tidak ada nepotisme, tidak ada pungutan liar, dan tidak ada embel-embel yang memberatkan rakyat. Semua terbuka, semua transparan—siap dilihat, siap diawasi, dan siap dipertanggungjawabkan. Karena jabatan ini bukan hak, melainkan titipan dari rakyat dan dari Tuhan,” demikian pernyataan Wasan.
Komitmen tersebut menempatkan transparansi sebagai salah satu isu penting dalam gagasan kepemimpinannya. Dalam praktik pemerintahan desa, keterbukaan informasi mengenai perencanaan pembangunan, penggunaan anggaran, pelaksanaan program, dan hasil kegiatan merupakan bagian penting untuk membangun kepercayaan masyarakat.
Namun, komitmen antikorupsi tidak cukup berhenti pada pernyataan. Pelaksanaannya membutuhkan sistem administrasi yang tertib, pengawasan yang berjalan, laporan pertanggungjawaban yang dapat diakses sesuai ketentuan, serta ruang bagi warga untuk menyampaikan kritik dan masukan.
Dengan demikian, masyarakat dapat menilai kepemimpinan berdasarkan kebijakan, proses kerja, dan hasil nyata yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mengoptimalkan Potensi Laut dan Pertanian untuk Ekonomi Desa
Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, memiliki konteks wilayah pesisir yang membuka peluang pengembangan berbagai kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Wasan memandang potensi laut, pertanian, dan usaha masyarakat sebagai sumber daya yang perlu dikelola secara bijaksana agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh warga desa.
Menurut gagasan yang disampaikannya, nelayan perlu mendapatkan kesempatan lebih baik untuk meningkatkan nilai hasil tangkapan, sedangkan petani membutuhkan dukungan agar kegiatan pertanian tetap produktif dan mampu memberikan penghidupan yang layak.
“Laut kita tidak boleh hanya dinikmati oleh orang luar. Hasil laut harus memberi kesejahteraan langsung ke tangan nelayan kita. Tanah kita tidak boleh hanya memberi untung bagi pihak lain. Petani kita harus hidup layak dari keringat sendiri. Anak-anak muda kita tidak harus pergi jauh untuk mencari rezeki—di desa sendiri harus ada harapan,” ungkapnya.
Gagasan tersebut menyoroti pentingnya pembangunan ekonomi desa yang tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya, tetapi juga memperhatikan siapa yang memperoleh manfaat dari aktivitas ekonomi tersebut.
Apabila dikembangkan melalui perencanaan yang matang, sektor perikanan dan pertanian dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, membuka kesempatan kerja, serta mendorong pertumbuhan usaha produktif di tingkat desa.
Empat Fokus Pengembangan Ekonomi Masyarakat
Dalam visi yang disampaikan, Wasan menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu arah yang ingin didorong apabila memperoleh amanah memimpin Desa Jetis.
1. Meningkatkan kesejahteraan nelayan
Pengembangan ekonomi nelayan dapat diarahkan pada peningkatan nilai jual hasil tangkapan, penguatan akses pemasaran, pengolahan hasil perikanan, serta peluang kerja sama usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir.
Dukungan terhadap sarana pendukung dan akses informasi pasar juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan program desa sesuai kewenangan dan kemampuan anggaran.
2. Memperkuat sektor pertanian
Pertanian perlu mendapatkan perhatian melalui penguatan produktivitas, akses informasi, pengembangan usaha tani, serta peluang pemasaran hasil panen yang lebih baik.
Perencanaan program harus mempertimbangkan kebutuhan petani dan kondisi lapangan agar kebijakan yang disusun benar-benar relevan dengan persoalan yang mereka hadapi.
3. Mendorong pertumbuhan UMKM lokal
Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam menciptakan sumber penghasilan keluarga. Penguatan UMKM dapat dilakukan melalui pendampingan usaha, peningkatan kualitas produk, pemasaran digital, dan perluasan jaringan pemasaran.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, usaha lokal berpeluang menjadi penggerak ekonomi desa sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.
4. Mengembangkan wisata pesisir secara berkelanjutan
Potensi wisata pesisir dapat menjadi peluang ekonomi tambahan apabila dikelola dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, keselamatan pengunjung, dan kepentingan masyarakat setempat.
Pengembangan wisata tidak semata-mata mengejar jumlah pengunjung, tetapi juga perlu mempertimbangkan kesiapan fasilitas, pengelolaan sampah, aksesibilitas, serta pembagian manfaat ekonomi bagi warga.
Keempat fokus tersebut masih merupakan arah gagasan dan visi yang disampaikan Wasan. Realisasi program nantinya akan bergantung pada kewenangan pemerintahan desa, kebutuhan masyarakat, perencanaan, ketersediaan anggaran, serta ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pemuda Desa dan Peluang Kerja Menjadi Perhatian
Persoalan kesempatan kerja bagi generasi muda juga menjadi bagian dari pesan Wasan mengenai masa depan Desa Jetis.
Menurutnya, desa perlu memiliki peluang ekonomi yang memungkinkan generasi muda mengembangkan keterampilan, membangun usaha, dan memperoleh penghasilan tanpa selalu bergantung pada pekerjaan di luar daerah.
Upaya tersebut dapat dipertimbangkan melalui pengembangan UMKM, pengolahan hasil pertanian dan perikanan, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan kegiatan ekonomi produktif yang sesuai dengan karakteristik desa.
Meski demikian, penciptaan lapangan kerja membutuhkan proses dan kolaborasi. Pemerintah desa tidak dapat bekerja sendiri, tetapi perlu membangun komunikasi dengan kelompok masyarakat, pelaku usaha, lembaga terkait, dan berbagai pihak yang berpotensi mendukung pembangunan ekonomi lokal.
Bagi masyarakat, keberhasilan sebuah program bukan hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, melainkan dari manfaat yang benar-benar dirasakan warga.
“Maju Pantang Mundur” sebagai Pesan Tanggung Jawab
Ketika berbicara mengenai tantangan kepemimpinan, Wasan mengangkat semboyan “Maju Pantang Mundur” sebagai gambaran sikap yang ingin dibawanya dalam melayani masyarakat.
“Maju pantang mundur—bagi saya ini bukan sekadar kalimat. Ini sikap. Jika rakyat menderita, saya harus lebih dulu merasakannya. Jika rakyat senang, itulah kebahagiaan saya. Saya siap berjalan di depan, membuka jalan, dan membiarkan warga berjalan di belakang dengan tenang,” ujarnya.
Pesan tersebut menggambarkan harapan terhadap pemimpin desa yang bersedia mendengarkan persoalan masyarakat, hadir ketika warga membutuhkan pelayanan, serta berani mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama.
Dalam pemerintahan desa, kepemimpinan yang melayani juga perlu diwujudkan melalui pelayanan administrasi yang jelas, komunikasi yang terbuka, pengambilan keputusan yang sesuai aturan, dan mekanisme penyelesaian pengaduan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, hubungan antara pemerintah desa dan warga diharapkan tidak hanya terbangun melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui pelayanan sehari-hari yang adil dan dapat diandalkan.
Partisipasi Warga Menjadi Kunci Pembangunan Desa
Pembangunan desa yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Aspirasi warga, termasuk nelayan, petani, pelaku UMKM, pemuda, perempuan, dan kelompok masyarakat lainnya, perlu mendapatkan ruang dalam proses pengambilan keputusan.
Semangat membangun bersama juga berarti bahwa perbedaan pilihan dalam Pilkades harus tetap disikapi dengan kedewasaan. Kontestasi kepemimpinan seharusnya menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menilai gagasan, integritas, kapasitas, dan rekam jejak setiap calon secara objektif.
Warga berhak memperoleh informasi yang memadai sebelum menentukan pilihan. Setelah pemilihan selesai, siapa pun yang mendapatkan amanah tetap perlu menjalankan pemerintahan sesuai aturan dan melayani seluruh masyarakat tanpa membedakan pilihan politik.
Dalam konteks tersebut, visi kepemimpinan yang bersih perlu berjalan beriringan dengan keterbukaan terhadap kritik, penghormatan terhadap perbedaan, dan kesediaan menerima pengawasan.
Menanti Pembuktian Melalui Program Nyata
Wasan menawarkan gagasan mengenai kepemimpinan yang amanah, pemerintahan yang transparan, dan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat Desa Jetis untuk periode 2026–2035.
Arah gagasan tersebut mencakup pemberdayaan nelayan, penguatan pertanian, pengembangan UMKM, peluang wisata pesisir, serta perhatian terhadap kesempatan ekonomi bagi generasi muda.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu menilai setiap visi berdasarkan kejelasan program, kemampuan pelaksanaan, kepatuhan terhadap hukum, dan hasil yang dapat diukur. Komitmen yang disampaikan dalam masa pencalonan akan memiliki arti lebih kuat apabila kelak diterjemahkan menjadi kebijakan yang terbuka, realistis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, kepemimpinan desa bukan hanya tentang siapa yang berdiri di depan, melainkan tentang bagaimana amanah dijalankan dan seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat.
Semangat “Amanah di Tangan, Rakyat di Hati” menjadi pesan yang dibawa Wasan dalam pencalonannya. Warga Desa Jetis memiliki peran penting untuk menilai gagasan tersebut secara bijaksana demi menentukan arah pembangunan desa pada masa mendatang.
WINews - Mengabarkan dengan berimbang, mengawal aspirasi masyarakat, dan mendorong transparansi untuk Indonesia yang lebih baik.
Pewarta : Marjuki Wiyono
Warta Indonesia News TV (WINews)
0 Komentar