
Banjarnegara, wartaindonesianews.co.id -Dusun Domas yang berada di Desa Danakerta bukan sekadar wilayah administratif di sudut pedesaan. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan jejak sejarah, kisah tutur para leluhur, serta nilai-nilai kearifan lokal yang terus bertahan di tengah arus modernisasi.
Asal-usul Dusun Domas menjadi cerita menarik yang tak hanya layak dikenang, tetapi juga direnungi sebagai bagian dari identitas masyarakatnya.
Secara tutur lisan yang berkembang di masyarakat, nama “Domas” diyakini berasal dari istilah dalam bahasa Jawa kuno yang bermakna “dua emas” atau sesuatu yang bernilai tinggi dan berharga. Ada pula yang meyakini bahwa kata “Domas” merujuk pada simbol kemakmuran dan harapan, menggambarkan kesuburan tanah dan limpahan hasil bumi yang dahulu menjadi daya tarik para pendatang untuk menetap.
Konon, Dusun Domas bermula dari sebuah babat alas-tradisi membuka hutan untuk dijadikan pemukiman. Para leluhur yang pertama kali datang dipercaya sebagai sosok-sosok pekerja keras yang berani merintis kehidupan di tengah belantara.
Dengan alat sederhana dan semangat kebersamaan, mereka membuka lahan, membangun rumah panggung, serta menata kehidupan sosial yang dilandasi nilai gotong royong.
Tak sedikit pula cerita yang menyebut bahwa Dusun Domas dahulu menjadi jalur persinggahan para pedagang atau pengembara yang melintasi wilayah tersebut.
Letaknya yang strategis dan tanahnya yang subur menjadikan kawasan ini berkembang perlahan menjadi pemukiman tetap. Dari sanalah tumbuh komunitas kecil yang kemudian menjadi bagian dari Desa Danakerta.
Asal-usul Dusun Domas menjadi cerita menarik yang tak hanya layak dikenang, tetapi juga direnungi sebagai bagian dari identitas masyarakatnya.
Secara tutur lisan yang berkembang di masyarakat, nama “Domas” diyakini berasal dari istilah dalam bahasa Jawa kuno yang bermakna “dua emas” atau sesuatu yang bernilai tinggi dan berharga. Ada pula yang meyakini bahwa kata “Domas” merujuk pada simbol kemakmuran dan harapan, menggambarkan kesuburan tanah dan limpahan hasil bumi yang dahulu menjadi daya tarik para pendatang untuk menetap.
Konon, Dusun Domas bermula dari sebuah babat alas-tradisi membuka hutan untuk dijadikan pemukiman. Para leluhur yang pertama kali datang dipercaya sebagai sosok-sosok pekerja keras yang berani merintis kehidupan di tengah belantara.
Dengan alat sederhana dan semangat kebersamaan, mereka membuka lahan, membangun rumah panggung, serta menata kehidupan sosial yang dilandasi nilai gotong royong.
Tak sedikit pula cerita yang menyebut bahwa Dusun Domas dahulu menjadi jalur persinggahan para pedagang atau pengembara yang melintasi wilayah tersebut.
Letaknya yang strategis dan tanahnya yang subur menjadikan kawasan ini berkembang perlahan menjadi pemukiman tetap. Dari sanalah tumbuh komunitas kecil yang kemudian menjadi bagian dari Desa Danakerta.

Foto : Domas Sekarang Masjid Al-Munawaroh Berdiri Kokoh
Sebagai bagian dari Desa Danakerta, Dusun Domas tumbuh dalam dinamika sosial yang khas pedesaan: rukun, religius, dan menjunjung tinggi adat istiadat.
Tradisi selametan, kerja bakti, hingga peringatan hari-hari besar keagamaan menjadi perekat hubungan antar warga. Nilai kebersamaan inilah yang menjadi “emas” sesungguhnya dari makna Domas.
Dalam pandangan penulis, asal-usul Dusun Domas bukan sekadar soal kapan dan siapa pendirinya. Lebih dari itu, ia adalah refleksi tentang bagaimana sebuah komunitas lahir dari keberanian, kerja keras, dan semangat kolektif.
Di tengah perubahan zaman, kisah-kisah ini penting untuk terus diwariskan kepada generasi muda agar mereka tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Dusun Domas hari ini mungkin telah berubah - jalan lebih baik, rumah lebih permanen, teknologi mulai masuk ke ruang-ruang keluarga.
Namun ruh kebersamaan yang diwariskan para leluhur tetap menjadi fondasi utama.
Sebab pada akhirnya, sebuah dusun bukan hanya tentang wilayah, melainkan tentang cerita, perjuangan, dan harapan yang hidup di dalamnya.
Pewarta : Nur S
0 Komentar