Oleh: dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med.,S.pB., FISQUa Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang
SEMARANG, WINews - (20/03/2026)Perayaan Idul Fitri yang seharusnya penuh suka cita kembali diwarnai insiden luka bakar akibat petasan.Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, sejumlah korban harus mendapatkan perawatan intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena luka serius yang merusak jaringan kulit.
Menjawab tantangan tersebut, dunia medis menghadirkan inovasi terbaru melalui terapi berbasis sel dari sumsum tulang atau Autologous Bone Marrow-Derived Mononuclear Cells (BM-MNCs).Metode ini dinilai mampu mempercepat penyembuhan luka bakar secara signifikan sekaligus meminimalisir risiko cacat permanen.
Ketua Umum PREDIGTI sekaligus Direktur RSI Sultan Agung Semarang, dr. H. Agus Ujianto, menjelaskan bahwa terapi ini memanfaatkan sel penyembuh alami yang diambil langsung dari tubuh pasien sendiri.
“Ini seperti mengerahkan ‘pasukan sel’ dari dalam tubuh untuk memperbaiki jaringan yang rusak secara cepat dan alami,” ujarnya.
Dalam perspektif Islam, tulang memiliki peran penting dalam pembentukan tubuh manusia. Hal ini juga sejalan dengan temuan medis modern bahwa sumsum tulang mengandung sel punca (stem cell) yang berperan besar dalam proses regenerasi jaringan.
Secara ilmiah, terapi ini bekerja melalui beberapa mekanisme utama. Pertama, membangun kembali pembuluh darah baru (angiogenesis) agar suplai oksigen dan nutrisi ke area luka kembali optimal.
Kedua, sel tersebut melepaskan faktor pertumbuhan yang merangsang regenerasi kulit. Ketiga, mengurangi peradangan sehingga mempercepat pemulihan.
Terakhir, membantu pembentukan jaringan kulit yang lebih elastis guna mencegah cacat permanen.
Keunggulan lain dari metode ini adalah prosesnya yang cepat melalui teknik fresh manipulation atau point-of-care. Sel sumsum tulang diambil dari tulang panggul pasien, kemudian diproses menggunakan alat khusus dan langsung diaplikasikan ke area luka dalam waktu singkat.
“Karena menggunakan sel pasien sendiri, terapi ini aman, tidak menimbulkan penolakan, serta sesuai dengan prinsip halal,” tambahnya.
Berbagai penelitian internasional turut mendukung efektivitas metode ini. Studi dalam jurnal Burns menunjukkan terapi ini mampu menekan peradangan pada pasien luka bakar berat, sementara Journal of Surgical Research mencatat percepatan signifikan dalam proses penutupan luka.
Melalui inovasi ini, PREDIGTI berupaya mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan kemajuan teknologi medis modern. Masyarakat pun diimbau untuk merayakan Idul Fitri secara bijak tanpa penggunaan petasan yang berisiko tinggi.
“Luka bakar bukan lagi akhir dari segalanya. Dengan teknologi ini, harapan sembuh lebih cepat dan kualitas hidup pasien bisa kembali optimal,” pungkas dr. Agus.
Sebagai informasi, masyarakat yang membutuhkan konsultasi lebih lanjut dapat menghubungi sekretariat PREDIGTI atau layanan medis terkait.
Pewarta: Nur S
.jpeg)
0 Komentar