• Jelajahi

    Copyright © Warta Indonesia News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    AI System Offline WINews

    Simfoni Regenerasi: Menjemput Cahaya di Labirin Parkinson

    Warta Indonesia News
    21 Feb 2026, 18:46 WIB

    Oleh: dr. H. Agus Ujianto, M.Si. Med., Sp.B., FISQua (Pegiat Stem Cell Autologus Fresh Manipulation)

    Semarang, wartaindonesianews.co.id – Di tengah sunyinya perjuangan para penyintas Parkinson, ada kisah tentang tangan yang mulai bergetar, langkah yang melambat, dan harapan yang kadang terasa memudar. Penyakit ini bukan sekadar gangguan gerak, melainkan perjalanan panjang yang menguji ketabahan pasien dan keluarga.

    Secara medis, Penyakit Parkinson terjadi akibat berkurangnya sel saraf penghasil dopamin di bagian otak bernama Substantia nigra. Dopamin adalah zat kimia penting yang mengatur koordinasi gerak tubuh. Ketika produksinya menurun, tubuh perlahan kehilangan kendali atas ritme alaminya.

    Selama ini, terapi konvensional seperti penggunaan Levodopa menjadi andalan untuk membantu menggantikan dopamin yang hilang. Namun, pendekatan tersebut lebih bersifat simptomatik meredakan gejala, bukan menghentikan proses degenerasi yang terus berjalan.

    Harapan dari Dalam Tubuh Sendiri


    Di tengah keterbatasan itu, dunia kedokteran mulai melirik pendekatan regeneratif berbasis sel tubuh sendiri, atau yang dikenal sebagai Autologous Cell Therapy. Salah satu teknik yang dikembangkan adalah Autologous Cocktail Bone Marrow Aspirate (BMA), yakni pengambilan sel dari sumsum tulang pasien untuk kemudian dimanfaatkan kembali sebagai terapi.

    Pendekatan ini berpijak pada prinsip sederhana namun mendalam: tubuh memiliki potensi penyembuhan alami. Di dalam sumsum tulang terdapat berbagai sel progenitor dan sel punca yang diyakini memiliki kemampuan membantu proses perbaikan jaringan.

    Secara konsep, terapi autologus memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya meminimalkan risiko penolakan imunologis karena sel yang digunakan berasal dari tubuh pasien sendiri. Pendekatan “fresh manipulation” atau manipulasi minimal juga bertujuan menjaga kualitas dan integritas sel tetap optimal sebelum diberikan kembali kepada pasien.

    Menembus Sawar Otak


    Salah satu tantangan besar dalam terapi gangguan saraf adalah keberadaan Blood-Brain Barrier (BBB), lapisan pelindung alami otak yang sangat selektif. Untuk itu, dalam praktik klinis tertentu, pendekatan intratekal - melalui cairan serebrospinal-digunakan agar terapi dapat menjangkau sistem saraf pusat secara lebih langsung.

    Di sinilah konsep regeneratif bekerja: sel-sel tersebut diharapkan dapat berperan melalui mekanisme biologis kompleks, termasuk pelepasan faktor pertumbuhan saraf yang mendukung kelangsungan hidup neuron.

    Tetap Mengedepankan Etika dan Ilmiah


    Meski membawa harapan baru, pendekatan terapi regeneratif tetap harus ditempatkan dalam koridor ilmiah, etik, dan regulasi yang ketat. Uji klinis, standar mutu, serta pengawasan medis menjadi fondasi penting agar inovasi tidak melampaui batas keselamatan pasien.

    Bagi para dokter dan tenaga kesehatan, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa dunia medis terus bergerak. Dari sekadar mengelola gejala menuju upaya restoratif yang lebih menyeluruh.

    Harapan yang Tak Pernah Padam


    Bagi penyintas Parkinson dan keluarga, setiap kemajuan adalah cahaya kecil di ujung lorong panjang perjuangan. Kedokteran mungkin belum mampu menjanjikan kesembuhan total, tetapi upaya mencari solusi yang lebih baik adalah bentuk empati dan komitmen terhadap kemanusiaan.

    Simfoni regenerasi ini bukan sekadar wacana ilmiah, melainkan ikhtiar menghadirkan kembali harapan. Di antara tremor dan langkah yang tertatih, selalu ada ruang bagi cahaya untuk kembali menyala.

    Pewarta : Nur S

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar