| Anak Kenyang di Sekolah, Orang Tua Berjuang di Rumah |
WartaIndonesiaNews.co.id, Tahun 2026 berjalan dengan ironi yang semakin nyata. Di satu sisi, anak-anak sekolah bisa makan gratis. Di sisi lain, banyak orang tua justru makin sulit mencari makan.
Program makan gratis layak diapresiasi. Namun kehadirannya juga menjadi sinyal bahwa ekonomi keluarga sedang tidak sehat. Sebab jika dapur rumah tangga kuat, negara tak perlu turun langsung mengurus perut anak.
Makan Gratis: Solusi atau Penanda Krisis?
Bagi anak-anak, makan gratis adalah berkah. Mereka belajar dengan perut terisi dan tanpa beban. Namun bagi orang tua, kebijakan ini sering terasa seperti pengakuan diam-diam bahwa penghasilan mereka tak lagi cukup.
Program sosial memang penting, tetapi ia seharusnya bersifat sementara. Ketika bantuan menjadi rutinitas, pertanyaannya bergeser: apa yang salah dengan sistem ekonomi kita?
Bapak-Bapak dan Pekerjaan yang Menghilang
Di luar sekolah, realitas jauh lebih keras. Banyak bapak-bapak berangkat pagi tanpa kepastian pulang membawa uang. Kerja serabutan makin sempit, dagangan makin sepi, proyek makin jarang.
Harga kebutuhan pokok terus naik pelan tapi pasti. Beras, minyak, gas, hingga biaya sekolah tak pernah turun kembali. Sayangnya, penghasilan tidak ikut naik bahkan sering stagnan.
“Anak saya bisa makan di sekolah, tapi saya sering bingung mau makan apa di rumah.”
Ketika Angka Tak Mewakili Kenyataan
Di atas kertas, ekonomi bisa saja disebut tumbuh. Namun angka pertumbuhan sering gagal menceritakan kondisi di lapangan. Yang tumbuh kadang hanya harga, bukan kesejahteraan.
Ekonomi sejatinya bukan soal grafik dan presentasi. Ia adalah soal panci di dapur, isi dompet di akhir bulan, dan kecemasan yang muncul setiap kali tanggal tua datang lebih cepat.
Bantuan Sosial Tidak Cukup
Bantuan sosial penting untuk meredam dampak jangka pendek. Namun tanpa lapangan kerja yang layak, bantuan hanya menjadi penahan rasa sakit. Ia menolong hari ini, tapi tidak menjamin besok.
Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar bantuan, melainkan kesempatan bekerja dengan upah yang masuk akal. Harga boleh naik, asal pendapatan ikut naik.
Harapan di Tengah Tekanan
Meski terhimpit, masyarakat masih bertahan. Gotong royong, saling berbagi, dan solidaritas tetap hidup. Bukan karena hidup mudah, tetapi karena tak ada pilihan lain.
Ekonomi 2026 memberi pelajaran keras: kebijakan harus berpijak pada kenyataan rakyat kecil, bukan sekadar target. Sebab negara kuat bukan dari banyaknya program, melainkan dari warganya yang bisa hidup layak.
Oleh: ARCava


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Budayakan komentar yang baik dan sopan. Dilarang spams