"Apakah selama ini saya menyembah Tuhan, atau hanya sedang menyembah budaya bangsa lain?"
Pertanyaan ini seharusnya menghantui setiap sujud kita. Seharusnya ia bergetar di setiap tarikan napas kita. Sebab, seringkali tanpa sadar, kita telah membangun "berhala" baru dari kain, dari bahasa, dan dari tata krama bangsa yang jaraknya ribuan mil dari tanah kelahiran kita.
Ketika Tuhan Dipenjara dalam Kamus
Kau sedang mengecilkan kemahatahuan-Nya.
Apakah Tuhan begitu lemah hingga Ia butuh penerjemah untuk mengerti rintihan jiwa seorang manusia Indonesia?
Tuhan menciptakan lidahmu dengan logat Nusantara yang indah. Tuhan menempatkanmu di tanah yang hijau royo-royo, bukan di padang pasir yang gersang.
Menolak bahasamu sendiri demi terlihat "lebih suci" di hadapan-Nya adalah sebuah bentuk ketidakpercayaan diri yang akut. Kita sedang menyembah estetika bahasa, bukan menyembah Essensi dari Yang Maha Berkata-kata.
Berhala Berwujud Busana
Kita sering merasa lebih "beriman" ketika tubuh kita terbungkus kain yang asing bagi iklim tropis ini.
Kita memandang rendah kebaya, sarung, dan kain tenun yang ditenun dengan doa oleh nenek moyang kita, hanya karena mereka tidak mirip dengan pakaian penduduk di jazirah sana.
Inilah ironinya: Kita merasa sedang menuju surga, padahal kita hanya sedang mengikuti tren mode abad pertengahan bangsa lain.
Jika ukuran kemuliaan hanyalah selembar jubah, maka kita telah merendahkan Tuhan menjadi sekadar "Auditor Fashion".
Kita lebih takut tidak dianggap mirip dengan orang Arab daripada takut kehilangan kasih sayang terhadap sesama manusia di tanah air sendiri.
Geografi Bukanlah Ukuran Kesucian
Tuhan itu Maha Luas, melampaui segala koordinat peta. Namun, kita sering berperilaku seolah-olah Tuhan hanya "berkantor" di satu titik koordinat saja.
Kita menganggap debu di sana lebih mulia daripada tanah subur di sini.
Kita menganggap budaya mereka adalah wahyu, sementara budaya kita adalah noda.
Pikirkanlah dengan jernih: Jika Tuhan ingin kau menjadi orang Arab, Ia tidak akan menakdirkanmu lahir dari rahim ibu pertiwi Indonesia.
Menolak jati dirimu sebagai orang Nusantara demi meniru bangsa lain adalah bentuk pengingkaran terhadap takdir Tuhan atas penciptaanmu.
Memulangkan Tuhan ke dalam Hati
Sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa peniru. Berhenti merasa menjadi "warga negara kelas dua" di hadapan Tuhan hanya karena kita tidak mengadopsi budaya luar secara total.
Tuhan yang Maha Besar tidak butuh paspor untuk masuk ke dalam jiwamu. Dia tidak butuh kau menjadi orang asing untuk bisa mencintai-Nya.
Luaskan pikiranmu, hancurkan kotak-kotak dogma yang menyempitkan kemahabesaran-Nya.
Temukan Dia di dalam kejujuranmu, dalam kearifan lokalmu, dan dalam kebanggaanmu sebagai bangsa yang bermartabat.
"Jika kau harus kehilangan jati dirimu sebagai sebuah bangsa hanya untuk menemukan Tuhan, maka sebenarnya yang kau temukan bukanlah Tuhan, melainkan bayang-bayang kebesaran bangsa lain yang kau pertuhankan."
Pewarta : WG



Tidak ada komentar:
Posting Komentar