
Oleh : Dr. Agus Ujianto, M.Si, Med.,SpB, FISQUa
Semarang, WINews – Transformasi dalam dunia kesehatan bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Di tengah kompetisi layanan medis yang semakin ketat, rumah sakit termasuk rumah sakit berbasis yayasan Islam dituntut melakukan pembenahan menyeluruh. Namun, perubahan arah kebijakan kerap disalahartikan sebagai bentuk “kedzaliman” oleh sebagian pihak internal yang belum sepenuhnya memahami urgensi transformasi tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa, yang menyoroti pentingnya reposisi manajemen rumah sakit Islam agar tetap relevan, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Antara Profit dan Amanah
Dalam praktiknya, manajemen rumah sakit Islam tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan perusahaan murni yang berorientasi pada laba. Jika perusahaan modern bergerak dengan logika kapitalisme berbasis Return on Investment (ROI), maka rumah sakit di bawah naungan yayasan memiliki misi yang lebih kompleks: menjaga sustainabilitas dakwah dan pelayanan umat.
Instrumen manajemen seperti EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) atau Cash Recovery Ratio (CRR) tetap digunakan. Namun, orientasinya bukan untuk memperkaya pemilik saham, melainkan memastikan keberlangsungan pelayanan termasuk subsidi pasien dhuafa, peningkatan fasilitas ibadah, serta pengembangan teknologi medis masa depan.
“Efisiensi bukan bentuk keserakahan, tetapi bagian dari menjaga amanah harta umat agar institusi tidak kolaps,” tegasnya.
Efisiensi sebagai Tanggung Jawab Bersama
Transformasi manajemen tidak hanya menjadi tanggung jawab direktur atau jajaran keuangan. Seluruh unit layanan memegang peran penting dalam menjaga kesehatan finansial rumah sakit.Unit kritis seperti UGD, kamar operasi, ICU, dan rawat inap dituntut meningkatkan produktivitas dan presisi pelayanan. Unit penunjang seperti laboratorium, farmasi, dan gizi juga memiliki peran strategis dalam pengelolaan stok, efisiensi logistik, serta pengendalian arus kas.
Sementara itu, unit operasional seperti transportasi dan pemulasaran jenazah turut berkontribusi dalam penghematan biaya. Bahkan unit pendidikan dan riset didorong untuk menghadirkan inovasi medis yang benar-benar memiliki nilai tambah nyata bagi pasien, bukan sekadar proyek mahal tanpa output strategis.
Humas Bukan Sekadar Penyampai Informasi
Dalam konteks perubahan, peran humas menjadi semakin vital. Humas tidak lagi hanya bertugas menyampaikan rilis berita, melainkan menjadi jembatan komunikasi antara kebijakan strategis pimpinan dan pemahaman staf di lapangan.Kebijakan yang berbasis angka dan laporan fiskal harus diterjemahkan dalam bahasa yang membumi, agar tidak memunculkan prasangka atau spekulasi negatif. Tanpa komunikasi yang efektif, ruang kosong informasi sering kali diisi oleh isu dan narasi yang menyesatkan.
Mengurai Akar Perlawanan
Menurut Dr. Agus, resistensi terhadap perubahan sering kali berakar pada fenomena psikologis seperti cognitive dissonance--ketika seseorang merasa tidak nyaman keluar dari zona aman dan kemudian mencari pembenaran dengan menyalahkan pimpinan.Ia mengidentifikasi beberapa tipologi sikap yang kerap muncul dalam masa transisi:
Defisit literasi perubahan, yakni mereka yang menolak karena belum memahami urgensi digitalisasi atau efisiensi sistem pembiayaan kesehatan.
Perilaku kontraproduktif, yang tampak patuh di forum resmi namun menyebarkan narasi negatif di ruang informal.
Bias negatif, yaitu kecenderungan membesar-besarkan satu kesalahan kecil untuk mendiskreditkan keseluruhan visi besar organisasi.
Fenomena ini, jika tidak dikelola dengan bijak, dapat mengganggu stabilitas internal dan memperlambat laju transformasi.
Kepemimpinan Empatik di Tengah Badai Isu
Menghadapi situasi tersebut, pendekatan emosional yang matang menjadi kunci. Pemimpin rumah sakit dituntut memiliki kecerdasan emosional (Emotional Intelligence/EQ) yang tinggi, serta mengedepankan komunikasi transparan sebagaimana prinsip dalam teori change management.Dedikasi masa lalu para karyawan tetap harus dihargai. Namun di saat yang sama, arah baru organisasi tidak bisa ditawar. Rumah sakit Islam memiliki tanggung jawab ganda tidak hanya kepada regulator dan pasien, tetapi juga kepada nilai-nilai moral dan amanah umat.
Transformasi manajemen bukanlah upaya menekan, melainkan proses penyaringan untuk memastikan hanya komitmen dan integritas yang bertahan. Di tengah badai isu, perubahan arah “kiblat” manajemen menjadi bagian dari ikhtiar besar menjaga keberlangsungan layanan kesehatan berbasis nilai Islam -- agar tetap kokoh, profesional, dan berpihak pada kemaslahatan umat.
Pewarta : Nur S
0 Komentar