JAKARTA, wartaindonesianews.co.id. -- Berita Faktanews – Pemerintah Indonesia mempercepat agenda menghidupkan kembali proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) yang sebelumnya sempat tertunda. Percepatan ini dilakukan di tengah tren harga batu bara global yang relatif stabil namun cenderung terkoreksi.
Pada penutupan perdagangan Jumat (9/1/2025), harga batu bara acuan ICE Newcastle tercatat melemah tipis 0,10 persen ke level USD 107,30 per ton. Meski penurunannya tergolong marginal, kondisi ini mencerminkan bahwa pasar batu bara global masih berada dalam fase penyesuaian pascakrisis energi Eropa dan perlambatan ekonomi dunia.
Harga batu bara yang bertahan di kisaran USD 100–110 per ton menunjukkan pasar telah keluar dari fase ekstrem akibat pandemi dan konflik geopolitik, namun belum masuk ke fase kelebihan pasokan secara agresif. Batu bara kini berada dalam fase transisi, dari sekadar komoditas ekspor menuju bahan baku industri energi domestik.
Terkait kelanjutan proyek DME, pemerintah menggandeng holding industri pertambangan MIND ID dan PT Pertamina (Persero). Dalam skema ini, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) ditunjuk sebagai pemasok batu bara, sementara Pertamina bertindak sebagai offtaker. Kerja sama ini menjadi sinyal kuat bahwa proyek DME telah memasuki tahap eksekusi, bukan lagi sekadar wacana.
Dari sisi ekonomi energi, proyek DME dinilai memiliki fundamental yang kuat. Konsumsi LPG nasional diproyeksikan mencapai 10 juta metrik ton pada 2026, sementara produksi dalam negeri baru berkisar 1,3–1,4 juta metrik ton. Ketergantungan impor LPG dalam skala besar selama ini menjadi beban serius bagi neraca perdagangan dan subsidi energi pemerintah.
Dalam konteks tersebut, DME dipandang bukan hanya sebagai proyek industrial, tetapi juga sebagai instrumen strategis fiskal dan geopolitik. Keberhasilan proyek ini berpotensi menekan impor LPG, mengurangi tekanan terhadap APBN, serta memperkuat kemandirian energi nasional.
Komitmen politik terhadap proyek ini semakin menguat seiring rencana Presiden Prabowo Subianto melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi strategis, termasuk DME, pada awal 2026. Langkah ini menandai bahwa hilirisasi energi kini berada dalam prioritas kebijakan nasional tingkat tinggi.
Pengalaman masa lalu menunjukkan kegagalan proyek DME bukan disebabkan keterbatasan teknologi, melainkan lemahnya dukungan politik, ketidakpastian regulasi, serta ketergantungan pada investor asing. Mundurnya Air Products asal Amerika Serikat sebelumnya menjadi contoh nyata tantangan tersebut.
Kini, penjajakan mitra baru dari China menunjukkan perubahan pendekatan pemerintah yang lebih pragmatis, fleksibel, dan berorientasi pada percepatan realisasi.
Dari perspektif pasar, kombinasi harga batu bara yang relatif stabil dan dorongan kuat hilirisasi menciptakan dinamika baru bagi emiten batu bara nasional, khususnya PTBA. Batu bara tidak lagi semata dinilai dari siklus ekspor dan volatilitas harga global, melainkan mulai diposisikan sebagai fondasi industri energi domestik.
Dengan batu bara dijadikan bahan baku substitusi impor LPG, pengaruh fluktuasi harga global terhadap fundamental jangka panjang sektor ini dinilai akan semakin berkurang.
Singkatnya, koreksi tipis harga batu bara dunia di level USD 107 per ton tidak mengganggu narasi besar pemerintah. Justru sebaliknya, kondisi ini menegaskan bahwa proyek DME dibangun atas logika substitusi impor, kemandirian energi, dan stabilitas pasokan, bukan semata mengandalkan reli harga komoditas.
Jika proyek ini benar-benar terealisasi, maka batu bara Indonesia berpotensi bertransformasi dari komoditas ekspor siklikal menjadi pilar utama industri energi nasional. ( Tim Red)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Budayakan komentar yang baik dan sopan. Dilarang spams