Breaking News

AI READY

Inilah Bupati Magelang Keturunan Yaman Yang Di Eksekusi Oleh Laskar Diponegoro


Di balik sejarah Magelang yang penuh gejolak, sosok Raden Adipati Arya Danuningrat I dikenang sebagai figur penting sekaligus tragis. Ia merupakan bupati pertama Magelang yang diangkat pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles sekitar tahun 1813, saat Inggris menguasai Jawa.

Menurut tradisi keluarga, Danuningrat I disebut memiliki garis keturunan Yaman Hadramaut yang telah lama berakulturasi dengan bangsawan Jawa. Kariernya berkembang dalam struktur birokrasi kolonial, dari Raden Ngabehi Danukromo hingga akhirnya menyandang gelar Raden Adipati Arya Danuningrat I setelah kekuasaan kembali ke tangan Belanda.

Namun, loyalitasnya pada kolonial Belanda pasca-peralihan kekuasaan dari Inggris membuatnya jadi target utama saat Perang Diponegoro (Perang Jawa) meletus Juli 1825. Diponegoro, melalui surat-suratnya, mengecam para bupati yang mendukung Belanda sebagai pengkhianat, dengan ancaman hukuman mati termasuk pemenggalan kepala.

Akhir September 1825, wilayah Kedu jadi medan pertempuran sengit. Pasukan Diponegoro (dikenal sebagai "Bulkiyo" atau laskar santri pejuang), dipimpin tokoh seperti Haji Usman Alibasah, Haji Abdul Kadir, Tumenggung Seconegoro, dan Tumenggung Kertonegoro, menyerang gabungan Belanda dan prajurit bupati lokal.

- 28 September 1825: Bentrokan besar di sekitar Kalijengking (dekat Dimoyo/Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang). Letnan Hilmer (pemimpin Belanda) terluka parah, sembilan serdadu Eropa tewas.

- 30 September 1825 (19 Muharram 1241 H): Danuningrat I tewas di medan laga Kalijengking. Kepalanya dipenggal oleh laskar Diponegoro sebagai simbol hukuman atas dukungannya ke Belanda. Ini mirip nasib bupati Temanggung Ario Sumodilogo yang juga dipenggal dan kepalanya dibawa ke markas Diponegoro di Selarong.

Jasad tanpa kepala dimakamkan di Payaman, Secang, Magelang (sekarang kompleks makam keluarga Danuningrat, dekat Masjid Agung Payaman). Ada versi bahwa kepalanya dibawa sebagai "persembahan" ke pasukan Diponegoro. Putranya, Hamdani bin Alwi Basyaiban, diangkat Belanda sebagai Danuningrat II untuk mengisi kekosongan.

Sebuah pelajaran abadi tentang harga loyalitas di tengah revolusi-darah Yaman bertemu pedang perjuangan Jawa, meninggalkan luka sejarah yang mendalam di Magelang.

Sumber:
Peter Carey (2012); Arsip kolonial Hindia Belanda; Arsip Inggris era Raffles; Situs Pemkab Magelang; Babad Kedu.

#TragediDanuningrat1
(TOEMENGGOENG)

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close