
Bangsa yang Rajin Berpendapat, Tapi Sering Lupa Duduk Diam Sejenak
Ruang Opini | WartaIndonesiaNews.co.id

WartaIndonesiaNews.co.id - Opini, Indonesia adalah negeri yang tidak pernah kehabisan pendapat. Bahkan ketika fakta sedang libur, opini tetap masuk kerja lembur. Dalam sehari, satu orang bisa berubah pikiran tiga kali, lalu tetap yakin bahwa semuanya benar sejak awal. Ini bukan soal salah atau benar, melainkan soal betapa cepatnya kita terbiasa menyimpulkan sebelum sempat memahami.
Kata bijak hari ini: berpikir itu penting, tapi berpikir pelan-pelan ternyata masih jarang diminati.
Di ruang publik, kecepatan sering disalahartikan sebagai kecerdasan. Siapa paling cepat bereaksi, dia dianggap paling peduli. Padahal, banyak reaksi lahir bukan dari kepedulian, melainkan dari dorongan ingin terlihat ikut. Akhirnya, ramai memang tercipta, tapi makna sering tertinggal di belakang.
Lucunya, kita hidup di era informasi, namun sering kekurangan kesabaran. Semua ingin instan, termasuk kesimpulan. Kalau bisa salah paham hari ini, kenapa harus mengerti besok? Di sinilah refleksi sosial menjadi penting, agar bangsa ini tidak hanya rajin bicara, tetapi juga terbiasa berpikir ulang.
Nasihat lucu tapi nyata: jangan takut terlihat diam, karena yang paling berisik belum tentu paling paham.
Perubahan zaman berjalan tanpa menunggu kita siap. Kebiasaan lama ditinggalkan, kebiasaan baru diterima, kadang tanpa proses bertanya apakah perubahan itu membawa kebaikan atau sekadar ikut arus. Kita sering lupa bahwa tidak semua yang baru itu perlu, dan tidak semua yang lama itu usang.
Di tengah semua itu, kritik bermunculan di mana-mana. Kritik memang sehat, tapi tanpa empati ia bisa berubah menjadi kebiasaan marah yang dikemas rapi. Ironisnya, banyak yang ingin didengar, tapi sedikit yang mau mendengar. Padahal dialog tidak lahir dari monolog yang diulang-ulang.
Kata bijak versi warung kopi: keras itu gampang, yang susah itu adil.
Bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan kecerdasan. Yang sering kurang hanyalah jeda. Jeda untuk berpikir sebelum bicara, jeda untuk membaca sebelum menyimpulkan, dan jeda untuk memahami sebelum menghakimi. Jeda memang tidak viral, tapi justru di situlah nalar bekerja.
Menjaga kewarasan di ruang publik hari ini mungkin terdengar kuno. Namun justru sikap itulah yang membuat perbedaan. Tidak semua hal harus ditanggapi dengan emosi, dan tidak semua perbedaan perlu dimenangkan. Kadang, memahami sudah cukup tanpa harus bertepuk tangan.
Penutup bijak tapi santai: bangsa yang besar bukan yang paling ribut, tapi yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus ngopi dulu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar