Manajer PT PPA Meninggal Misterius di Mess
WartaIndonesiaNews.co.id, Muara Enim – Suasana duka sekaligus tanda tanya besar menyelimuti lingkungan kerja PT Putra Perkasa Abadi (PPA). Seorang karyawan setingkat manajer dilaporkan meninggal dunia di dalam mess karyawan Site Bangko Tengah PT Bukit Asam, Kabupaten Muara Enim, Sabtu (31/1/2026). Kejadiannya cepat, kabarnya simpang siur, dan sampai sekarang bikin banyak pihak angkat alis.
Informasi yang beredar di internal perusahaan menyebutkan korban ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam mess tempatnya menginap. Lokasinya disebut berada di kamar mandi. Dugaan awal yang beredar, korban terpeleset atau terjatuh. Tapi ya namanya dugaan awal, ceritanya belum satu suara.
“Korban ditemukan di kamar mandi mess. Info awalnya jatuh,” ujar salah satu karyawan PT PPA yang minta namanya disimpan rapat-rapat.
Masalahnya, cerita tidak berhenti di situ. Sumber yang sama juga menyebutkan bahwa korban disebut memiliki riwayat penyakit jantung. Ironisnya, korban tetap menjalani aktivitas kerja di lingkungan pertambangan yang dikenal penuh tekanan, baik fisik maupun mental. Apalagi, korban diketahui baru saja ditempatkan di Site Bangko Tengah setelah sebelumnya bertugas di Kalimantan.
“Dia baru pindah ke sini. Katanya memang ada riwayat jantung, tapi detailnya kami juga belum pegang,” tambah sumber tersebut.
Saat kejadian, korban sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun sayangnya, kondisi korban sudah tidak sadarkan diri dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia oleh pihak medis. Sampai titik ini, publik cuma bisa mengumpulkan potongan puzzle tanpa gambar utuh.
Pihak kepolisian sendiri masih irit bicara. Kapolres Muara Enim AKBP Hendri Syaputra melalui Kasatreskrim AKP Yogie Sugama belum memberikan keterangan resmi saat dikonfirmasi terkait penyebab kematian korban. Masih sunyi, masih tanda tanya.
Sorotan keras justru datang dari kalangan aktivis buruh. Ketua Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Palembang, Ali Hanafiah, menilai kasus ini tidak boleh dianggap sekadar musibah biasa yang lewat begitu saja. Menurutnya, ada persoalan serius yang harus dibuka secara terang-benderang.
“Ini harus diusut tuntas. Jangan berhenti di kata ‘sakit’ atau ‘jatuh’. Harus jelas, apakah ada faktor kerja atau insiden lain,” tegas Ali, Senin (2/2/2026).
Ali juga menyinggung soal penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di sektor pertambangan yang kerap terdengar bagus di atas kertas, tapi minim terasa di lapangan. Beban kerja tinggi, tekanan target, dan kondisi kesehatan pekerja sering kali jadi kombinasi berbahaya, apalagi untuk level manajerial.
“Perusahaan jangan cuma ngejar produksi dan cuan. Kesehatan pekerja itu tanggung jawab mutlak. Medical check-up berkala dan penempatan kerja sesuai kondisi kesehatan jangan cuma jadi formalitas laporan,” ujarnya.
Ia pun mendesak Dinas Tenaga Kerja serta instansi terkait untuk turun langsung melakukan investigasi menyeluruh. Termasuk audit penerapan K3 di PT PPA sebagai salah satu kontraktor pertambangan di Site Bangko Tengah PT Bukit Asam. Menurutnya, transparansi adalah kunci agar kejadian serupa tidak terus berulang dan cuma jadi statistik tahunan.
Kasus ini kini menjadi pengingat pahit bahwa di balik angka produksi dan target tambang, ada nyawa manusia yang seharusnya jadi prioritas utama.
oleh: ARCava
0 Komentar