MALUKU BARAT DAYA – wartaindonesianews.co.id. Dunia kesehatan di Maluku Barat Daya kembali menuai kritik tajam. Sebuah insiden tragis menimpa pasien kritis yang diduga kehilangan nyawa akibat pelayanan paramedis yang lebih memprioritaskan menghadiri acara undangan pernikahan ketimbang menjalankan tugas medis darurat.
Prof. Sutan menegaskan bahwa kejadian ini seharusnya tidak perlu terjadi jika Puskesmas Bebar Kumur menjalankan tupoksinya dengan benar. Beliau meminta agar Gubernur memerintahkan Bupati untuk menindak tegas dokter atau tenaga medis yang terbukti lalai, bahkan memberikan sanksi pemecatan jika diperlukan.
Kronologi Kejadian: Nyawa yang Terabaikan
Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga almarhum Bapak Modestus Rumpopoi. Sang kepala keluarga menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu (4/12/2025) pagi. Pihak keluarga meyakini kematian tersebut adalah akibat langsung dari keterlambatan dan ketidakpedulian pihak Puskesmas Bebar Kumur.
Peristiwa bermula pada Senin (25/11), ketika almarhum mengalami kecelakaan yang melukai siku lengan kirinya. Luka tersebut sempat dijahit oleh tim medis puskesmas pada jam 1 malam dan kondisi pasien awalnya tampak stabil.
Namun, petaka muncul pada Senin (2/12) pukul 08.00 WIT. Luka jahitan pasien mengeluarkan darah dan kondisinya melemah secara drastis. Perwakilan keluarga, Y.L., segera menghubungi dr. Cicik Mey Setyowati melalui pesan WhatsApp untuk meminta pertolongan medis segera.
Jawaban Dokter: "Maaf tidak bisa, Pak. Puskesmas mau ada acara ke Kuay Melu. Kami semua sudah berangkat karena ada acara nikahan suster di puskesmas. Besok saja datang ke puskesmas."
Diusir Karena Jam Operasional
Keluarga terpaksa menunggu hingga Selasa (3/12) pagi untuk membawa pasien ke puskesmas. Meski kondisi pasien kritis, pihak puskesmas justru meminta pasien keluar pada pukul 13.00 WIT dengan alasan "Puskesmas akan tutup".
Meskipun dijanjikan akan dipantau di rumah, kenyataannya keluarga menunggu dari jam 3 sore hingga jam 3 pagi (4/12) tanpa ada satu pun petugas medis yang datang, sementara pendarahan terus terjadi.
Akhir yang Tragis
Bantuan baru tiba pada pukul 08.30 pagi, namun saat itu Bapak Modestus sudah dalam kondisi tidak sadar. Tak lama kemudian, pada pukul 09.00 WIT, beliau meninggal dunia di rumah kerabatnya di Dusun Bebar Barat.
Keluarga besar menyatakan kekecewaan mendalam atas insiden ini. "Kami menginginkan keadilan. Mengapa pelayanan bisa terlambat hanya karena urusan pribadi (pernikahan)? Nyawa manusia bukan mainan!" tutup pihak keluarga dengan nada pedih.
0 Komentar